Monday, 20 June 2011

SAMBALADO UKHUWAH



A friend is someone
who knows the song of your heart
and sing it back when you have forgotten the words

MOMPUOK

Ni Lili dan Inda membawa masing-masing sebakul nasi, Bet “mbuek sambalado”, ni Susi (almh) biasa membawa ikan asin ukuran jumbo 'badagiang banyak dan lomak, (digantikan) Neneng menggoreng ikan baguak dan sapek, ni Mun membawa sayur mayur, rebus daun singkong,atau ditambah Inda dengan rebus buncis atau terung. Iwir membawa rebus telur, ni Yet membawa goreng kerupuk ditambah buah segar. Maka lengkaplah menu sambalado ukhuwah kita.


Itulah menu super sederhana nan murah meriah yang telah menemani perjalanan kajian Jumat kita selama lebih dari empat tahun. Menu yang sangat cocok dengan kondisi kantong-kantong kita yang sering kurang (baca cukup atau pas agar kita termasuk hamba yang selalu bersyukur). Hampir semua bahan untuk menu istimewa tersebut, tidak mengeluarkan Rupiah kita. Ni Lili dan Inda, alhamdulillah, tidak membeli beras karena mereka mempunyai petak-petak sawah. Di sekeliling rumah ni Mun banyak terdapat sayur singkong muda nan ranum dan segar. Inda bersama suami rajin berkebun buncis dan terung. Iwir memproduksi telur karena ia beternak ayam buras. Ni Yet selalu bersedia mengambil amanah untuk membawa kerupuk dan buah segar. Ni Susi pintar mencari ikan yang enak. Aku biasanya ambil bagian membuat sambalado (maklum belum punya sawah, kebun, atau ternak). Nenekku bilang itu namanya “sambalado tigo”. Ya, bahannya hanya tiga saja yaitu cabe, bawang merah dan tomat. Tiga bahan tersebut direbus,lalu diulek dengan dibubuhi garam secukupnya. Mmmhhh rasanya sungguh mak nyoos.
Menu istimewa yang membuat 'salero patah'menjadi makan batambuah-tambuah, anak-anak yang malas makan menjadi sangat bersemangat. Air ludah sudah jernih, dan salero lah titiak ketika bungkusan kita masing-masing dibuka, bau wangi masakan menyeruak memenuhi ruangan. Segera daun pisang digelar sebagai pengganti piring, nasi ditaruh sepanjang daun pisang kiri dan kanan, lalu ditata sambalado dekat “talutuk” pisang beberapa sendok, telur rebus dibagi perkepala, disusul ikan asin si penggugah selera bersama sayur mayur segar. Mmmhhh sungguh kelezatan yang tak terkira.... Sambalado pedas-pedas sedikit, ditemani ikan yang agak asin-asin, telur yang lunak empuk, sayur yang manis dan segar, karena habis dipetik langsung direbus, dilengkapi dengan kerupuk yang badaruak-badaruak. Subhanallah..., kata orang Minang “ indak nampak mintuo lalu”. Anak-anak bersahut-sahutan berseru, “tambah nasi Mi, tambah sambalado Bu, tambah ikan Ma, tambah sayur Bu, tambah kerupuk Bunda”. Demikianlah... yang kita lakukan kala ada saudari kita yang bilang, “salero patah, makan ndak lomak atau mengeluh anak-anak tak mau makan',selalu ada saja diantara kita yang mengusulkan penawarnya, apa lagi kalau bukan menu istimewa kita, saudariku. Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?

SAHABAT-SAHABAT ISTIMEWA

Menu istimewa yang merekat ukhuwah kita menjadi semakin erat. Betapa tidak kita berasal dari latar belakang yang beragam.Terdiri dari personil-personil istimewa pilihan Allah ,yang telah melewati berbagai seleksi alam, mengalami berbagai ujian dan cobaan hingga mampu bertahan sampai tahun ke kempat sekarang, menyisihkan puluhan peserta lain yang hadir waktu acara open house dan minggu-minggu awal pengajian di Longga Minsen Kuranji bulan Februari 2007 silam. Open house dan acara perdana, kedua dan ketiga diisi oleh ni Depi dari Payakumbuh. Biarkan aku menggambarkan wanita-wanita istimewa yang berada disekililing kita itu saudariku, …walau tidak semua bisa dihadirkan pada coretan kali ini.

