Saturday, 26 September 2015

SENTUHAN HIDAYAH

 Kalaulah beriman penduduk suatu kaum, maka Allah akan melimpahkan rahmat/rezki dari langit dan bumi.

Alangkah indahnya hidup dalam cahaya Islam. Wajah-wajah penuh senyuman. Ucapan salam bertebaran dimana-mana, dijalan, di warung, dirumah, di mesjid, dilapangan, dan dimana saja. Ibu-ibu, remaja putri, anak-anak perempuan, semuanya menutup aurat dengan jilbab yang rapi. Anak-anak rajin ke mesjid dan mushalla  untuk belajar Alqur'an. Azan selalu berkumandang setiap waktu shalat wajib tiba. Masjid-masjid penuh dengan jamaah. Bumi juga penuh berkah. Janji Allah memang pasti "Kalaulah beriman penduduk suatu kaum, maka Allah akan melimpahkan rahmat/rezki dari langit dan bumi. Kala itu durian berbuah melimpah. Durian Kuranji waktu itu sungguh terkenal enak. Harganyapun mahal. Manggis juga berbuah lebat sekali. Manggis dengan kualitas super dihargai dengan sangat tinggi perkilonya. Warga Kuranji hidup makmur. Peredaran uang meningkat. Daya beli masyarakat menjadi semakin tinggi.


Itulah sedikit gambaran keberkahan di kampung Kuranji tatkala Pesantren Hidayatullah mulai dirintis di Sumatera Barat sekitar tahun 1992. Ustadz Usman Palese yang menjadi pimpinan perintis waktu itu. Kedatangan beliau disertai empat orang staff ikhwah (Jamaluddin Nur, Hussen, Rusydi, dan Zainuddin)--dan satu orang staff yang sudah berkeluarga-- pak Imsal dan Bu Rita.

KMM PUTRI

 "Bet ikut pengajian dengan orang pesantren yuk" kata Epi dan Vivi sore itu ketika kami menunggu mobil umum pulang sekolah. Ya waktu itu aku masih duduk di kelas 2 SMA. Aku mulai memakai jilbab semenjak masuk SMA. Waktu itu memakai jilbab belum diwajibkan di sekolah seperti sekarang ini. Anak yang pakai jilbab baru sebatas siswi sekolah khusus agama seperti siswi MTsN atau siswi MAN. Itupun tak jarang siswi MTsN yang melanjutkan ke SMA yang membuka jilbabnya. Dulu aku memakai jilbab hanya karena aku ingin memakainya. Aku hanya merasa bahwa memakai jilbab itu baik. Sebenarnya aku belum memahami sepenuhnya apa urgensinya memakai jilbab itu. Mungkin karena aku memakai jilbab itu pulalah Epi mengajakku untuk ikut pengajian di pesantren. Aku langsung  merespon ajakan Epi dengan antusias. Menanyakan kapan acara dan dimana tempatnya. Memang aku ingin sekali untuk belajar dan mendalami agama, namun selama ini belum ada tempat dan sarana untuk itu. Apalagi dengan memakai jilbab terkadang orang mengira aku tahu banyak dengan agama, padahal aslinya adalah nol koma nol.

Pertemuan perdana pengajian itu--kemudian disebut dengan KMM Putri (Kuliyatul Mubalighin Mubalighat) --diadakan di sebuah kelas di gedung SD Inpres Kuranji. Kesejukan menyelimuti sampai ke relung hatiku mendengarkan kuliah pertama dari Ustadz Usman Palese, jauh melebihi kesejukan udara sore itu yang diterpa angin semilir nan bertiup sepoi-sepoi.  Memang terbukti hadist Rasulullah saw "Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah, membaca kitab Allah dan mempelajarinya diantara mereka, kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah Subhanahu wa Taala menyebut nama-nama mereka dihadapan makhluk yang ada di dekatNya (HR Muslim)

Penjelasan Ustadz Usman tentang siroh Rasulullah saw sangat mengena dihatiku. Pelajaran pertama tentang perjalanan hidup Rasulullah saw yang dibagi menjadi fase-fase--fase yatim, menggembala, berdagang, ber-Khadijah, dan ber-Gua Hira, begitu berkesan bagiku. Beliau menjelaskan dengan sangat gamblang dan penuh semangat. Kala menerangkan mata beliau berbinar disertai suara bass yang memenuhi ruangan nan hening, karena terpaku menyimak uraian beliau. Beliau mampu mengalirkan semangat lewat siroh nabi Muhammad saw yang beliau kisahkan kepada kami. Semenjak pertemuan pertama itu, tak pernah hendak aku absen di KMM Putri

Berawal dari ikut KMM putrid dan santri lepas pesantren Hidayatullah itu pula, rasa percaya diriku meningkat. Harga diriku juga melesat naik.  Dalam wahyu pertama turun yaitu surat al Alaq ayat 1-5 dikatakan bahwa semua manusia dihadapan Allah Ta’ala sama, dihadapan Allah Ta’ala, sama diciptakan dari air mani yang hina. Kalau diperhatikan tubuh manusia itu malah penuh oleh kotoran. Mulai dari mata, telinga, hidung, mulut,perut dan seterusnya. Jadi tidak  ada yang perlu disombongkan.

Saya juga tidak goyah dan patah arang karena diejek, padangan sinis, dan tatapan mata curiga. Saya merasa tidak malu menutup aurat, walaupun berbeda dengan gadis kebanyakan pada waktu itu.  Shalat saya  jadi lebih berasa dari sebelumnya. Shalat malampun juga jadi lebih terbiasa. Alhamdulillah.

