Saturday, 31 January 2015

HARI-HARI TANPA AYAH DAN UMMI

“ Mereka semua tidak ada menyusahkan kami. Mereka bisa mengurus diri mereka sendiri. Kami tetap bekerja seperti biasa setiap hari. Kami pergi ba’da subuh dan pulang hampir menjelang maghrib. Kami menemani mereka malam hari saja. Uni Aisyah (12 th) dan kak Fathimah (10 th) bisa mengurus adik bungsu mereka Abdurrohiim (4 th).Mereka juga mampu melatih kemandirian Abdurrohiim. Mereka bertiga juga bisa bekerjasama dengan baik ” Begitulah yang dibilang Atuk dan Nenek kepada teman-teman Ummi. Nenek dan Atuk tidak cerita ke Ummi (biasalah orang tua dulu memang susah untuk sekedar mengangkat jempol yach, tapi syukurlah mereka masih mengakui dibelakang layar he he.)

Tuesday, 20 January 2015

PETUALANGAN @ GUNUNG BUNGSU

Sahabat,...Petualangan kali ini adalah bersama Shohibul Hidayah Club. Shohibul Hidayah adalah teman-teman Aisyah Fathimah di Masjid Alhidayah Tanah Mati Simpang Kuranji Lima Puluh Kota. Anggota solidnya ada 7 orang, gadis cilik semua, Aisyah, Fathimah, Anyla, Gina, Najmi, Rani dan Salwa. Mereka semua anak sekolahan kecuali Aisyah dan Fathimah. Di club inilah duo AiFa belajar menjadi EO (Event Organizer).Merencanakan dan mengadakan berbagai project. Mengadakan meeting, memilih pimpro,berbagi tugas,dan menentukan penanggung jawab financial. Seringkali meeting mereka gelar di masjid Al Hidayah ba'da shalat maghrib. "Aisyah, dek yuk pulang,"kata Ummi. "Ummi duluan aja kami mau meeting dulu,"begitu biasanya jawab mereka kala ummi ajak pulang ba'da maghrib.
     Aneka kegiatan mereka gelar, diantaranya hiking, jogging,cycling,cooking

Thursday, 15 January 2015

PETUALANGAN @ AIA TAJUN LUBUAK BATU BULAN

     Masih meragukan pergaulan anak HS? Masih sangsi dengan sosialisasinya? 
Mari simak kisah seru petualangan Aisyah gadis praremaja ummi hari Ahad tanggal  7 Desember 2014 yang lalu. Aisyah  ikut berpetualang bersama pramuka/kepanduan remaja-dewasa. Santika namanya. Ummi menyaksikan sendiri interaksi Aisyah (12 yo) dengan para santikas yang melebur tanpa rasa canggung, padahal perbedaan usia begitu signifikan lho. Kalau tinggi badan sih, Aisyah emang bisa bersaing, apalagi kalau penampakan dari belakang seperti seumuran aja.

Monday, 12 January 2015

TEGURAN

Kenapa tulisan ummi ngga dipublikasikan?” Tulisan ummi kan banyak?(( ceile banyak? Ngga keles,…eh yang penting kan dah lebih dari dua, itu artinya dah banyak, qi qi qi)). “Ummi malu,” jawab ummi. “Malu???” kata anak-anak serempak. “Kan sayang ummi, tulisan ummi tidak bermanfaat buat orang lain, blog ummi sepi pengunjung”, kata Aisyah. “ Iya ummi malu blog ummi jadul, kurang menarik, belum dot com dibelakangnya.” kilah ummi. “Wah ummi minder ya,” kata Fathimah menegur ummi lebih lanjut. “Mi ada teman kami yang punya tulisan di blognya baru dua, baru dua mi,” kata mereka menguatkan, “tapi dengan sangat PD dia memuat dan mempublikasikan tulisannya di semua sosmed.” Sang Ummi serasa bukan ditegur tapi malah serasa

Thursday, 8 January 2015

FOBANS = FOUR BANANAS

        

            Ayah membawa oleh-oleh dua tandan pisang dari rumah nenek. Setelah dibagi-bagi masih tersisa  tiga sisir pisang. Satu sisir pisang berpangkat paling tinggi alias pisang rajo, dan dua sisir pisang  paling sonang alias pisang buai (mirip pisang ambon).

            Sudah dua hari sang pisang rindu pemangsa, namuan tak ada yang menyentuh bahkan meliriknya.

Naaaah!!!! Setelah diolah menjadi 4 ragam masakan, dalam waktu  beberapa jenak saja langsung ludes tuch pisang

·        banana bread

·        fried banana with cheese n cocholate

·        banana doughnut

·        banana lompom si godok pisang


Saturday, 3 January 2015

PETUALANGAN @ Mr. GOOD HILL

Efek liburan anak sekolahan sampai ke emak nih. Ada waktu untuk ngumpulin berkas-berkas yang tercecer, bahan-bahan portofolio yang belum kunjung tersusun rapi. So, dicicil dulu ya...

EMAK KETINGGALAN



     Subhanallah, great!! ternyata tak perlu menunggu lama putriku Aisyah (11th) melahap juga buku-buku fiqh yang sedang kubaca, karena naruhnya di tempat yang mudah diraih (alias disembarang tempat he he)

Thursday, 1 January 2015

FESPER



SEMANGAT FESPER SEPANJANG TAHUN

Alasan ikut FESPER (08-01-2014)

Momen istimewa ini sudah kami tunggu lebih dari setahun yang lalu. Ada keinginan yang kuat untuk ikut FESPER pertama di Yogyakarta, namun kondisi finansial belum memungkinkan saat itu, mengingat tempatnya nun jauh di seberang pulau.  Semenjak itu kami memasang niat dan tekad untuk bisa ikut FESPER kedua. Untuk itu kami masing-masing anggota keluarga membuat celengan yang bertuliskan FESPER dengan tulisan gede.

