Monday, 30 January 2012

BELAJAR VS SEKOLAH


-->
"A child educated only at school is an uneducated child"
Anak yang cuma dididik di sekolah
adalah anak yang tidak terdidik.(George Santayana)
Saya dan teman-teman masa kecil (ketika SD) mempunyai sebuah permainan olah tubuh yang dimainkan diiringi sebuah nyanyian. Pemainnya boleh dua, tiga atau empat orang yang berdiri saling membelakangi satu sama lain.
Salah satu kaki para pemain disilang dan dikaitkan dengan pemain lain, sedang kaki yang lainnya melompat lompat sambil berputar- putar sembari menyanyi bersama. Yang membekas dibenak saya sekarang hanya plesetan lagunya untuk mengolok-olok seorang teman.
Tok tok pintu
anak nawa kombe
cucu cak rani belek.

Biasanya baru sampai di bait itu, teman yang diolok-olok itu sudah mengamuk, dan mengejar kami satu persatu, sambil mengepalkan tinjunya. Ya Toto nama teman kami itu, namun kami biasa memanggilnya Totok, panggilan yang kurang disukainya. Seantero sekolah dan kampung Toto terkenal sekali kenakalannya. Ia mudah naik pitam, pemarah, dan suka sekali berkelahi. Tinjunya selalu mengepal, wajahnya mengeras, matanya bulat dan memerah, alisnya naik turun, keningnya berkerut dan bibirnya yang tipis berobah meruncing menemani mulutnya bersungut-sungut. Saya takut sekali dengannya. Apabila berpapasan dengannya tak ada angin tak ada hujan dia selalu bilang "Kau den tenju" (kamu saya tinju) sambil mengepalkan dan memperagakan kepalan tinjunya yang kuat. Terkadang di dalam kelas saya tak sengaja bertemu pandang dengannya dan dia selalu bilang " A kau madok-madok!" (apa lihat-lihat!) sambil sedikit tengadah dan memperlihatkan wajahnya yang garang. Dia juga tidak pernah memanggil nama kecil saya dengan baik kecuali "Cibeek",(cibeek dibacanya sangat cepat).
Jangan ditanya prestasinya disekolah, entah berapa kali dia tinggal kelas sehingga akhirnya sama tamat SD dengan saya. Rengkingnya hampir selalu dapat nomor sepatu. Barangkali dia juga menderita disleksia, antara kelas 3 dan 4 dia masih belum lancar membaca.
Ketakutan saya padanya dimasa kecil tersebut bahkan masih membekas sampai saya dewasa. Pernah waktu saya kuliah bertemu dengannya di pasar Raya Padang, saya kaget sekali, jantung saya berdegup kencang dan saya sangat cemas dan ketakutan.
Namun, seolah tanpa dosa dia mengajak saya mampir untuk minum di sebuah kafe ditempat kami berpapasan. Saya menolak karena saya masih menyimpan rasa takut masa kecil saya padanya, padahal waktu itu dia sudah tidak galak lagi. Dia menyapa saya dengan sangat ramah dan penuh senyuman, seraya mengatakan bahwa dia baru saja pulang dari perantauan di negeri jiran Malaysia, namun waktu itu rasa takut dan was-was saya akan kena tinjunya tidak juga hilang.
Masa SMA dia lewati di sekolah 4 5, karena tidak diterima disekolah negeri manapun. Sekolah 4 5 yakni, sekolah yang masuknya jam 4 sore keluarnya jam 5 sore.
Anda tahu apa yang terjadi sekarang? Diantara teman-teman saya seangkatan dialah sekarang yang paling makmur. Dialah yang paling duluan pergi umrah ke tanah suci Mekah disusul tahun berikutnya naik haji bersama istri, ibu, dan ibu mertuanya. Subhanallah! Rumahnya mewah dan bagus, mobilnya mengkilat, usaha dagangnya maju pesat, ternak ayamnya berjumlah puluhan ribu, anak-anaknya sekolah ditempat bermutu berbiaya mahal, Masya Allah!
Teman saya yang lain Sunarto namanya. Dialah orangnya yang telinganya langsung merona merah tatkala dipanggil guru untuk membaca atau menjawab pertanyaan atau mengerjakan soal. Dengan suaranya yang parau ia berusaha menjawab sambil tergagap-gagap. Teman-teman biasanya spontan berkomentar "Sirah lei tu, sirah lei tu" (telinganya merah lagi).
