Monday, 20 June 2011

WAKTU LUANG


"Kacau, sumpek, bete (bosan total),capeeek!" Demikian seorang ibu memulai ceracaunya ketika bertemu ibu-ibu lain disebuah warung saat berebut membeli sayuran. Mulutnya bersungut-sungut sementara hidungnya kembang kempis. Wajahnya menggambarkan kekesalan yang sungguh tidak dibuat-buat. " Bagaimana tidak", katanya melanjutkan, "semua dikerjakan sendiri. Mulai dari cucian yang menggunung, mana mencuci dengan cara manual lagi! piring-piring kotor yang menumpuk, rumah yang berantakan, anak-anak yang rewel, pakaian yang mesti disetrika., makanan yang mesti disiapkan. Semuanya harus dikerjakan dengan segera. Butuh perhatian dan energi ekstra, katanya menyudahi diiringi helaan nafas panjang.

KLASIFIKASI


Minggu yang lalu Bu Wit menceritakan pada saya perihal putri kembarnya, Zahra, yang baru berusia 7 tahun, sudah piawai sekali melipat dan menyusun pakaian. Ia dapat melipat dengan rapi, lalu menyusun dan mengelompokkan dengan teratur antara baju, rok, celana, celana dalam, kaos dalam,jilbab dan sebagainya. Ia juga mengelompokkan antara pakaiannya sendiri dengan pakaian Zahri, saudara kembarnya.

HATI-HATI


Suatu hari, diawal PAUD An Nahl berdiri, saya pernah diingatkan oleh Bu Netti, teman ibu saya, "kalau jadi guru hati-hati Bet, jan sampai dek maja anak urang, anak awak lupo, banyak anak guru nan ndak manjadi,"begitu katanya. Kalau mau jujur peringatan bu Netti itu ada benarnya juga. Memang jamak ditemui sekarang anak-anak guru (maaf tidak semua lho) yang " terlibat kenakalan, seperti terlibat narkoba, pornografi, ngebut dijalanan, racing di jalan raya kala tengah malam, putus sekolah, dan membuat keonaran di masyarakat" atau bermasalah dengan karakternya seperti kurang percaya diri, tidak mandiri, tidak bisa bertanggung jawab, sampai ada yang stress bahkan harus dibawa ke rumah sakit jiwa.
Banyak ditemui anak-anak remaja hatta sudah tamat SMA tidak bisa menentukan sendiri apa yang akan dilakukannya, atau kemana akan melanjutkan pendidikan. Ketika orang tua bertanya, "Kamu akan melanjutkan sekolah dimana?" si anak menjawab "terserah mama saja". Jadilah mama, yang sangat sayang dengan anaknya, yang kasak kusuk memilih, mencari dan menentukan kemana atau apa yang akan dilakukan anak gadis dan anak bujangnya. 

IBU GURU NOMOR SATU


Seringkali ibu-ibu yang mengantarkan anaknya untuk ikut berbagai kursus atau les mata pelajaran disekolah dengan saya mengeluh, kalau anak-anak mereka tidak mau belajar dengan ibunya,"Banyak tingkah polahnya kalau belajar dengan saya,"begitu akunya.
Sebenarnya saya kurang begitu yakin dengan ungkapan ibu-ibu tersebut. Jangan-jangan itu hanya mitos yang telah diucapkan para ibu secara turun temurun. Biasanya untuk ibu-ibu yang dekat dengan saya, atau ibu-ibu yang saya bisa berdialog dengan mereka, atau ia punya aura keinginan untuk belajar atau membaca, saya larang ia untuk me"les"kan anaknya dengan saya (aneh ya! bukannya ingin anak lesnya banyak). Saya ulas mereka dengan pengertian, saya bagi pengetahuan bagaimana cara mengajarkannya kepada anak- walau yang saya punya juga tak seberapa- atau saya pinjamkan buku-buku penunjang terkait. Dan yang lebih istimewa adalah bahwa, pahala mengajarkan anak sendiri dengan ilmu yang bermanfaat akan diperoleh sang ibu sendiri, bukan orang lain.

