Saturday, 26 September 2015

JEJAK MATEMATIKA

    Manut Guru

“Kamu mau melanjutkan kuliah dimana?” tanya Bu Sisfa ketika kami berjalan beriringan di koridor kantor sekolah. Bu Sisfa adalah guru PSPB di SMA dimana aku sekolah. “Saya mau ngambil Bahasa Inggris di IKIP,Bu” jawabku. “Lho kenapa Bahasa Inggris?  Emang kamu jurusan apa?” “Saya biologi Bu”jawabku. “Kalau kamu jurusan IPA sebaiknya kamu pilih jurusan IPA. Ngapain kamu sudah capek-capek belajar IPA terus ngga bermanfaat ilmunya,” saran bu Sisfa panjang lebar.

Aku sangat terpengaruh dengan saran Bu sisfa tersebut, padahal aku sudah lama sekali menginginkan Bahasa Inggris. Aku suka pelajaran  Bahasa Inggris. semenjak pertama kali belajar Bahasa Inggris di SMP.Aku jadi bimbang, padahal terus terang aku tak begitu suka dengan bu Sisfa karena nilai PSPB ku selalu biasa-biasa saja. Tak pernah kuberoleh nilai lebih dari tujuh ditangan beliau.

b.    Baby Sitter

Bimbingan tes dan bimbingan belajar belumlah populer bahkan belum ada waktu itu. Tak ada yang membimbing dan mengarahkanku untuk memilih jurusan di Pergururan Tinggi. Juga tak ada yang menanyakan sebenarnya keinginan dan passionku apa. Jadilah aku mengambil formulir UMPTN dengan pilihan jurusan IPC. Aku mengambil jurusan Matematika sebagai pilihan pertama, kemudian Biologi dan Bahasa Inggris pilihan ketiga. Nun jauh dalam lubuk hati aku menginginkan lulus di jurusan Bahasa Inggris. Aku terus berusaha dan berdoa untuk itu.
Penerimaan mahasiswa baru tanpa tes atau waktu itu dikenal dengan nama PMDK telah diumumkan. Sepupuku,Azizah, Alhamdulillah lulus tanpa tes. Seluruh keluarga besar merasa gembira dan bangga. Aku yang selalu bersama dengannya sering dibanding-bandingkan siapa saja yang mengenal kami. Ibuku menaruh harapan besar agar aku juga bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri sama seperti sepupuku itu.
Aku dititip ibu berangkat ke Padang bersama Tek Ef yang tinggal di Pesisir Selatan. Tek Ef punya mobil ‘cigak boruak’, mobil pick up yang bagian belakangnya ditutup terpal. Beliau mengangkut beberapa karung padi dari kampung. Waktu itu juga ikut bersama beliau Yeni, ponakannya yang seumuran denganku. Kami dan anak-anak beliau duduk dibelakang diatas tumpukan padi.Dari kampungku Payakumbuh ke Padang memakan waktu sekitar 4 jam.
Aku akan tinggal di Padang dan menginap di rumah paman, adik ibuku sampai  ujian UMPTN selesai. Sembari mempersiapkan diri untuk UMPTN, aku juga diharapkan bisa membantu paman mengasuh tiga orang adik sepupuku yang masih balita, sementara paman dan tante bekerja.
Aku belajar keras agar bisa lulus UMPTN. Soal-soal UMPTN tahun-tahun sebelumnya aku pinjam dan kumpulkan. Kata orang soal-soalnya sering berulang dan kisi-kisinya tetap sama. Soal-soal jurusan IPA,IPS dan IPC dari tahun 1989 sampai tahun 1992 kubabat semua dengan tekun.
Pernah suatu kali Mak Imal,adik ibuku yang ikut tinggal bersama paman merasa kasihan padaku karena selalu berkutat dengan soal-soal. Beliau mengajakku refreshing dan jalan-jalan ke kampus impianku dengan sepeda motor butut paman. Sayang, waktu itu hujan turun dengan deras sehingga jatah waktu keluar tersebut menjadi berkurang. Syukurlah waktu masih tersisa untuk mengitari seluruh kampus ketika hujan telah reda.


To be continued……………………………………..

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...