Friday, 6 March 2015

DREAM COMES TRUE : Steps to Bunda Sholihah


#Bunda Produktif
Saudaraku, inilah seuntai catatan sebelum  perjalanan ruhiah ke tanah suci, nan syahdu dan mengharu biru. Kuberharap bisa berbagi manfaat meski dengan segala kedhoifan diri.Betapa sangat  terasa Allah begitu dekat, pertolongan-Nya begitu nyata, tarbiah dan hikmah-Nya langsung terasa tanpa perantara. Telunjuk langsung di hadapkan ke diri, betapa tak boleh ada jenak yang terbuang sia-sia di setiap nafas yang hela menghela.
Salah satu pelajaran di kuliah Bunda Cekatan Ibu Profesional adalah“Meraih Mimpi Menata Masa Depan”. Bahwa kita perlu mempunyai mimpi, karena mimpi adalah cita-cita yang diberi tanggal dan tenggat waktu untuk diwujudkan.
Dulu, tahun 2005, pernah kutulis mimpi-mimpiku dibuku diary. Diantara deretan mimpi itu, salah satunya adalah menunaikan ibadah haji. Ya, kutulis bahwa aku harus naik haji maksimal diumur 40 tahun, yakni dalam rentang usia dimana kekuatan fisik masih bisa diandalkan.
Banyak kemudian orang-orang yang berkomentar di hari-hari sebelum keberangkatanku ke tanah suci. Tak sedikit juga yang merasa heran dan tidak percaya “Kok bisa ya mereka berdua naik haji?” Ada juga yang bahkan bertanya langsung” Dari ma dek kau dapek piti poi oji? (Dari mana kamu mendapatkan uang untuk pergi haji?). Banyak bona piti kau poi oji tu ieh ( Banyak sekali uangmu untuk pergi haji).Pari kau malungguk en piti tu lei? (Kapan sih kamu mulai ngumpulin uang?)”
Adalah sangat pantas dan wajar orang-orang merasa heran karena memang secara finansial kami bukanlah orang kaya yang berpenghasilan tinggi. Kami tak memiliki sumber-sumber rupiah yang mengalir deras.  So, bagaimana bisa ya?
Saudaraku, untuk sebuah mimpi besar ini, prosesnya panjang lho. Menghabiskan waktu 9 tahun masa penantian itu, dan 5 tahun masuk daftar tunggu setelah mendapatkan nomor porsi calon haji.
Tahun 2007, aku dan adikku mengumpulkan ibu-ibu sepantaranku --umur dibawah atau diatasku sedikit. Mengajak mereka untuk mengaji dan belajar bersama (dari dulu aku emang hobi ngumpulin orang-orang he he).  Kelak komunitas ini bernama An Nahl. Dari An Nahl muncul berbagai ide cemerlang yang terus berkembang, bahkan  telah melahirkan yayasan, sekolah, berbagai majlis ilmu, tahsin, tahfiz, BMT,biro travel dan seterusnya . Materi kuliah Ibu Profesional “Learn How to Learn” telah terterapkan unconsciously.
Setelah beberapa kali pertemuan di majelis ilmu An Nahl berlangsung tercetuslah ide untuk mengadakan arisan. Tapi saat itu aku berpendapat bahwa akan lebih baik kalau anggota menabung saja, sehingga anggota tidak mesti rutin mengeluarkan uang dalam jumlah yang ditentukan. Kalau diadakan arisan, kendala akan muncul tatkala anggota tidak punya uang, tapi setoran harus dilakukan. Nah, kalau dengan menabung anggota boleh mengumpulkan uang sesuai kemampuan saja.
Jadilah waktu itu para anggota menabung saja dan pada saat itu, aku pribadi berniat bahwa uang tabungan itu adalah untuk ongkos naik haji. Teman-teman lain ada yang niatnya untuk biaya sekolah anak, untuk kebutuhan lebaran, untuk biaya kurban dan lain-lain.
Akupun mulai menabung di majlis ilmu An Nahl itu. Nominalnya kecil sekali, mulai dari Rp 3000, atau Rp 5000 atau terkadang Rp 10.000. Tatkala tabungan itu telah berjumlah  Rp 300.000 kuberanikan untuk membuka rekening haji di Bank Muamalat. Demikianlah seterusnya saat receh telah berjumlah seratus atau dua ratus ribu kupindah saldokan dari tabungan majlis ilmu An Nahl ke bank Muamalat.
Belakangan aku semakin percaya bahwa ongkos haji itu Allahlah  yang membayarnya. Kita hanya butuh memvisualisasikan mimpi dalam bentuk karya dan aksi nyata, dan memasang niat yang kuat di dalam sanubari. Maka selanjutnya Allah akan mudahkan bagi kita jalan untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah. Allah akan membukakan rezki dari sumber-sumber yang tak terduga, yang akan mengisi pundi celengan ongkos.
Disamping, aku juga berusaha menjadi bunda produktif, berusaha agar ongkos naik haji itu bersumber dari hasil keringatku sendiri agar betul-betul bisa menjaga kehalalannya. Bukankah rezki yang halal punya keberkahan yang melimpah?Apa yang kulakukan demi menjadi bunda produktif?