SAMBALADO UKHUWAH



A friend is someone
who knows the song of your heart
and sing it back when you have forgotten the words

MOMPUOK

Ni Lili dan Inda membawa masing-masing sebakul nasi, Bet “mbuek sambalado”, ni Susi (almh) biasa membawa ikan asin ukuran jumbo 'badagiang banyak dan lomak, (digantikan) Neneng menggoreng ikan baguak dan sapek, ni Mun membawa sayur mayur, rebus daun singkong,atau ditambah Inda dengan rebus buncis atau terung. Iwir membawa rebus telur, ni Yet membawa goreng kerupuk ditambah buah segar. Maka lengkaplah menu sambalado ukhuwah kita.


INGIN ANAK ANDA CEPAT PANDAI MEMBACA?


Apa usaha yang sudah anda lakukan? Apakah anda menyediakan fasilitasnya? Apakah anda memarahinya ketika anda mengajarinya dalam beberapa menit, namun ia belum juga menguasai seperti yang anda harapkan? Apakah anda mengajarkannya dalam kondisi anak anda tertekan? Berapa banyak peraturan yang anda jejalkan sebelum ia memegang buku?
Setiap orang tua hampir dapat dipastikan akan menjawab pertanyaan judul diatas dengan “YA”. Namun terkadang ada hal-hal yang sering terlupakan ketika proses pengajaran tengah berlangsung. Ada hak-hak anak yang terampas karena keinginan dan target-target orang tua yang harus dicapai, seperti hak anak untuk bermain, bergembira dan tertawa, tidak terbebani dan memberatkan, tidak terpaksa dan memaksa dan seterusnya, dan seterusnya.


SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB?



Beberapa waktu yang lalu kita merasa tersentak oleh berita tentang seorang anak bau kencur bernama Sandra berumur empat tahun yang dengan entengnya menjawab bahwa ia telah terbiasa menghabiskan 3 bungkus rokok dalam sehari. Dijarinya yang mungil terselip sebatang rokok yang menyala. Ia juga mengaku telah terbiasa menenggak minuman berakohol yang disuguhi oleh para preman di pangkalan ojek.
Peristiwa itu terjadi jauh dari daerah kita, namun sekarang peristiwa-peristiwa senada terjadi di kampung kita, dekat dengan rumah kita, bahkan melibatkan anak-anak kita sendiri. Nauzubillahi min zaalik. Dulu kita biasa mendengar kata-kata kenakalan remaja. Namun sekarang bukan hanya kenakalan remaja tapi sudah merambah kepada “kenakalan” anak-anak bocah kemaren sore.
Disebuah warung kopi, anak-anak bocah baru duduk di kelas empat dan lima SD, terlibat dengan kegiatan “ NGELEM” (menghisap lem) yang dilanjutkan dengan merokok, layaknya orang dewasa.... hik...hik.



Thursday, 16 June 2011

BAITI MADROSATI


BACKGROUND

Kita mengenal istilah HS/HE sejak Mei 2005, dan baru melaksanakannya secara "resmi" sejak Januari 2007, walaupun sebenarnya secara praktek kita sudah mulai semenjak si sulung lahir tahun 2002. Sempat juga tergoda untuk memasukkan si sulung ke TK formal, namun hanya bertahan selama lima bulan.
Godaan itu sebenarnya dipicu oleh aku sendiri, emaknya. Saya beralasan kepada ayahnya, bahwa barangkali ada hal-hal yang tidak bisa “kita” ajarkan kepada anak yang kan diperolehnya dari sekolah formal. Setelah berhari-hari beragumentasi, akhirnya ayahnya mundur satu langkah dan menyetujuinya, mungkin untuk memberi pembelajaran kepada saya dan memberi pengalaman kepada si sulung.
Dan benar saja, hampir setiap pagi terjadi “morning disaster”, teriakan agar segala sesuatunya dikerjakan dengan cepat dan buru-buru, agar tidak terlambat dan ayahnya juga tidak telat ke kantor. Si sulung yang matanya belum betul-betul melek mengerjakan segala sesuatunya dengan begitu lambat dan ogah-ogahan, sehingga seringkali mengundang emosi. 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...