MABIT

Wahai orang yang berselimut (Muhammad). Bangunlah untuk shalat pada malam hari, keculai sebagian kecil. (Yaitu) separuh atau kurang sedikit dari itu. atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah alquran itu dengan perlahan-lahan. sesungguhnya kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh bangun ma;am itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan bacaan watu itu lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang . dan sebutlah nama Tuhanmu. dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.... (QS Al muzammil 1-8)

“Bangun! Bangun! Shalat... shalat...”belum jam dua dini hari suara Ustadz Usman Palese sudah menggelegar membangunkan penghuni wisma. Shalat lail berjamaah dimulai jam dua dini hari itu. Para akhowat yang baru tertidur satu atau dua jam karena asyik ”ngobrol sebelum tidur. Itu seperti sudah menjadi sebuah kewajiban karena banyaknya bahan yang mesti diperbincangkan karena sudah satu minggu tidak bertemu saudara belahan jiwa nan sehati. Santri tetap bersemangat bangun untuk shalat malam bersama.
Shalat malam berjamaah dengan rukuk dan sujud yang lama, yang diiringi dengan doa-doa khusyuk yang  panjang adalah kegiatan wajib di pesantren Hidayatullah. Menghiba, dengan segala kerendahan diri dihadapan Allah, tiada yang tinggi selain Allah Jalla wa ‘ala, meratap segala dosa, memohon keampunan-Nya yang luas dan memohon pertolongan Allah dalam perjuangan rintisan pendirian pesantern yang sungguh tidak mudah.. Tidak ada yang dapat menolong selain yang Maha Sempurna Pertolongan-Nya.
            Nun diseberang lahan kosong, di bangunan bakal aula yang berdinding bambu, sudah terdengar sayup-sayup suara lantunan ayat Jamaluddin dalam lailnya yang syahdu, bersama adik-adik laki-laki binaannya. Adik saya Romi dan Riko juga turut bersama mereka, hanyut dalam kesyahduan itu.
      Shalat malam nan panjang itu langsung disambut waktu Subuh. Wudhukpun diperbaharui. Membasuh anggota wudhuk dengan air sedingin es pagi itu, membuat mata tetap melek. Ba’da subuh kegiatan dilanjutkan dengan menamatkan juz amma bareng. Tidak ada rasa berat menamatkan bacaan Qur’an satu juz waktu itu. Tetap saja semangat walau semalaman tidak tidur. Padahal masa-masa SMA adalah masa “tukang tidur karena pertumbuhan masih sedang berpacu. Ya, rata-rata kami waktu itu sedang duduk di bangku SMA, kecuali ni Ita, ni Et, ni Tut yang sudah tamat.
            Ternyata di dapur bu Nur istri Pak Usman sudah menyiapkan sarapan. Rebus singkong bersama sambalado terasi dengan asam. Subhanallah nikmaat sekali. Rebus singkong yang masih hangat, dicolekin ke sambalado pedas-pedas, wuuaahh lommmak bona. Jamilah, satu-satunya santri putri tetap  yang nginap di pesantern, menghidangkan rebus singkong dengan sambaladonya di meja. Tak pakai lama, karena enak dan perut yang juga lapar hidangan jamilah sudah hilang tak berbekas. Terkadang kami me         nyantap sarapan  di dapur saja, dan sambaladonya masih berada di atas batu giliang (ulekan). Tangan basilang pintang berebut singkong dan sambalado. Sebentar saja satu panci singkong ludes semua.
           Waktu itu kita tak pernah menyadari kenapa sarapan pagi sering dengan singkong rebus. Kita menikmatinya saja karena enaknya juga luar biasa, mungkin karena dimasak dengan penuh keikhlashan, ya. Ketiadaan beras untuk dimasak membuat bu Nur harus kreatif mencari alternatif penggantinya. Singkong yang ditanam 4 orang staff santri putra perintis pesantren yang menjadi sasarannya.
 Menginap di wisma pesantren setiap malam Minggu adalah momen yang ditunggu-tunggu. Mendengarkan mutiara berharga dari ustadz Usman, yang menancapkan sendi-sendi aqidah disanubari, membuat diri merasa hina di hadapan Allah, namun mempunyai izzah dihadapan manusia. Penjelasan tafsir Alqur’annya dengan metode sistematika wahyu sangat lugas, gamblang dan aplikatif  langsung menghujam di hati. Tak peduli walau tidur bersusun umpama sarden di kaleng, satu tempat tidur diisi enam sampai  tujuh orang, bahkan ada yang rela tidur di lantai yang dingin beralaskan tikar yang tipis
Lokasi wisma yang didirikan diatas tebing, yang berbatasan langsung dengan area persawahan, membuat angin begitu leluasa berhembus. Kala malam menjelang, hawa dingin yang ditingkahi angin, sangat menggoda kita untuk berlama-lama menggelung dibawah selimut tebal. Ipih sering mengaku dengan senyum malu-malu , "Aku yang bangunnya paling lama ya, Aku yang paling sering dibangunkan ulang oleh Bu Nur". Ya, santri remaja putri yang sering ikut mabit waktu itu ada Jamilah, Deni, uni Ita, Vivi, Ibet, Eka, uni Et, ni It, ni Tut, Ipih, Epi, Ar, ditambah si bocah Iles, teman sepermainan Fauziah- Faizah, putri kembar Ustadz Usman.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...