Adalah seorang Wanita yang berusia sekitar empat puluh tahunan. Ia mengayuh sepeda saban hari melintasi tiga kampung, menuju tempatnya mengajar disebuah lembaga pendidikan, yang berbasis karakter dan agama Islam. Dedikasi dan keikhlasannya patut mendapat acungan jempol. Wajahnya cerah penuh senyuman. Semangatnya juga menggebu. Rasa ingin tahu dan keinginannya untuk berbagi berbanding lurus dengan gairahnya untuk menuntut ilmu. Ia hampir tak pernah mengeluh walau beban kehidupan dan beban biaya sekolah anak-anak harus ikut ia tanggung. Tiga orang putrinya bersekolah di sekolah swasta, sekolah yang memberi penekanan pada pendidikan agama, tak lain tak bukan karena ia ingin memberikan pendidikan yang terbaik buat mereka.

Wanita itu harus selalu bekerja keras,berusaha cerdas dan ikhlas demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk kelangsungan pendidikan anak-anaknya. Gaji bulanan dari tempatnya mengajar tidaklah seberapa, sangat jauh dari standar UMR ( Upah Minimum Regional). Ia harus bekerja cerdas mencari sumber pemasukan yang lain, membuat dan berjualan kue-kue, menjahit, menyulam, hatta membungkus kue di pabrik kue, semua ia lakoni.

Subhanallah, ditengah seabrek kesibukannya ia masih sempat menghafal Alqur'an, (hafalan Qur'annya sudah banyak juga lho), menolong orang lain tanpa pamrih, tanpa diminta, dan penuh kejutan tak terduga .Ia juga rajin menyisihkan sedikit yang ia punya untuk bersedekah, berinfak, dan berderma.
Itulah sosok salah seorang sahabat kita yang telah berusaha menjadi seorang wanita sholehah seperti yang telah digambarkan Alqur'an dan hadist dan kisah-kisah wanita teladan. ia tampil bukan bak putri Cinderella, seorang gadis miskin yang tinggal bersama ibu tiri dan kedua saudara tiri. hidupnya teraniaya dan penuh penderitaan. namun segala sesuatu segera berubah manakala seorang peri yang baik hati kemudian menolongnya untuk pergi ke pesta. Di pesta tersebut ia bertemu dengan seorang pangeran tampan, kaya dan berhati mulia yang berniat memperistrinya. singkat cerita berobahlah nasib Cinderella yang penuh dengan air mata menjadi kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan dan kemewahan. Tidak seperti wanita kebanyakan sahabat kita itu saudariku, berusaha untuk tidak terjerumus kepada sindrom "Cinderella Compleks" bermimpi mempunyai nasib layaknya Cinderella.

Sosok yang berusaha ia tiru, dan memang begitulah seharusnya muslimah adalah, Fathimah Az Zahra, wanita tegar putri Rasulullah. Wanita yang tangannya telah menjelma menjadi keras dan kasar karena setiap hari harus menggenggam penggilingan gandum. Bekerja dengan penuh keikhlashan bermandi peluh dibawah teriknya sinar matahari . Setiap hari harus berdamai dengan kelelahan dan rasa nyeri di tangan dan punggung, hanya karena kemiskinan sang suami. Permintaannya untuk menghadirkan seorang pembantu (hanya) dijawab Rasulullah saw ,sang ayah tercinta, dengan zikir dan doa yang harus dia amalkan setiap habis shalat fardhu.

Sahabat terbaik kita (almarhumah) yang proses hijrahnya sungguh mempesona saudariku. Beliaulah pelopor kajian Jumat kita yang sesungguhnya. Ya, di awal Januari 2007 beliau bermohon dengan gaya yang sangat memelas, "Ajaklah uni mangaji-mangaji tu Bet". "Uni serius?"kataku kurang percaya. Waktu itu beliau mengantarkan anak semata wayangnya yang baru duduk di kelas dua SD untuk kursus matematika. Sebelum mulai belajar, anak-anak terlebih dahulu membaca Alqu'an, ada yang masih Iqro' dan ada yang sudah Al Qur'an. Beliau biasanya memperhatikan bacaan anak-anak dan memperhatikan aku mengajar dan membetulkan bacaan anak-anak yang salah. Sebenarnya aku risih juga diperhatikan seperti itu. seakan-akan seperti menilai kemampuanku. Belakangan baru kuketahui kalau beliau betul-betul memperhatikan dengan sepenuh hati, karena bacaan Alqur'annya belum begitu lancar. Baliau akhirnya mengakui kalau waktu kecil disuruh mama pergi mengaji, namun beliau malah sering tidak sampai ke tempat mengaji karena bermain kerumah teman, atau waktu berlalu karena habis oleh "Ncik lu, atau nti nta".

