Saturday, 31 January 2015

HARI-HARI TANPA AYAH DAN UMMI

“ Mereka semua tidak ada menyusahkan kami. Mereka bisa mengurus diri mereka sendiri. Kami tetap bekerja seperti biasa setiap hari. Kami pergi ba’da subuh dan pulang hampir menjelang maghrib. Kami menemani mereka malam hari saja. Uni Aisyah (12 th) dan kak Fathimah (10 th) bisa mengurus adik bungsu mereka Abdurrohiim (4 th).Mereka juga mampu melatih kemandirian Abdurrohiim. Mereka bertiga juga bisa bekerjasama dengan baik ” Begitulah yang dibilang Atuk dan Nenek kepada teman-teman Ummi. Nenek dan Atuk tidak cerita ke Ummi (biasalah orang tua dulu memang susah untuk sekedar mengangkat jempol yach, tapi syukurlah mereka masih mengakui dibelakang layar he he.)

     Alhamdulillah, Ayah dan Ummi petik juga buah kemandirian yang telah ditanam penuh kesungguhan (ce ile sok merasa berjasa, padahal emang anak-anak lho yang sangat pengertian). Terdasar firman Allah dalam QS 17:24 bahwa ummi tak dapat berharap banyak pada anak-anak, bila ummi tidak mendidik anak-anak sebagaimana mestinya“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “ Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”
     Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar anak-anak bisa bertanggung jawab? Yang jelas jawabannya bukanlah “SEBENTAR”. Ummi membutuhkan waktu dalam bilangan tahun agar anak-anak bisa bertanggung jawab mengerjakan hal-hal yang sudah menjadi pilihannya.
     Lebih kurang 4 tahun yang lalu kami (ummi, Aisyah dan Fathimah) membuat fakta kesepakatan (Memorandum of Understanding). Melalui diskusi, kami membuat list, pekerjaan rumah yang mesti dikerjakan.

 - Memasak
 - Mencuci Piring
 - Mencuci pakaian
 - Mengangkat Jemuran
 - Melipat Pakaian
 - Menyetrika
 - Menyapu Rumah
 - Mengepel
 - Menyapu Halaman
 - Menjaga Adik Dll