1.    Proyek sosial
Sejatinya aku adalah seorang guru, dan passion mengajar itu tak begitu saja pupus walaupun aku sudah resign menjadi guru PNS semenjak tahun 2002. Dari dulu, dimanapun  tinggal (dulu aku nomaden) di kota Padang, Jakarta, Bekasi, Tambun, dan sekarang di Payakumbuh aku selalu ngumpulin orang-orang buat belajar bersama.
Di Payakumbuh semenjak tahun 2005 aku mendirikan tempat bimbingan belajar dan kursus untuk anak sekolahan di sore hari. Alhamdulillah muridnya bahkan sampai menuju angka seratusan. Aku dan suami yang bertindak sebagai guru.
Tahun 2007 dari majelis ilmu An Nahl lahirlah sekolah yang dimulai dari tingkat prasekolah. Alhamdulillah jumlah murid rata-rata pertahun diatas angka seratus. Tapi jangan dibayangkan ini proyek bisnis yach, karena ini adalah proyek sosial. Betapa tidak, uang sekolah cuma Rp 2000 perhari (sekarang Rp 3000), cuma cukup untuk 2 ikat sayur kangkung, saudara-saudara. Kenapa begitu murah? Aku ingin agar keluarga yang kurang mampu juga mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Begitu juga dengan bimbingan belajar dan kursus aku cuma memungut Rp2000 perpertemuan, kecuali belajar mengaji dan membaca alqur’an sering malah gratis.
Aku sangat yakin dengan konsep berbagi,yang beralaskan keikhlasahan. Aku sadar betul bahwa "Keikhlashan adalah perjanjian tidak tertulis antara guru dan murid. Keikhlasan bagai kabel listrik yang menghubungkan guru dan murid. Dengan kabel ini ilmu akan lancar mengucur. Sementara aliran pahala yang deras terus melingkar para guru yang budiman dan murid yang khidmat. Niatnya hanya demi memberi kebaikan kepada alam raya seperti yang diamanatkan Tuhan. Hubungan tanpa motivasi imbal jasa, karena yakin Tuhan yang Maha Pembalas terhadap pengkhidmatan ini. Keikhlasan adalah sebuah Pakta Suci." (A Fuadi).
            Allah Ta'ala tak pernah sia-sia, tak pernah tidur, dan tak ada suatupun yang luput dari pengawasan dan penglihatan-Nya. Begitu juga  dengan bakti para guru, walau finansial yang diterima sangat minim, namun guru istimewa dikaruniai anak-anak yang sehat wal'afiat, pintar dan berakhlak baik, rezki mengalir lewat usaha suami yang lancar, order pekerjaan yang tak pernah putus, usaha dagang yang selalu untung, rumpun-rumpun padi yang berbuah melimpah, coklat yang berbuah lebat, itik yang bertelur banyak,dan seterusnya. Maka ni'mat Tuhan yang mana yang kamu dustakan?     
2.    Cooking
Cooking adalah passionku yang lain. Aku selalu penasaran dengan resep-resep enak dan selalu ingin mencobanya terutama resep-resep yang murah meriah, (hehe). Resep yang sesuai budget tentunya.
Nah, memasak ini baru masuk ke ranah bisnis. Beruntung sekali hobi memasakku ini bisa menghasilkan uang. Seringnya sih jualan kue made by order. Jadi penghasilannya tak tentu dan tak tetap. Namun semenjak resmi terdaftar sebagai calon jamaah haji , orderan semakin meningkat, sehingga tabungan haji segera terus bertambah saldo. Alhamdulilllah
3.    Berjualan pakaian
Silaturrahiim dengan teman-teman dan sanak keluarga adalah saat-saat berharga. Begitu juga kala berkumpul dengan ibu-ibu di majelis ilmu dan kuliah off-line ibu professional. Aku juga memanfaatkan moment  tersebut untuk berjualan pakaian. Sembari menyelam minum air.Alhamdulillah.
4.    Reseller buku-buku
Membaca dan memiliki buku-buku juga merupakan passionku. Mempunyai toko buku besar adalah juga termasuk barisan mimpiku. Untuk sementara kumulai dengan reseller buku-buku dulu. Untuk ukuran sebuah kampung buku-bukuku boleh dibilang termasuk laris sebab cukup banyak orang yang tak perhatian dengan buku kecuali hanya sebagian kecil saja.
Teman-temanku, terutama, lebih senang membaca dan meminjam buku-buku dari pustaka pribadiku daripada beli, hehe., Namun walau demikian tetap saja ada yang membeli buku sehingga persenannya menambah pundi-pundi rupiahku. Alhamdulillah.

