Monday, 20 June 2011

SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB?



Beberapa waktu yang lalu kita merasa tersentak oleh berita tentang seorang anak bau kencur bernama Sandra berumur empat tahun yang dengan entengnya menjawab bahwa ia telah terbiasa menghabiskan 3 bungkus rokok dalam sehari. Dijarinya yang mungil terselip sebatang rokok yang menyala. Ia juga mengaku telah terbiasa menenggak minuman berakohol yang disuguhi oleh para preman di pangkalan ojek.
Peristiwa itu terjadi jauh dari daerah kita, namun sekarang peristiwa-peristiwa senada terjadi di kampung kita, dekat dengan rumah kita, bahkan melibatkan anak-anak kita sendiri. Nauzubillahi min zaalik. Dulu kita biasa mendengar kata-kata kenakalan remaja. Namun sekarang bukan hanya kenakalan remaja tapi sudah merambah kepada “kenakalan” anak-anak bocah kemaren sore.
Disebuah warung kopi, anak-anak bocah baru duduk di kelas empat dan lima SD, terlibat dengan kegiatan “ NGELEM” (menghisap lem) yang dilanjutkan dengan merokok, layaknya orang dewasa.... hik...hik.




Seorang anak TK disuguhi gambar porno oleh anak kelas empat SD dari ponselnya. Anak TK yang masih sangat polos dan jujur bertanya, “photo siapa itu Bang?” Si anak SD menjawab dengan enteng “ Photo amak ang” Ya Rabb!!!
Seorang ibu yang berprofesi sebagai bidan harus diopname dirumah sakit karena tensinya naik drastis, mengalami sakit kepala yang luar biasa, maag kronis, yang dipicu oleh anaknya yang keranjingan ke “warnet”.
Menurut hemat saya ada tiga komponen penting yang bertanggung jawab terhadap peristiwa-peristiwa tersebut. Dimana ketiganya harus bisa bersinergi dan berperan secara simultan agar bisa beroleh hasil yang maksimal. Ketiga komponen itu ialah “Orang tua – keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat. Berikut akan saya paparkan satu persatu.

Pertama, Orang Tua/ Keluarga
Kata-kata anak durhaka sudah sangat familiar sekali ditelinga kita, seakan -akan yang pernah berbuat durhaka itu hanya anak-anak. Pernahkah kita introspeksi diri bahwa kita juga pernah “mendurhakai anak?” Seorang laki-laki datang kepada Umar bin khattab mengadukan perihal anaknya yang telah pernah berbuat durhaka kepadanya dan tidak menunaikan hak-haknya. Umar melakukan “tabayyun” dengan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar “Bukankah anak juga mempunyai hak dari bapaknya?” “Ya” jawab Umar. “Apa itu ya Amirul mukminin?”Umar menjawab,
  1. Memilihkan ibunya
  2. memberikan nama yang baik
  3. Mengajarkan Alqur'an
Anak itu berkata mantap “ Sesungguhnya ayahku belum melakukan satupun diantara semua hal itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia beragama majusi. Mereka menamaiku Ju'al (kumbang kelapa) Ayahku belum pernah mengajariku satu ayatpun dari Alqur'an. Kemudian umar berkata kepada orang itu “engkau tidak mengadukan tentang kedurhakaan anakmu sedangkan engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk padamu.
Kata-kata Umar mengingatkan kepada kita untuk bercermin. Sebelum kita mengeluhkan dan menyalahkan tentang anak-anak kita, selayaknya kita bertanya apakah kita telah memenuhi hak- haknya.
  • Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal sesungguhnya kitalah yang berbuat durhaka
  • Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka
  • Kita sering berbicara tentang kenakalan anak, tapi kita lupa memeriksa apakah sebagai orang tua kita tidak melakukan kenakalan yang lebih besar.
  • Kita sering bertanya bagaimana menghadapi anak , mendiamkan mereka saat berisik dan membuat mereka menuruti apa yang kita inginkan meskipun kita menyebutnya dengan kata “taat”. Tapi sebagi orang tua kita sering lupa apakah kita sudah memiliki KELAYAKAN untuk ditaati
  • Kita ingin mereka mengerti keinginan orang tua tapi kita tidak mau berusaha memahami ,dan mengerti keinginan anak .
  • Pendidikan yang kita jalankan pada anak-anak hanya untuk memuaskan diri kita atau mungkin untuk menghindarkan diri kita dari rasa sumpek,lantaran sudah merasa repot dengan kehadiran mereka.
  • Kita mendekap anak tapi pikiran diliputi kecemasan,jangan-jangan satu peluang karier jadi hilang karena kesibukan mengurusi anak.
  • Kita membatasi jumlah anak demi alasan kesejahteraan dan kemakmuran, namun tanpa sadar kita tanpa sabar dan gembira dalam mendidiknya.
  • Kita jarang meratakan kening untuk mendoakan anak, tapi malah sebaliknya meminta anak untuk mendoakan kita supaya kita meraih kesuksesan kerja dan karir.
  • Yang lebih parah adalah ketika kita menjadi orang tua semata-mata karena kita mempunyai anak. Anak dalam kehidupan hadir hanya karena resiko menikah bukan karena campur tangan jiwa dan kualitas kasih sayang.
  • Atau kita termasuk orang tua yang sudah lama menginginkan anak dengan jenis kelamin tertentu, akan tetapi yang dikaruniakan Allah tidak seperti yang diharapkan, sehingga secara tidak sadar kita sudah melakukan penolakan psikis terhadap anak kandung sendiri. Kita inginnya anak perempuan tapi yang lahir laki-laki, maka kita perlakukan ia sebagai anak perempuan sehingga yang ia berkembang menjadi bencong, atau sebaliknya kita menginginkan anak laki-laki tapi yang lahir perempuan.
  • Yang sering juga terjadi adalah ketika kita menyebut anak sebagai “buah solek”, ia hadir ketika tidak betul-betul diharapkan. Kelahirannya akibat kegagalan KB misalnya. Seakan-akan anak menanggung suatu kesalahan, apapun yang terjadi anak yang menjadi kambing hitam, meskipun bukan dia yang menjadi penyebabnya. Terkadang bentuknya tidak seburuk itu, tetapi akibatnya tetap saja buruk. Anak merasa tertolak.
Nah, bukankah hal-hal diatas merupakan bentuk dari kedurhakaan orang tua? Pantaskah kita mencap anak sebagai anak yang durhaka? Mereka hanya menanggung akibat atas kesalahan yang telah kita, orang tua, perbuat. Bukankah Rasulullah sudah katakan bahwa “setiap anak terlahir fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya majusi atau nasrani?”
Seyogyanya kita segera membenahi niat kita dalam mendidik anak, membetulkan tujuan kita menyekolahkan mereka, menentukan arah hidup kita sendiri, serta bermuhasabah tentang apa yang akan kita pertanggung jawabkan nanti di yaumil akhir.
Semoga kita termasuk orang-orang yang ikhlash mendidik anak-anak kita sendiri. Semoga pamrih-pamrih kita dalam mendidik mereka diwaktu-waktu yang lalu kita sadari, kita insafi dan kita benahi. Semoga kita juga terhindar dari mendidik anak-anak yang tumbuh bagai robot, tanpa ada kesatuan antara jasad,ruh dan akalnya.