Itu dulu saudara, sekarang saudara tahu bagaimana? "Oh, Sekarang dia sudah menjadi bos, toko grosiernya menyediakan segala kebutuhan sehari-hari. Kepulangannya dari pasar dinantikan ibu-ibu seantero kampung, setidaknya mencakup tiga buah desa. Dia tidak belanja kepasar dengan motor butut lagi, akan tetapi dengan mobil pick up mengkilat, Saudara. Warung papan reotnya telah menjelma menjadi toko mentereng. Pondok Mertua Indah sudah lama ditinggalkanya, karena ia sudah membangun rumah permanen di samping tokonya. Subhanallah!
Teman-teman masa kecil yang dekat dengan lingkungan saya itu memang belum sekaliber orang-orang terkenal seperti ; Purdi E. Chandra pendiri bimbingan belajar Primagama, yang DO kuliah di UGm, Hermawan Kertajaya, DO kuliah dari UTS, menjadi pakar markerting dunia dari Indonesia.Alim Markus yang membesarkan perusahaan Maspion group, yang hanya mengenyam sekolah sampai SMP kelas dua. Andrie Wongso motivator nomor 1 Indonesia yang tidak tamat SD. Roy Kroc pendiri Mc Donald Corporation yang berhenti sekolah di usia 14 tahun. Soichiro Honda, DO kuliah, pendiri perusahaan otomotif honda. Larry King, yang hanya tamat SMA menjadi raja talk show interview tingkat dunia.Bill Gates DO dari universitas Harvard. James Marcus Bach pernah DO dari sekolah , ia belajar secara otodidak dan menjadi manajer apple computer, pembicara dan pengajar dibidang pengujian perangkat lunak disejumlah laboratorium dan universitas top di berbagai negara. Dan banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.
Namun satu hal yang pasti adalah teman-teman saya itu (Toto dan Sunarto) telah sukses bukan karena sekolah tapi karena belajar.
Mereka mempunyai syarat-syarat sukses yang telah dipaparkan oleh Isa Alamsyah, yakni
  • mereka mempunyai kekuatan impian,
  • punya kekuatan yang kuat untuk mengubah nasib,
  • punya kamauan
  • punya keyakinan diri
  • punya daya juang yang kuat
  • punya antusiasme
  • siap bekerja keras
  • punya komitmen
  • siap berkorban
Mereka juga mempraktekkan pilar-pilar karakternya Ratna Megawangi, seperti; jujur dan amanah, kreatif, bekerja keras dan pantang menyerah.
Saudara, mana ungkapan berikut yang betul? Sekolah atau belajar? Sekolah untuk belajar? Belajar hanya di sekolah? Tidak sekolah tidak belajar?Tidak sekolah tidak bisa sukses?
Marilah kita lihat kondisi anak-anak pada umumnya di sekolah saat ini. Mereka bersorak riang apabila bel istirahat atau bel pulang berbunyi. Seolah-olah ruang kelas bagai sebuah penjara, begitu gembira dan leganya mendengar suara bel, yang berarti penyiksaan belajar telah berakhir.
Selama ini, barangkali, kesalahan besar tentang pandangan kita terhadap belajar adalah kita selalu mengidentikkan belajar dengan sekolah dan kuliah. Pandangan ini membuat kita menganggap orang yang sekolahnya tinggi maka pelajaran dan intelektualitasnya juga tinggi, sebaliknya kalau sekolahnya rendah maka pelajaran dan intelektualitasnya juga rendah.
Orang yang punya sudut pandang seperti ini sebenarnya tanpa sadar menghina nabi-nabi dan para pembangun peradaban manusia di masa lalu. Tokoh besar di masa lalu tidak kenal sekolah, bahkan merekalah yang mendirikan dan membangun sekolah. Banyak diantara tokoh besar dimasa lalu yang tidak bisa tulis baca.
Orang-orang sukses tidak tergantung hanya pada latar belakang pendidikan formal saja. Sekalipun mereka cuma luluan SD, atau sekalipun mereka tidak tamat sekolah tapi mereka mempunyai hak dan peluang yang sama untuk sukses. Karena sekolah dan belajar sesungguhnya bersifat universal, dan tidak kaku. Mereka tidak harus selalu dilaksanakan dalam sebuah gedung yang lengkap dengan meja dan kursi, serta murid yang berpakaian seragam dan guru yang berpakaian necis, lengkap dengan jam pelajaran yang rapi dan terstruktur. Namun, sekolah dan belajar bisa dilaksanakan kapan saja, dimana saja, dengan materi apa saja, dengan media apa saja dan dengan guru siapa saja. Wallahu a'lam bisshowaab.

Tanah Mati, 4 November 2011
`
cttn : selanjutnya baca my journal tentang " The Real Succes" or "Kesuksesan Hakiki"

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...