Thursday, 27 November 2014

KISAH RAMADHAN TANPA 'R'

   Ada tantangan menulis dari Isa Alamsyah tanpa mengikutsertakan huruf “R”. Sembari berlatih menulis dan memperkaya kosakata kutulis kisah ini, dan…… inilah kisahnya…


“KISAH RAMADHAN TANPA ‘R”

Yaa ayyuhalladzina amanu kutiba ‘alaikumushshiyamu kama kutiba ‘alalladzina minqqob likum la’allakum tattaquun
Bulan suci sudah diambang pintu. Kita mesti siap-siap supaya tak ada penyesalan kelak setelah ia lewat tak diisi dengan amalan yang maksimal. Kegiatan home team kita dimulai dengan menyusun agenda-agenda ibadah, mendiskusikan, menulis dan menempelnya di dinding.
O ya sebelum bulan puasa menjelang, tim kita sudah sepakat bahwa tak ada kegiatan balimau ke tempat-tempat pemandian umum umpamanya ke Batang Tabit, Ngalau, Harau, Atlantika ataupun sungai dan danau sebab balimau sejatinya bukan dilakukan di tempat-tempat umum yang menggabung laki-laki dan wanita, anak-anak dan dewasa menjadi satu. Akan tetapi balimau dilakukan dengan niat mensucikan badan dan hati menyambut bulan ampunan ini dilakukan di kediaman kita saja. Alhamdulillah anak-anak sudah paham hal ini.
Kini bulan shiyam betul-betul sudah datang. Selalu ada kisah istimewa anak-anak yang tak boleh luput pencatatan tentang bulan penuh kemenangan ini.
Di bulan suci ini balapan tilawah dengan anak-anak sungguh sesuatu sekali. Momen ini membawaku kilas balik ke masa silam saat kuliah dulu. Betapa dengan teman-teman akhowat sewisma saling lomba meningkatkan tilawah. Dahulu-mendahului,  tak boleh ada waktu luang pupus sia-sia. Subhanallah indah dan syahdunya suasana itu.
Segala puji hanya bagi Allah, momen itu seakan tiba dihadapanku lagi, dulu dengan teman-teman, kini dengan anak-anak, buah hatiku, buah cintaku.
Setiap ba’da sholat wajib sulungku selalu mengambil mushaf dan melanjutkan tilawahnya. Ia juga tahan begadang  sampai jam dua malam untuk tilawah,begitu juga ba’da subuh, ia tahan mengaji sampai waktu dhuha.Tak sama dengan emaknya yang selalu kalah melawan kantuk, hiks….Akibatnya sang emak sudah dikalahkannya pada yaum ke empat. “ Ummi sudah juz be*apa?” begitu dia  be*tanya ba’da tilwahnya. Ummi menjawab “juz sekian” . “Hah ????Ummi kalah, hua ha ha……hua ha ha,” begitu tawanya berderai penuh kemenangan. Ummi tersenyum malu. Nun jauh dilubuk hati ada selipan bangga, anakku bisa mengungguli aku (#Emakselaluketinggalan)
Semenjak itu, setiap selesai tilawah soal yang sama selalu diajukannya padaku. Aku tak dapat lagi mendahuluinya.Ya, Sulungku sudah pilih amalan unggulannya, dan dia sungguh-sungguh dengan pilihannya itu.
Ketika kita punya kegiatan lain yang mesti ditunaikan, anak-anak pasti minta pulang lebih cepat, sebab takut ketinggalan tilawahnya. “Ayo pulang cepat Mi, tilawahku belum tuntas nih!’ begitu ia mendesakkku. Ia juga selalu siap menjadi Bibi Titelitiku, penjaga waktuku.
Amalan-amalan lain yang sudah biasa dilakukannya, Alhamdulillah juga masih tetap tekun ia laksanakan, seumpama lail dan penutupnya, sedekah, menyimak dan mencatat kuliah ustadz setiap malam, kegiatan tahfiz dan nge-MC di masjid.
                                                 (to be continued)
                                            Tanah Mati ,Juli 2014                                                                                                                                                                                                                                                                      

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...