Monday, 20 June 2011

HATI-HATI


Suatu hari, diawal PAUD An Nahl berdiri, saya pernah diingatkan oleh Bu Netti, teman ibu saya, "kalau jadi guru hati-hati Bet, jan sampai dek maja anak urang, anak awak lupo, banyak anak guru nan ndak manjadi,"begitu katanya. Kalau mau jujur peringatan bu Netti itu ada benarnya juga. Memang jamak ditemui sekarang anak-anak guru (maaf tidak semua lho) yang " terlibat kenakalan, seperti terlibat narkoba, pornografi, ngebut dijalanan, racing di jalan raya kala tengah malam, putus sekolah, dan membuat keonaran di masyarakat" atau bermasalah dengan karakternya seperti kurang percaya diri, tidak mandiri, tidak bisa bertanggung jawab, sampai ada yang stress bahkan harus dibawa ke rumah sakit jiwa.
Banyak ditemui anak-anak remaja hatta sudah tamat SMA tidak bisa menentukan sendiri apa yang akan dilakukannya, atau kemana akan melanjutkan pendidikan. Ketika orang tua bertanya, "Kamu akan melanjutkan sekolah dimana?" si anak menjawab "terserah mama saja". Jadilah mama, yang sangat sayang dengan anaknya, yang kasak kusuk memilih, mencari dan menentukan kemana atau apa yang akan dilakukan anak gadis dan anak bujangnya. 