Aku mengulang bertanya lagi, "Ni yo bona Uni ka mangaji?""Yo bona Bet", katanya meyakinkan. Aku sudah kenal dekat sekali dengan beliau. Kami kawan salapiak sakatiduran. Kami sering menginap dan belajar bersama di rumah Bu Aci, ketika masih sama-sama duduk di bangku SMA.
"Kalau betul Uni serius kita cari teman-teman dulu ya," kataku. Kebetulan seminggu sebelum itu Iwir juga mendatangi Dina untuk diajak 'mengaji'. Maka mulailah semenjak itu aku berkeliling dengan sepeda butut itu, untuk mengajak teman-teman yang kira-kira mau aku ajak bergabung. Aku hunting mulai dari Tanah Mati, Kuranji, Padang Bonai, Guguk Nunang, Cirondang, Tiakar, dan Guguak. Satu-persatu teman-teman yang ikut belajar dengan Pak Usman Palese semasa Pesantren Hidayatullah berjaya di negeri Kuranji, aku datangi dan kugali memorinya tentang betapa indahnya masa-masa mengaji di pesantren, berharap dengan begitu teman-teman mau kuajak mengaji kembali. Alhamdulillah di hari open house jumlah peserta lebih banyak daripada perkiraan semula.

Mulai hari itu saudariku, bagi sahabat kita almarhumah, merupakan hari titik balik perjalanan hidupnya. Betapa pada hari itu ia menangis tersedu-sedu meyesali perbuatan masa silamnya, dan ia bertekad mengisi hari-hari yang tersisa dengan kebaikan demi kebaikan. Ia tidak pernah malu untuk mulai belajar mengaji kembali mulai dari Iqro. Ia berusaha keras menantang dan mengajak lidahnya untuk bekerja sama mengucapkan huruf demi huruf hijaiyah dengan benar dan sesuai makhrajnya. Ia juga yang kemudian menjadi motivator kita untuk berlomba-lomba memperbanyak hafalan Qur'an kita. Ia yang mulai belajar dari Iqro' membaca tertatih-tatih, namun diakhir hayatnya ia telah punya hafalan juz 30, seperti An Naba' dan An Naziat. Tilawaah Qur'annya juga sudah mengalir lancar dari lisannya. Sebuah pencapaian yang sangat prestisius saudariku...

Beliaulah sosok yang belajar ibarat orang menangkap belut, dapat satu, dipegang kuat-kuat dan tak melepaskannya lagi. Begitu belajar sesuatu langsung diamalkan dan tak hendak meninggalkannya. Ketika belajar tentang shalat malam, ia langsung praktekkan, begitu juga ketika belajar tentang menutup aurat yang benar, keta'atan pada suami, bakti pada orang tua, ilmu parenting - bagaimana mendidik anak secara Islami, bagaimana berislam yang benar dan seterusnya.

Tak pernah terdengar keluh dari lisannya ketika hamil yang ia lalui dengan ujian yang sangat berat. Bedrest total tanpa dibezuk sang kekasih tercinta, keluar masuk rumah sakit ditemani orang tua, pendarahan, anemia, harus tambah darah berkantong-kantong, sampai sakit yang tiada tara...semua ia lewati dengan keikhlashan dan tawakal. Puncaknya ketika ia meregang nyawa menanti detik-detik kelahiran si buah hati yang telah lama ia damba...Semoga... beroleh syahid seperti cita-citanya. Amiin.