5.    Agen berkah
Aku juga tertarik dengan ilmu kesehatan, terutama ilmu kesehatan non medis tapi bukan ilmu klenik dan perdukunan lho. Aku curious belajar ilmu bekam dan pengobatan herbal. Aku juga belajar terapi SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique), terapi untuk pengobatan penyakit fisik dan mental. Selanjutnya aku belajar mengurut dan acupressure, serta belajar obat-obatan kampung.
Motivasi awal belajar adalah untuk membantu keluarga dan teman-teman dekat, namun kemudian semakin meluas dan akupun beroleh income dari kesenangan ini. Rasa bahagia memenuhi relung hati tatkala bisa menolong orang lain, dan menerima berkahnya. Alhamdulillah.
6.    Sharing ilmu
Aku senang belajar dan aku belajar apa saja yang aku senangi . Aku rela berkorban waktu, tenaga bahkan biaya untuk belajar pelajaran yang  kusenangi. Topik tentang pendidikan adalah salah satu pelajaran yang aku senangi . ujung-ujungnya aku malah jadi “wanita panggilan”. Diundang untuk menjadi narasumber (cee illeee) diberbagai forum terutama yang berkaitan dengan pendidikan agama, keperempuanan , serta pendidikan anak dan keluarga. Aku tak pernah berharap beroleh uang dari lini ini, karena aku senang melakukannya.  Dibayar tak dibayar aku tak pernah peduli. But, in fact I get the cash. Alhamdulillah.
7.    Menulis
Beberapa tahun belakangan aku ketemu passionku yang lain. Ya, ternyata aku juga senang menulis. Aku terus berlatih menulis dan menulis. Dan agar lebih terarah aku juga ikut sekolah menulis. Shortly, aku juga dapat fee dari hasil menulis. Alhamdulillah.
Finally, uang yang kukumpulkan dan kutabung sedikit-demi sedikit dari hasil keringat sendiri tanpa meninggalkan anak dan keluarga,lama-lama menjadi bukit. Qadarullah, musim haji tahun 2014, tepat ketika umurku 40 tahun, aku dan suami dapat memenuhi undangan Allah untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahuakbar!!!


                                                                Tanah Mati, 25 Februari 2015

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...