 Tersebutlah si Ilham, baru duduk di tahun pertama sebuah universitas, harus diantar ayahnya ke rumah sakit jiwa karena tindakannya sudah diluar batas kemampuan orang tuanya untuk mengontrol. Sering merusak dan membahayakan orang lain, memecahkan semua kaca rumah, menaburi racun dimakanan, menghancurkan mobil dan lainnya. Usut punya usut ternyata orang tua juga penyebabnya. Keinginan si Yanto seringkali dibatasi dengan alasan memboroskan uang, bahkan untuk membelanjakan uang tabungannya sendiripun ia juga tak punya kebebasan, sedangkan usianya bukan terbilang kanak-kanak lagi. Seperti keinginannya untuk mempunyai hand phone atau keinginannya untuk mengendarai sepeda motor sendiri ke sekolah tak dapat ia wujudkan seperti kebanyakan anak remaja seusianya. Barangkali banyak hal-hal kecil lain yang tidak sesuai dengan keinginan hati kecilnya, namun karena ia terbilang anak yang patuh, penurut dan tidak ingin menjadi anak yang durhaka, ia ikuti saja keinginan dan kemauan orang tuanya. Akan tetapi sungguh ironi yang terjadi ia tak tahan, stres, dan harus diantar ke Gadut.
Hal- hal tersebut tentu tak kan terjadi kalau anak-anak sudah dilatih dan didik untuk mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri semenjak usia dini. Melatihnya membuat keputusan sendiri, menghargai hasil pilihan dan keputusannya, walau kadang mungkin tak sesuai dengan harapan dan target orang tua. Contoh sepele, namun berpengaruh besar kelak kala dewasa misalnya membolehkan anak memakai sepatu sendiri, atau membawa sendiri tas sekolahnya, atau menentukan sendiri pakaian yang akan dipakainya ke pesta, dan lain sebagainya. Selanjutnya memberi tanggung jawab untuk membereskan sendiri mainannya sehabis main, atau memberi tanggung jawab seperti mencuci piring, atau menyapu, atau membereskan meja makan atau mencuci -sesuaikan tugas yang diberikan dengan tingkat umurnya. Seterusnya jangan lupa memberi reward apapun hasilnya. Orang tua sering lupa atau berdalih tidak sempat,atau keburu waktu, atau sibuk untuk melakukan hal-hal sepele yang berpengaruh dahsyat itu.
Tidak hanya guru, orang tua yang berpendidikan tinggipun sepertinya juga harus berhati-hati dalam mendidik anak-anaknya, karena mereka pun berpotensi gagal dalam medidik dan membentuk karakter anak. Kenapa? Ibu-ibu yang berpendidikan tinggi galib memberikan pendidikan kepada anak-anaknya dengan kualitas SD, karena pendidikan anak diserahkan pada pembantu. Mereka memilih menerapkan ilmu yang telah mereka peroleh, diluar rumah, dengan alasan agar tak sia-sia biaya besar yang telah dikeluarkan untuk kuliah dahulu.
Tersebutlah seorang ibu, yang baru saja memperoleh gelar master, baru keluar dari ruangan seorang psikolog, mengkonsultasikan tentang anaknya yang berusia 3 tahun, yang kemampuan komunikasi dan perkembangan motorik halusnya setara dengan anak yang berusia kurang dari dua tahun demikian vonis sang psikolog. Psikolog itu mengatakan kalau si anak, harus diterapi. Si ibu tidak percaya dengan diagnosa psikolog tersebut, anaknya hanya tipe pemalu dan tak perlu dirisaukan. Ia beranggapan bahwa pasti psikolog tersebut salah. Waktu terus berlalu. Si ibu tetap sibuk bergelut dengan aktifitasnya. Sang anak pun tumbuh dalam asuhan pembantu yang asyik menjelajah saluran demi saluran televisi. Ia dibesarkan dibalik tembok rumah yang tinggi dan pagar yang terkunci rapat. Tiba waktunya si anak masuk sekolah TK. Si anak tetap tidak mau sekolah. Namun si ibu menganggap itu hal biasa.Toh ia dulu juga tak sekolah TK, tapi tetap bisa kuliah di universitas ternama dengan jurusan yang bergengsi.
Si ibu baru resah tatkala si anak tetap tak mau sekolah di usianya yang sudah cukup untuk masuk Sekolah Dasar. Ia tak bisa berteman dan bersosialisasi. Sekolah demi sekolah telah ia datangi namun tak ada yan mau menerima si anak dengan alasan si anak belum siap, bahkan ada yang menyarankan agar si anak disekolahkan di sekolah khusus hiks...hiks.
Apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur. Sungguh ironi sekali sang ibu yang berpendidikan tinggi tak menyadari (mungkin bukan tak tahu) bahwa pendidikan bukan hanya dimulai dari Sekolah Dasar. Akan tetapi usia prasekolah merupakan masa-masa golden age yang tak kan terulang kembali. Masa dimana perkembangan otak anak mencapai tingkat maksimal. Dimasa inilah peletakan niali-nilai moral, karakter, akhlaq, sosialisasi, kognitif, bahasa, seni dan seterusnya.
Duhai para ibu yang sibuk berkarir- pedagang, bussineswomen,guru, pegawai negeri,petani, atau apapun profesimu berhati-hatilah. Masalah tak kan selesai begitu saja ketika kita menyerahkan anak dibawah asuhan pembantu atau baby sitter. Pendidikan anak adalah tetap tanggung jawab orang tua. Orang tualah yang berkewajiban memperkenalkan anak pada penciptaNya. Orang tualah yang berkewajiban untuk menuntun mereka menentukan arah yang benar dalam kehidupan. Sebab anak tak kan menjadi manusia seutuhnya manakala hanya diberi makan. Manusia seutuhnya adalah satu kesatuan yang terdiri dari ruh, jasad dan jiwa yang kuat. Jangan biarkan anak tumbuh bagai robot. punya jasad tapi tak punya ruh dan jiwa.
Berhati-hatilah! Sebagai orang tua ada hal-hal yang mesti dibenahi, seperti niat mendidik anak, tujuan menyekolahkan mereka, arah hidup kita sendiri, serta apa yang akan kita pertanggung jawabkan kelak di yaumil akhir. Wallahu a'lam.





Tanah Mati, 20 Mei 2011

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...