Suatu hari, diakhir tahun 2008 Mak Suraida sudah hadir duluan di sekolah belakang, gedung pinjaman bekas kantor kehutanan. Beliau duduk sendirian di emperan teras sekolah sambil menunggu teman-teman yang lain datang. Sekolah masih terkunci. Ketika aku datang, beliau berdiri sambil berseru, "Lai kau tarimo den gaek iko jadi murik kau ,Ibet? Beliau merayu seraya berkata lagi, " Ciek anyo kito ko, kito samo-samo Picancang, cucu den kau," Beliau lantas tersenyum sambil memperlihatkan giginya yang tinggal dua, satu diatas sebelah kiri,dan satu lagi dibawah sebelah kanan. Namun senyum itu saudariku tetap mempesona, mungkin karena terpancar dari ketulusan dan kebeningan hatinya. Beliau berkata lagi "Nenek kau dibawah den umuanyo, bakakak nyo ka den, sampai amak kau bakakak pulo ka den".

" Duuuh Maaak! Subhanallah, siapa yang kuasa menolak dirimu untuk menjadi salah seorang sahabat terbaik kami, para cucu-cucumu, balasku. Lagi pula kita menerima siapa saja yang mau belajar bersama, tanpa pilih-pilih. Alhamdulillah wasyukurillah, Allah telah pilihkan seorang wanita tua istimewa, untuk kita berguru padanya, bukan statusnya menjadi murid seperti yang beliau minta. Beliau sahabat kita yang tertua, saat itu beliau sudah berumur 84 tahun, saudariku! Beliau masih sehat dan kuat, mata beliau masih awas, beliau bisa membaca Alqur'an tanpa kacamata. Beliaulah sosok pembelajar sejati itu, saudariku. Beliau telah mampu menafikan dalih kita tentang usia. Kita yang baru berusia tiga puluhan atau diambang empat puluhan sering berdalih sudah terlalu tua untuk belajar, menuntut ilmu, berguru, bertanya, atau membaca.
Dan yang lebih mencengangkan saudariku, ternyata hafalan Alqur'an beliau cukup banyak. dan sampai sekarang beliau masih menambah hafalan dengan hafalan yang baru... Nah.. ayo...!! Siapa yang masih berdalih usia tua tidak bisa lagi menghafal Alqur'an?

Pekerjaan beliau sehari-hari adalah membuat "rubik". Ya, beliau masih bekerja saudariku. Tak hendak menerima belas kasihan orang saja walau usia sudah diatas 80 tahun. ( Rubik adalah penganan dari ubi singkong yang dibuat dengan cara merebus singkong lalu diris tipis-tipis untuk kemudian dijemur dibawah terik matahari. Setelah kering baru dijual mentah, tanpa digoreng. Rubik ini enak digoreng balado, ditambah sedikit bada, untuk menemani gulai cubadak). Nah saudariku, ketika duduk mengiris rubik itulah beliau menghafal Alqur'an. Jadi setiap helai irisan rubik itu telah ditemani "ruh" Alqur'an. Pantas saja rubik mak Suraida terkenal enak. Rupanya itulah rahasianya. Rubik buatan beliau dibawa orang kemana-mana, selain seantero Kuranji, seperti Jakarta, Bandung, Batam, hatta Bapak Bupatipun memesannya.

Beliau juga menajajakan sendiri rubik itu dengan gerobak masuk kampung keluar kampung. Yang tidak masuk akal, saudariku, beliau berjualan rubik dengan cara yang tak biasa. Kalau oarang membeli 1/4 kg, rubik yang diterima pembeli adalah 1/2 kg atau beli 1 kg terima 1 1/2 kg. Lho... Mana untungnya? Entahlah.... namun dengan berjualan seperti itu setip tahun beliau bisa berkurban kambing dua atau tiga ekor kambing, bukan satu ekor saudariku. Bahkan rubik itu juga yang telah menghantarkan beliau untuk pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umrah... Subhanallah ! sungguh merupakan wanita tua yang luar biasa.

Sahabat istimewa kita yang lain saudariku, sosok wanita yang bersahaja, dan tampil apa adanya. Tak hendak bermulut manis atau berpura-pura. Tipe pembelajar sejati yang rajin dan bersungguh-sungguh, memandang ilmu bagai mutiara yang sangat berharga. Seorang wanita qona'an yang patuh dengan suami. Berjuang melawan segala keterbatasan tanpa disertai keluhan. Subhanallah. Mendidik anak-anak dengan akhlak mulia sehingga mampu mengungguli teman-temannya di sekolah.

