Tuesday, 29 October 2013

BELAJAR TEGA


“ Sini!, sini ibu bawakan, tas ini telalu berat bagimu!”, kata Bu Dewi pada putranya yang berumur enam tahun yang bersekolah disebuah TK . Sang putra ingin berusaha membawa sendiri tas sekolahnya yang isinya cuma air minum bekal makanan, dan sekotak krayon. Sebelum berangkat sekolah juga begitu. Bu Dewi membantu semua pekerjaaan yang semestinya sudah bisa dilakukan oleh anaknya seperti menyuapi makan, memakaikan pakaian, dan memasang sepatu, dengan alasan agar bisa segera beres dan rapi.

Lain lagi ceritanya dengan Bu Tita yang berteriak teriak pada putrinya yang berumur 9 tahun. “Eeeee....eeee.....jangan! jangan! Nanti kena api! Awas kena minyak panas!”. Ketika itu putrinya ingin menggoreng telur ceplok sendiri untuk menu makan siangnya.
Bunda, memberi kesempatan dan menyediakan ruang bagi anak untuk mencoba dan mempraktekkan keterampilan hidup adalah sebuah keniscayaan karena anak tidak akan selamanya ada bersama kita, orang tuanya. Ada sebuah kata-kata bijak yang pantas kita cermati, “Janganlah kamu memanjakan anak hari ini, untuk menyiksa dan memenjarakannya dikemudian hari”.
Selanjutnya Bunda, ada beberapa penyakit orang tua dalam membesarkan anak yang selayaknya kita waspadai; Pertama, rasa unsecure yakni rasa takut kehilangan anak. Ini biasanya diidap oleh orang tua yang lama baru memperoleh anak. Proteksi untuk anak betul-betul tinggi, sehingga segala sesuatu harus diadakan dan harus dilayani. Kedua, merasa bersalah; ini biasanya diidap oleh orang tua yang setiap hari sibuk bekerja dan tidak punya waktu untuk anak. Apapun yang diminta anak orang tua akan selalu menuruti, untuk mengobati rasa bersalahnya karena telah meninggalkan anak dalam waktu yang lama. Ketiga, pengalaman masa kecil/ balas dendam masa kecil; misalnya dimasa kecil hidup penuh penderitaan atau berada dalam kondisi kemiskinan. Orang tua dulu tidak bisa memberikan apa yang diiinginkan, maka ketika sudah menjadi orang tua cendrung mengikuti atau menuruti keinginan anak, walau terkadang permintaaan anak belum sesuai dengan kebutuhan dan umurnya.
 Nah Bunda, untuk melatih kemandirian anak dirumah, orang tua perlu melakukan beberapa hal;
ü  Mendesain rumah untuk anak, misalnya untuk tempat gantungan baju, atau tempat sabun dikamar mandi, tempat gelas dan air minum dibuat yang sesuai dengan jangkauan anak, agar ia bisa melakukannya sendiri.
ü  Membuat aturan bersama anak dengan cara membuat kesepakatan bersama, sehingga aturan yang telah dibuat tidak ditolak anak. No excuse untuk atuaran yang telah dibuat bersama.
ü  Konsisten dalam menjalankan aturan, tidak mudah tergoda dan merasa kasihan.
ü  Memberitahukan “ resiko” kepada anak; misalnya untuk pekerjaan di dapur, resikonya adalah terkena minyak panas, kena api, atau luka karena pisau. Beritahukan cara mengatasinya, misalnya
kalau kena minyak panas; 
  •          jangan berteriak, jangan panik,
  •         segera matikan kompor,
  •          ambil salep/madu- (sediakan di dapur ditempat yang mudah dijangkau)
    kalau mencuci piring, resikonya adalah pecah. Kalau ada piring atau gelas
    yang pecah, maka
* jangan berteriak, jangan panik dan jangan dimarahi
* ambil sandal
* ambil sapu
* kumpulkan pecahannya, buang di tempatnya
* ambil lap basah, dilap
*buang semua lapnya.
ü  Memberikan tanggung jawab sesuai tingkat umurnya; misalnya untuk anak umur 2 tahun membereskan mainannya, atau untuk anak yang lebih besar beri tugas seperti panglima kebersihan, manager taman, manager laundry dan sebagainya.
ü  Memotivasi anak, bahwa pekerjaan atau kegiatan atau tanggung jawab yang diberikan padanya adalah untuk dirinya sendiri kelak, dan bialng padanya bahwa “tidak selamanya ibu ada bersama kamu.”
Bunda yang budiman, berikut ini adalah tolok ukur kemandirian anak;
·         Untuk anak berumur 0-2 tahun : senso motorik , untuk semua pekerjaan dibantu adalah wajar
·         1-3 tahun : mengontrol diri sendiri, seperti toilet trainning
·         3-5 tahun : menunjukkan inisiatif untuk melakukan sendiri, terutama untuk kebutuhan diri sendiri
·         5 tahun keatas : sudah boleh untuk hal-hal berisiko seperti memegang gunting
-Melatih mencuci; meskipun anak laki-laki, misalkan 1 kali seminggu mencuci   lap, atau membersihkan kamar mandi
-Melatih membuat mainan sendiri
-Melatih berbagi, misalnya ilmu akan bermanfaat kalau dibagi ke banyak  orang, seperti berbagi cara membuat robot, atau berbagi ilmu untuk tamu dengan membantu ibu membuatkan teh
Ada beberapa tahapan untuk membuat anak mandiri, Bunda!
Ø  Awali dengan keterampilan mengurus diri sendiri seperti, makan sendiri, menggosok gigi sendiri dst
Ø  Beri anak waktu untuk bermain bebas; tidak dipandu terus menerus
Ø  Beri anak tugas dirumah seperti, menyiram tanaman, membuang sampah, menyapu, mencuci piring dst. Buatlah isi rumah mnejadi sebuah team, sehingga ibu adalah seorang manager—bukan seorang pembantu yang mengerjakan segalanya.
Ø  Biarkan anak mengurus waktu sendiri untuk urusan sekolah dan main.
Ø  Anak diberi tanggung jawab dan minta pertanggung jawabannya.
Ø  Kondisi badan anak mesti fit, imbangi dengan olah raga dan kegiatan di alam terbuka
Ø  Izinkan anak untuk menentukan tujuannya sendiri
Ø  Ingat! Anda tidak akan selamanya bersama mereka.
     Bunda, sebagai guide-line dan tambahan motivasi dalam menerapkan kemandirian ibu dan anak buatlah tabel perubahan kemandirian ibu dan anak perpekan. Selanjutnya silakan buat juga tabel perolehan bintang perbulan atau perpekan untuk pembiasaan hal-hal positif di rumah. Terakhir jangan lupa tentukan juga reward yang bisa diperoleh. Semoga bermanfaat! (Disarikan secara bebas dari kuliah rutin on-line Ibu Profesional-“Melatih Kemandirian Anak”)

                                   

1 comment:

  1. Mantap uni Betty, artikelnya bagus dan kayaknya harus segera diterapkan di rumah. O iya, sy tertarik juga ut ikutan kuliah online IIP, carax gmn yaa uni.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...