Sunday, 15 March 2015

DATUK UJAN DAN AYAT ANEH

Hujan turun sangat deras sore itu. Kala magrib menjelangpun awan masih menyisakan rintik-rintik, sehingga hawa senja terasa cukup dingin. Mungkin itu sebab tak seberapa teman-teman ngaji masa kecilku yang hadir di mushalla. Lima orang guru ngaji kami juga tak ada yang datang.
Azan Magrib telah dikumandangkan salah seorang temanku. “Siapa yang jadi imam ya?” batinku. Untunglah ada Datuk Ujan, seorang kakek berumur sekitar 80 tahunan, yang baru pulang dari Dumai. Walaupun kelihatan sedikit bungkuk tapi beliau terbilang cukup sehat dan kuat . Beliau maju dan bertindak menjadi imam shalat Magrib.

 Lantunan surat Alfatihah mengalir dengan irama yang khas. Alunan suara tua beliau menandakan gigi beliau sudah ompong. Setelah koor amiin dari makmum laki-laki, lanjut ke bacaan surat pendek. Tapi kok aneh ya? Datuk Ujan membaca ayat yang aneh. Tak pernah selama ini imam  dan guru ngajiku membaca ayat aneh seperti itu. Namun aku tahu kalau beliau masih membaca ayat Alqur’an. Itu kan ayat yang aku baca waktu pertama kali naik tingkat ngaji dari juz amma ke Alqur’an.(Dulu belum ada metode baca qur’an Iqro’, kami ngaji dengan metode lama yang dieja dan dinyanyikan). Ya, beliau membaca surat Albaqoroh mulai dari ayat 1 sampai sekian aku lupa. Sampai shalat magrib selesai, aku bingung dan bertanya-tanya dalam hati sendiri. Apakah sah shalat ini,  karena datuk Ujan tak membaca ayat pendek seperti imam-imam yang lain.
Konon pertanyaanku ini--waktu itu aku masih duduk antara kelas dua atau kelas tiga SD (lupa)-- baru terjawab ketika aku sudah kelas 2 SMA, kala sudah menjadi santri kalong di pesantren Hidayatullah Kuranji. Para ustadz di Hidayatullah sering membaca surat lain, selain surat-surat pendek.
Apakah teman-teman pernah mengalami hal serupa yang kualami masa kecil itu?Pernah merasa imam membaca ayat yang aneh? Semoga saja tidak ya?. Betapa memalukannya, hiks. 
Btw, Apakah teman-teman pernah menghafal surat pendek mulai dari surat An Nas sampai surat Adh Dhuha? Aku tidak pernah menghafalnya, lho. Tapi aku betul-betul hafal surat-surat tersebut. Aku hafal hanya karena imam sering membaca surat-surat itu. Saban hari, saban minggu, saban bulan bahkan bertahun-tahun semenjak aku belum sekolah-- rajin ikut mama ke mushalla-- sampai aku remaja imam selalu membaca antara surat An Nas sampai surat Ad dhuha saja. Kalau imam salah membaca, maka hafalanku juga akan ikut salah. Ternyata memang kemudian diketahui bacaanku masih banyak yang salah, walaupun pernah beberapa kali juara MTQ, hiks. (ehem, tingkat apa dulu...)
Namun demikian, jasa guru ngaji masa kecilku itu tak kan pernah pupus . Mereka yang telah mengajariku bertahun-tahun, mulai dari alif, ba, ta sampai kajiku lancar, bertajwid,berirama bahkan khatam. Semoga Allah membalas mereka dengan kebaikan yang berlipat ganda, serta beroleh jannahNya yang penuh dengan kenikmatan tiada tara, amiin.
So, kapan aku memperbaiki bacaan? Kala telah tamat S1. Ketika ikut Dauroh Qur’an yang diadakan Khairu Ummah yang dibiayai oleh WAMY (World Assembly for Moslem Youth) dengan instruktur para ustadz dari Ma’had Alhikmah Jakarta di Kayu Tanam Sumatera Barat tahun 1999. MaasyaAllah terlambat sekali ya? Anyway, Alhamdulillah wasyukrulillah Allah Ta'ala kasih aku jalan untuk belajar, yang kelak menjadi titik balik nyanyian kehidupanku.
Salah satu Fadho'il Qur'an adalah bahwa Ahlul Qur'an adalah yang paling berhak menjadi imam dalam sholat. Rasulullah saw. bersabda "Yang berhak menjadi imam adalah yang paling banyak interaksinya dengan Alqur'an." (HR Muslim). 
Rekomendasi yang diberikan Rasulullah saw. ini bukan hanya semata-mata penghargaan terhadap ahlul qur'an, namun juga menunjukkan peran yang harus diunggulkan dalam masyarakat, yakni pembelajaran dan pembinaan. Pelaksanaan shalat berjamaah di masjid secara rutin merupakan pembinaan yang sangat efektif bagi ummat. Tentu saja harus didukung dengan imam yang berkualitas sesuai dengan rekomendasi Rasulullah saw.
Sayang, kondisi masyarakat masih jauh dari standar yang ditentukan Rasulullah. Terbukti surat yang dibaca imam disebagian besar masjid  masih seputar surat pendek. Kalau ada imam yang sering membaca surat yang lebih panjang maka masuk request ke pengurus masjid agar imam X jangan dibiarkan jadi imam (ini di tempat saya lho, mudah-mudahan tidak terjadi di tempat teman-teman yach). Dalil yang dipakai adalah bahwa, "Imam harus tau keadaan ma'mum, ada ma'mum yang tua, lemah, atau anak-anak". Apakah sepanjang tahun mesti begitu? (nanya ulama). Kalau begitu terus kapan pembelajaran dan pembinaan akan berlangsung?
Sungguh, kondisi seperti itu akan mengakibatkan kerugian bagi ummat. Ummat menjadi asing dengan ayat-ayat alqur'an, karena bertahun-tahun hanya mendengar ayat atau surat tertentu saja. Tentu ini akan berdampak kepada sulitnya membaca dan menghafal Alqur'an. Apatah lagi untuk merasakan ruh dari ayat Qur'an yang dibaca, sulit memahami mana yang bermaksud ancaman, himbauan,perintah atau larangan. Peran Alqur'an sebagai pedoman hidup yang mencakup segala aspek kehidupan seperti yang mengatur rumah tangga, ekonomi, manajemen, politik, bernegara dan seterusnya, tidak tersampaikan secara optimal.
So, how?Mari ajak diri dan keluarga untuk terus belajar Qur'an serta selalu berinteraksi intens dengan Alqur'an. Ibda' binafsi. Allahua'lam bishhowaab.


                                         Tanah Mati, 15 Maret 2015



1 comment:

  1. Aamiin YRA...
    Subhanallah..teringat masa kecil yg bahagia, surau adalah rumah ke dua..tetingat bapak2 dan datuk2...semoga beliau2 ditempatkan ditempat yg indah yg Allah janjikan..semoga bermunculan penerusmu..Aamiin

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...