Ada lagi sahabat istimewa kita, sang single parent. sahabat kita yang tangguh. Wanita yang telah menghidupi dan mendidik sendiri anak-anaknya. Di tangannya lahir calon-calon hafidzoh Qur'an. Hafalan putri-putrinya melebihi hafalan anak-anak kita yang lain. Wanita "care' yang gemar menolong, baik jasadiah,fikriah maupun nafsiah. Wanita yang selalu memprakarsai gotong royong mulai dari tahun ajaran menjelang sampai acara tutup tahun ajaran. Wanita yang rajin memprovokatori wali murid yang lain untuk mendukung program sekolah, ikut mengumpulkan botol-botol untuk menyimpan APE (Alat Permainan Edukatif),membuat box file anak-anak, membuat name tag, samapai mendandani kelas sebelum tahun ajaran dimulai. wanita yang menguatkan aku kala aku down, membesarkan hatiku kala ku kecewa, menghiburku kala ku sedih, mensupport dan menyemangatiku bersama dirinya untuk tetap istiqomah berhomeschooling 1). Dialah wanita ideal sahabat kita yang paling bulat tawakalnya pada Allah Ta'ala diantara kita semua. Bergantung dan minta pertolongan hanya pada Allah semata. Tak pernah hendak menolak taqdir, karena semua sudah tertulis di Lauhum Mahfuz.

Sahabat kita juga, wanita istimewa yang bacaan Qur'annya mendayu syahdu, membuat kita merindu. Wanita tegar yang selalu sabar menghadapi penyakit yang menguji ketahanan tubuhnya. Tak lengkap liqo kita tanpa kehadiran dirinya. Wanita dermawan yang selalu bersedia mengantar kita kemanapun dengan mobilnya. Ia juga pintar memasak. Bersama almarhumah ia mampu mengalirkan semangat menyantap makanan kepada kita semua. Tidak seru acara mompuak tanpa disertai mereka berdua.

Selanjutnya sahabat kita, wanita istimewa yang sangat tangguh, tahan banting, kuat dan berdada lapang. Mobilitasnya tinggi, patuh, dan sangat pintar dan cerdas untuk belajar dari pengalaman dan keadaan. Ia telah lulus ujian yang kalau diterima orang lain belum tentu kan kuat bertahan. Ya, dia telah lulus gemblengan keras selama lebih kurang dua tahun. Januari 2011 ia baru diterima secara full sejak ia bergabung di tahun 2009. Subhanallah! Ia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Begitu dibilang, diingatkan,dan dinasehati, ia kan terima dengan dada lapang. seolah olah dia bilang "Siap! kerjakan! "seperti seorang prajurit. Tak ada jarak yang jauh dalam kamusnya. Tak ada pekerjaan yang tak selesai di tangannya. Tak ada urusan yang tak tuntas diurusnya. Walau badannya kecil dan ramping, namun tenaganya jumbo. Apa saja pekerjaan tak ada pantangan baginya. Allahuakbar!!!

Warna-warni sahabat istimewa kita dilengkapi oleh sosok wanita lembut nan penyayang, saudariku. Wanita kuat yang dikaruniai jundi dan jundiah nan bernas. Ia jauh mengungguli kita semua baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Setiap detik yang ia lalui betul-betul disibukkan untuk meraup pahala yang berlimpah dirumahnya yang mungil namun penuh berkah. Betapa tidak, disetiap jengkal rumahnya selalu menyediakan ladang amal nan luas. Cucian yang hampir selalu menggunung, piring-piring kotor yang menumpuk, makanan yang harus dimasak, rumah yang mesti dibersihkan, anak-anak yang minta perhatian, pelajaran dan PRnya yang mesti dibantu dan diperiksa,tilawah qur'annya yang mesti disimak, hafalannya yang mesti dimuroja'ah dan ditambah. Sang belahan hati yang mesti disupport. Kualitas diri sendiri yang mesti di up grade. Sungguh tak sembarang wanita yang yang beroleh amanah ini. Inilah sosok wanita istimewa, sahabat kita, yang selalu berjihad dirumahnya. Semoga dirimu beroleh surga sahabatku!