EMAK SELALU KETINGGALAN



Percepatan belajar anak-anak sungguh mencengangkan. Mereka melesat begitu cepat, jauh dari perkiraan emak. Emak tertatih-tatih mengiringi dari belakang. Emak selalu ketinggalan…
Emak senang sekali mengungkit memori lamanya, membandingkan dengan dirinya dulu (produk sekolah memang suka membandingkan yach, emak produk rengking nih) Emak baru bisa begini setelah umur segini, Emak baru bisa begono setelah umur sekian, dst.
Alhamdulillah terima kasih ya Allah atas segala ni’mat yang Engkau anugrahkan ini.

Tanah Mati, 1 Juli 2014

MENIKAH



CONTEXT BASED LEARNING (1)

Diskusi kami siang itu, mengalir begitu saja tanpa perencanaan tema. Anak-anak yang mulai.

Aisyah : Ummi dulu menikah umur berapa?

Ummi   : Umur 27 tahun, ummi sudah terlambat menikah

Aisyah : Kalau ayah?

Ayah    : umur 31 tahun, ayah juga sudah terlambat

Aisyah: Aisyah ingin menikah nanti setelah tamat S2 tapi dibawah umur 25 tahun, antara 22/23 tahun an

Fathimah: Dedek ingin menikah umur 20 tahun, tapi setelah dedek kaya dan punya usaha sendiri

Ummi : Hah???? berarti 10 tahun lagi dek?

Ummi dan ayah jadi senewen, siap ga’ ya punya menantu? Adakah yang salah dengan tema itu? Kok mereka memikirkannya terlalu cepat ya? Padahal baligh aja belum. Bingung nih menyikapinya.
Tapi dulu ummi pernah  mendengar pelajaran di LIPIA bahwa anak yang paham agama akan menikah lebih cepat (ngarep ini kebenaran)

Pembicaraan berlanjut,

Aisyah :  Aisyah nanti ingin kuliah S1 di UI

Fathimah: Kalau dedek ingin kuliah di Jepang

Tema kuliah sih masih biasa, tapi tema menikah, ‘ajiib !!!!


Tanah mati, 3 Juli 2014

AT THE KITCHEN



CONTEXT BASED LEARNING (#3)

                                               @the kitchen

     Menu kami hari ini adalah balado telur plus kentang. Seperti biasa kami memasak bersama di dapur. Sambil mengupas telur, anak-anak bergantian presentasi tentang hewan-hewan yang  berkembang biak dengan bertelur, mulai dari bangsa unggas sampai ke kura-kura+penyu yang bertelur banyak bahkan sampai ratusan. Tapi yang berhasil jadi kura-kura + penyu hanya beberapa ekor saja. Cerita berlanjut ke mutasi penyu yang bahkan sampai lintas samudra dan benua. Dan kalau mau bertelur mereka akan kembali lagi ke tempat dimana menetas dulu. Pelajaran berakhir dengan pertanyaan pamungkas ke mbah google……

     Yang belajar ternyata bukan anak-anak pada emak, akan tetapi emak pada anak, sebab yang menerangkan dan mengetahui pertama adalah anak, dan emak yg mendengar penjelasan anak, sambil sesekali emak mengajukan pertanyaan “real” bukan menguji tapi karena asli tidak mengetahui.

     Thus, fokus pendidikan homeschooling adalah menghadirkan pengalaman belajar anak, bukan kemampuan kita sebagai orang tua untuk mengajar. Kata KUNCInya adalah BELAJAR bukan MENGAJAR. 


Tanah Mati, 31 Mei 2014

PASAR TRADISIONAL



CONTEXT BASED LEARNING (2)

                                            @ Pasar Tradisional

    Pelajaran Aisyah Fathimah hari Sabtu ini adalah belanja kebutuhan seminggu kedepan di Poken Sotu-Pasar tradisional Dangung-dangung. Ummi ga bisa nemanin karena ada kegiatan lain. AiFa diantar ayah naik motor, karena walaupun Aisyah sudah bisa mengendarai motor tapi belum cukup umur dan belum punya SIM. Ayah menunggu di parkiran sementara AiFa belanja beli lauk, sayuran, cabe dll.

  Alhamdulillah semua yang dibeli sesuai dengan pesanan. Beli daging dikasih daging has dan tidak dicampur dengan yang lain (padahal kalau ummi yang beli penjual tetap mencampur dengan lemak-lemak yang ga dibutuhkan). Ketika beli kentang dan cabe juga dikasih murah sama penjual. Penjual bilang,”Untuk anak-anak yang sudah pintar belanja dikasih murah, cukup <…….>saja sekilo.     ((Alhamdulillah penjualnya pengertian bahwa anak-anak butuh penguatan agar  rasa percaya dirinya meningkat)). Beli sayur mayur Alhamdulillah juga sukses.

Belanja di pasar tanpa ditemani ummi adalah prestasi sekali buat anak-anak. Secara, ummi dulu baru bisa belanja ke pasar sendiri setelah menikah lho(telat banget yach). Itupun dengan rasa deg-degan yang luar biasa. Alasannya karena nenek dulu punya warung kelontong, beliau ke pasar hampir tiap hari,so sementara nenek ke pasar ummi nungguin warung deh.



                                                                                                                          Tanah Mati, 30 Mei 2014
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...