Kedua, sekolah adalah juga pihak yang bertangung jawab atas ketidak wajaran perilaku anak-anak. Sekolah tidak bisa hanya menyalahkan orang tua, karena sekolah merupakan institusi pendidikan yang juga sudah dipercayakan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Sekolah bukan hanya tempat untuk pengajaran dan mentransfer ilmu tetapi yan lebih penting dari itu adalah tempat pendidikan akhlak/karakter. Sekolah tidak bisa lantas mengeluarkan anak-anak yang “bermasalah” sehingga terkesan seperti lari dari tanggung jawab. Apakah ada jaminan ia akan berubah menjadi baik ketika dikeluarkan dari sekolah? Bukankah yang akan terjadi justru sebaliknya? Mereka akan menjadi preman beneran.

Ketiga, masyarakat
Ada keengganan dalam masyarakat dewasa ini untuk menegur dan mengingatkan anak yang berperilaku ”nakal” (dalam tanda kutip).Ada ungkapan yang sering terdengar, “lai ndak anak awak do, bia sajolah”.”Yang penting bukan anak saya” Masyarakat seperti kehilangan rasa peduli dan rasa tanggung jawab .
Masyarakat yang turut bertanggung jawab menurut saya adalah niniak mamak, cadiak pandai, dan alim ulama. Apakah ketiga elemen itu masih menjalankan fungsi sebagaimana mestinya seperti dahulu kala, dizaman yang super canggih ini? Adakah niniak mamak zaman sekarang mengajari anak kemenakan tentang akhlak yang baik? Yang galib kita temui sekarang hanya niniak mamak yang menghukum anak kemenakannya ketika melakukan sebuah “kenakalan” atau menjejalinya dengan nasehat dan ceramah panjang lebar ketika arang sudah tercoreng dikening. Mengadili secara bersama-sama anak-anak yang mereka sebut nakal di balai adat. Bukannya mengajari jauh sebelum kenakalan beraksi.

Contoh “kenakalan” lain yang sering terjadi sekarang ini adalah “Nikah Sesuku” yang menurut niniak mamak merupakan hal yang haram terjadi dalam adat. Anak kemenakan akan dibuang sepanjang adat dan dikucilkan dari masyarakat kalau berbuat nekat, tetap ingin menikah. Mari kita bersama introspeksi, ada satu poin penting yang hilang sebelum peristiwa itu terjadi, yakni silaturrahim. Adakah komponen tiga tungku sejarangan itu mengajak anak kemenakan untuk bersilaturrahim dengan “dunsanak”? Memperkenalkan dan memberitahu mana yang dunsanak-dunsanak awak? Jawabnya jarang, sangat jarang sekali, bahkan di dua hari rayapun budaya silaturrahiim dengan dunsanak sudah hampir hilang, berganti dengan mengunjungi tempat-tempat wisata dan rekreasi yang biasanya penuh sesak pengunjung di dua hari raya tersebut.
Ketika anak kemenakan akan menikah dan memberi tahu niniak mamak, namun belakangan ketahuan bahwa pasangan itu ternyata badunsanak, niniak mamak dengan berbagai cara akan melarang, menasehati,dan bahkan menghukum mempelai dengan membuang sepanjang adat kalau pernikahan tetap dilangsungkan. Hal tersebut tentu tidak perlu terjadi kalau budaya silaturahim tetap terjaga dan terpelihara.
Alangkah bijaksananya jika niniak mamak cadiak pandai dan alim ulama dewasa ini mendidik generasi dan mencetak kader-kader baru pengganti dirinya, memberikan contoh teladan yang baik, mengajak mereka untuk mendirikan shalat, mengajari mereka mengaji, serta mengajak sembari memberikan contoh untuk memakmurkan mesjid, bukan hanya sibuk menyalahkan anak-anak ketika telah berbuat kenakalan. Semoga !!!. Allahu a'lam bisshowaab.



Tanah Mati, Jan 2011

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...