Sahabat istimewa kita juga yang telah menafikan dalih kita tentang jarak. Jarak yang jauh tak menghalanginya untuk tetap hadir di hari Jum'at demi memperoleh kilauan berlian ilmu,dan senyum-senyum ikhlash para sahabat istimewa yang selalu menciptakan rindu nan membuncah. Angkutan umum yang hanya lewat satu-satu (karena sebagian besar hanya beroperasi sampai pasar Limbanang), yang mengantarkannya ke base kita dari nun Suliki sana. Walaupun sekali dua bulan ia harus rela absen karena mesti menemani suaminya berdagang di Taluak Kuantan.

Bacaan Qur'annya indah merdu, dengan irama yang mendayu. Ia punya azzam yang kuat untuk tak melewatkan setoran hafalan qur'annya setiap pertemuan. Dialah sosok wanita dermawan, suka menolong, dan beroleh hati nan lembut, yang tak pernah bersenang hati kalau kedatangannya tak membawa buah tangan.

Ujian kesabaran dari Allah dari Allah menanti kehadiran sang buah hati, selama 8 tahun usia pernikahannya telah ia lewati dengan usaha dan untaian doa-doa panjangnya. Allah yang Maha Rahiim yang sayang dengan hamba-hambaNya yang sholeh, sepertinya hendak meningkatkan kualitas kesabarannya, dengan mengambil titipanNya itu di usia 5 bulan kehamilannya. Sentruman aliran listrik telah merenggut nyawa sang bayi yang telah lama ia damba.

Inna ma'al "usri yusro, fainna ma'al 'usri yusro. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Alhamdulillah setahun kemudian ia hamil lagi dan kini ia telah beroleh putra yang berusia 2 tahun.
Kedermawannya juga beroleh ujian dari Allah. Tabungan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun, hasil tetesan keringat berdagang di Taluak Kuantan, berkebun cabe, dan menggarap sawah, raib dibawa tetangga dekatnya. Empat puluh juta, jumlah yang cukup untuk membangun rumah sederhana, dan memulai usaha dagang baru, begitu rencananya alokasi dana tersebut.

Dialah yang berperan besar meredam amarah suaminya pada sang tetangga. Menghibur dan membesarkan hatinya bahwa "uang itu hanya titipan Allah saja, Allah hendak membersihkan harta yang tersisa, mudah-mudahan Allah kan ganti dengan yang lebih baik" begitu yang selalu ia bilang kala sang suami uring-uringan, trenyuh dan sedih. Dialah sosok yang selalu berusaha menjadi wanita sholehah pendamping suami, wanita nan setia patuh dan qona'ah.

Sahabat istimewa kita yang lain saudariku, wanita yang selalu bertarung dengan waktu. Menyelesaikan pekerjaan rumah tangga yang tiada habisnya dilengkapi dengan mengurus keempat tentaranya yang lahir berderet-deret, yang betul-betul sedang menguras energi dan menyita banyak perhatian. Belum lagi ditambah kesibukan mengajar setiap hari disebuah SMK negeri. Lingkungan yang banyak dihuni oleh kaum lelaki, yang secara tak sadar, menurut pengakuannya, kadang mendidiknya menjadi keras.
Oleh karena itu, Jum'at adalah hari yang selalu dirindukannya. Rehat sejenak dari segala aktifitas, bertemu sahabat-sahabat sejati belahan jiwa yang selalu menjadi pendengar aktif untuk segala keluh kesahnya, memberinya embun penyejuk jiwa kala gulana.
Perjuangannya menyambut hari Jum'at juga tak kalah seru, Saudariku. Lobi pada suami sudah dimulai semenjak hari Senin. Mulai dari rayuan agar suami mau ngemong 3 anak yang lebih besar, sampai kesediaan sang arjuna untuk mengantar dan menjemput ke tempat mengaji. Naik motor sendiri tak mungkin dilakukan karena harus menggendong si bungsu.
Jadi sebelum hari "H", menu dibawah tudung saji harus sudah tersedia, tak boleh ada yang kurang apapun alasannya. So, saudariku, sahabat kita yang satu ini juga sudah menafikan alasan kita tentang "sibuk". Ia tak hendak absen datang walau sesibuk apapun.