    Dengan penuh perjuangan Ummi (pribadi) selalu berperang melawan penyakit emosi  akut Ummi agar tidak kambuh. Penyakit yang kata orang Minang disebut 4 P  (Pamberang, Parabo, Paibo, jo Panangih). Menahan emosi yang sering meledak-ledak agar tidak tumpah ruah, merupakan sensasi tersendiri, dimana dengan hanya menahan emosi saja surga bisa diperoleh. La taghdhab walakal jannah; jangan marah dan bagimu surga (HR Bukhari Muslim).      Ummi mempersilakan anak-anak memilih pekerjaan yang mereka sukai, dan akan dikerjakan setiap hari dengan sukarela dan penuh tanggung jawab. Waktu itu Aisyah memilih untuk mencuci piring, dan Fathimah memilih untuk menyapu dan beres-beres. Kami menuliskannya disebuah kertas, dan menempelnya di dinding.
    Ummi juga berlatih keras mempertahankan rasa tega. Tega melihat tumpukan piring kotor yang belum juga dicuci. Menahan diri untuk tidak mengerjakannnya saja sendiri, walaupun itu sangat memungkinkan.Tega melihat rumah yang belum juga dibersihkan. Berjuang sabar menunggu sang penanggung jawab beraksi mengerjakan tugasnya. Ummi mesti selalu ingat untuk senantiasa memberi kesempatan dan menyediakan ruang bagi anak-anak untuk mencoba dan mempraktekkan keterampilan hidup, karena itu adalah sebuah keniscayaan tersebab anak tidak akan selamanya ada bersama ummi dan ayah. Ada sebuah kata-kata bijak yang membuat ummi selalu berusaha mempertahan rasa tega, “Janganlah kamu memanjakan anak hari ini, untuk menyiksa dan memenjarakannya dikemudian hari”.
      Begitu juga dengan Aisyah dan Fathimah, jatuh bangun melawan rasa malas dan penyakit menunda-nunda. Berusaha mengalahkan ego kala waktu bertanggung jawab bertabrakan dengan keinginan untuk bermain atau kesenangan yang lain.
       Finally, Alhamdulillah rasa bertanggung jawab dan konsistensi mereka patut mendapat acungan jempol. Mereka sudah melakukan pekerjaan tersebut dengan senang hati, tidak mengomel dan insyaAllah ikhlas. Bahkan mereka akan merasa bersalah dan kadang merasa tersinggung  kala pekerjaan tersebut  diambil alih oleh Ummi.
      Selanjutnya tanggung jawabpun bertambah, kami (Ummi, Aisyah,Fathimah) bergantian secara bulanan menjabat sebagai manager keuangan keluarga, memperhitungkan uang masuk dan keluar dalam keluarga, menimbang kebutuhan wajib, sunat dan mubah, serta mencatatnya dalam buku keuangan. Alhamdulillah anak-anak belajar buanyak hal dengan jabatan ini, ikut memikirkan bagaimana bisa meningkatkan pemasukan, menghemat pengeluaran, mengalokasikan dana ZIS (zakat infak sedekah), serta menyediakan dana untuk tabungan, dan lain-lain. Anak-anak bahkan sering menegur ummi yang kebablasan, hiks.
        Kewajiban belanja kebutuhan sehari-hari juga bukan hanya tanggung jawab ummi, tapi anak-anak juga mendapat giliran. Mencatat list belanja kemudian belanja ke supermarket atau ke pasar tradisonal atau hanya ke warung dekat rumah.
        Belakangan memasak juga bergiliran (dasar ummi mau cari enak yach, xixixi) . Melalui meeting jadwal disepakati, ditulis dan ditempel didinding. Tak ketinggalan bahkan Ayah dan Abdurrohiim juga dapat jatah gilir.
       Kemandirian dan tanggung jawab belajar anak-anak yang berhubungan dengan kognitif juga telah beroleh porsi. Mereka bisa belajar dengan tulus ikhlas tanpa disuruh dan diperintah. Menyusun sendiri menu pelajaran wajib dan pelajaran pilihan, selanjutnya mengevaluasi di tabel bintang yang juga sudah disusunnya perbulan. Mereka bisa aware dengan jadwal kursus dan minta tolong Atuk untuk mengantar, Alhamdulillah.
       Yang tak kalah penting adalah tanggung jawab pada sang Khalik. Lagi-lagi melaksanakan ibadah mahdhoh dan ghairu mahdhoh, seperti shalat, tilawah Alqur’an, murojaah hafalan dan seterusnya, dengan penuh kesungguhan, insyaAllah. Tak berharap teguran karena memang tak ada yang akan menegur kala ayah ummi tak ada.
       Demikian, persiapan 40 hari meninggalkan anak-anak demi memenuhi undangan Allah ke tanah suci, sungguh merupakan perjuangan yang panjang. Salah satu syarat jatuh wajibnya menunaikan ibadah haji adalah mukallaf, mampu dari segi moril, materil, jasmani, rohani, kesehatan, keilmuan, dan bagi ummi ditambah mampu meninggalkan anak-anak dan anak-anak mampu ditinggalkan.
       Mampu memberikan kepercayaan penuh pada anak-anak untuk melakukan semua hal selama ditinggalkan sungguh merupakan perjuangan yang lain.Mempertebal rasa TEGA menjadi berlipat-lipat, dan terakhir menggantungkan semua urusan pada yang Maha Menggenggam urusan dan bertawakkal penuh padaNya.
Wallahua’lam.
                                                              Tanah Mati, 31 Januari 2015



2 comments:

  1. Subahanallah sekali perjuangannya ya ummi Betty, terharu bacanya dan jadi kepengen belajar banyak sama ummi betty nii...

    ReplyDelete
  2. Makasih udah mampir, yuuk mari sama sama belajar

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...