Ada juga sahabat istimewa kita saudariku, yang kesibukannya diatas kesibukan kita yang lain. Ya, sibuk diatas sibuk, begitulah kira-kira.Mengurus rumah tangga, itu sudah pasti, empat orang tentara ditambah satu arjuna. Mengurus beribu-ribu ayam, mulai dari mencari makanannya, mengangkut makanan ke kandang, memberinya makan, mengambil telur,menyortir telur yang besar dan kecil dan seterusnya. Bekerja bersama suami-bukan membantu lho-di kebun jahe, kebun terung dan kebun cabe. Dan yang tak kalah sibuk adalah mengurus masyarakat. Ya dia diamanahi masyarakat mengurus segala tetek bengek yang berhubungan dengan surat-menyurat, proposal, laporan pertanggung jawaban, pendistribusian ke masyarakat, mendatangi kantor ini, mengunjungi kantor itu untuk urusan PNPM, pupuk bersubsidi, koperasi, MDA, PAKET C,dan dilengkapi dengan mengajar di sebuah SDIT.
Saudariku, dengan seabrek-abrek kesibukan itu, dapat meluangkan beberapa jenak di hari Jum'at sungguh umpama intan berlian yang sangat berharga baginya.

ANEKA TEMPAT DAN ANEKA MATERI

Sambalado, menu istimewa yang mampu mengusir rasa bosan yang datang mendera ditengah rutinitas kita masing-masing. Jeda dan istirahat sejenak dari kesibukan di tempat kerja dan di rumah tangga yang tiada habisnya.
Menu tetap yang menjadi 'icon' kita walau kita santap di tempat yang berbeda-beda, mulai dari Tanah Mati -di basecamp kita-'mompuok' sebelum Ramadhan dan sesudah hari raya. Base camp kita An Nahl, yang menjadi tempat berbagai aktivitas pendidikan dari segala lintas umur, tempat yang menjadi markas belajar PAUD, berbagai kursus, MDA, TPA, dan Tahfiz Qur'an .Di sekolah belakang -tempat pinjaman bekas kantor dinas kehutanan nan asri dan sejuk serta jauh dari suara bising kendaraan - waktu tasyakuran khatamnya tilawah Qur'an kita. Di Rumah Gadang Sungai Beringin ketika kita fun bike bersama. Di water boom Padang Panjang ketika kita rihlah bersama anak-anak guna memberi kegembiraan kepada mereka walau dengan patungan ketika kantong-kantong kita tidak pernah 'full' oleh rupiah. Di Kapalo Bonda Taram ketika menghibur anak-anak ba'da ujian dan memenuhi keinginan mereka untuk berenang. Di dangau Padang Bonai ketika kita membahas topik Ukhuwah. Ketika itu kita alfa memeriksa persediaan air minum, padahal kita habis menyantap sambalado lomak nan lumayan pedas. Jadilah kita minum air bekas rebusan telur. Untunglah telur waktu itu direbus dibungkus dulu dengan plastik. Di Taeh di rumah Iwir ketika syukuran untuk rumahnya yang baru. Sungguh merupakan momen-momen yang tak terlupakan. Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?
Menu lain icon kita adalah 'mompuok krupuak kuah'. Ni lili 'mbuek kuah, atau di lain waktu Ilis, kadang digantikan inda, ni mun masak mie, bet menggoreng kerupuk, atau Ilis atau ni Yet atau Neneng dan seterusnya , begitulah yang terjadi secara bergiliran, spontan dan penuh kesukarelaan, demi memupuk keakraban dan memenuhi selera emak-emak dan anak-anak.
Saudariku, Itulah refleksi dari salah satu topik yang pernah kita bahas-Ukhuwah Islamiah. Hubungan,dan interaksi yang berdasarkan pada keimanan seperti yang telah Allah gambarkan dalam Al Qur'an surat Alhujurat ; 10 , Al Anfal;1. Tahapan ukhuwah yang pernah kita jalani mulai dari porses taaruf yang meliputi, taaruf secara fisik, pemikiran sampai kepada kejiwaan (QS 49:13). Setelah itu kita coba untuk saling tafahum (saling memahami), dengan menyatukan hati (QS 8:60), menyatukan pemikiran dan menyatukan amal. Selanjutnya kita telah menapaki proses ta'awun (saling menolong)(Q:S 5:2), kita telah saling tolong menolong secara hati berupa doa-doa yang kita panjatkan buat saudara-saudara kita, tolong menolong secara pemikiran berupa diskusi dan saling menasehati, dan tolong menolong secara amal, bahkan kita telah sampai pada tahap menolong saudara kita -tanpa diminta-mencucikan piringnya, memasak makanannya mengadakan rupiahnya, berbagi sandang untuk emak-emak dan anak-anaknya, subhanallah. Kita telah naik ke tahap selanjutnya, saudariku yakni proses takaful ( saling menanggung) yang muncul setelah proses taawun, dimana hati saling menyatu, dan saling menyayangi. Kita coba meretas akhir menuju kesatuan barisan dan juga kesatuan umat.
Empat tahun sudah kebersamaan kita, kalau diibaratkan kuliah di sebuah universitas tentu kita telah tamat dan sudah mengantongi ijazah sarjana. Banyak topik-topik yang telah kita bahas,pelajari, dan dalami bersama, menyangkut kehidupan dunia dan akhirat kita. Kita telah coba selami silabus materi Tarbiah Islamiah, seperti Ahammiyatu tarbiah Ma'na syahadatain, Ma'rifatullah, ma'rifatul Rasul,Ma'rifatul Islam, Ma'rifatul Insan, Ma'rifatul Qur'an, gouzul fikri, Hizbu asyaithan,fiqud da'wah dan seterusnya. Kita telah arungi Sistematika Wahyu ala Hidayatullah, Kita telah rasakan bersama bagaimana nikmat dan syahdunya berinteraksi dengan Alqur'an, kita telah pelajari bagaimana membaca Alqur'an dengan baik dan benar, bagaimana membaca secara tartil seperti yang telah diwahyukan kepada Rasulullah,kita telah tahsin bacaan kita, kita pelajari ma'na, terjemahan, dan tafsirnya, kita telah berlomba-lomba untuk memperbanyak hafalan kita, walaupun dengan langkah tertatih dan terseok-seok, kita sudah berusaha, Allahuakbar!!!, Kita telah bahas topik-topik parenting, bagaimana menjadi orang tua yang baik, yang bisa jadi teladan bagi anak-anak kita tercinta, kita telah pelajari tarbiatul aulad, bagaimana menuntun anak menjadi generasi rabbani, bagaimana menjadi pendamping sholehah bagi suami yang kita kasihi. Bagaimana menjadi hamba yang diridhoi Ilahi. Kita juga belajar bagaimana shalat yang benar, bagaimana bersuci dan berwudhuk seperti yang dituntun Rasulullah , hatta kita juga belajar dan praktekkan tata cara meyelenggarakan jenazah. Kita juga mengadakan bedah buku buku baik yang menyangkut fiqh, ibadah, akhlak, ataupun buku-buku ilmu kontemporer lainnya.
Dilain waktu kita membahas 'qodhoya” atau masalah yang kita hadapi masing-masing, kita diskusikan bersama dan kita berusaha mencari solusi terbaik. Setelah kita bertemu terasa dunia begitu luas, kepala jadi ringan seperti kapas, fikiran menjadi terang benderang, dada menjadi plong seperti permen bolong , huh Subhanallah... Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?
Saudariku... demikianlah yang telah kita lakoni bersama, masa-masa indah merajut benang-benang ukhuwah yang terpatri di hati kita yang terdalam. Kenangan manis yang tak kan terlupakan. Tak ada gading yang tak retak saudariku, kita bukan segala tahu, kita juga bukan yang terbaik namun kita telah bertekad untuk menjadi pembelajar sejati, kapan, dan dimanapun kita berada, kita sudah berusaha menjadi yang terbaik, berusaha memberikan yang terbaik, berusaha menebar manfaat sebanyak yang kita mampu. Allahua'lam bisshowaab.


Tanah Mati, 29 April 2011
Kado pernikahan buat saudariku
yang kan terbang ke negeri Jiran
Semoga berbahagia selalu...
barokallahulaki wabaroka alaiki
wajamaabainakuma fi khaiir..

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...