Saturday, 26 September 2015

WHY HOMESCHOOLING?


Kami sekeluarga mengenal istilah Homeschooling atau Home Education pada bulan Mei 2005, ketika harian Kompas memuat liputan berita utama tentang praktisi Homeschooling di Indonesia. Kami baru melaksanakannya dengan sadar mulai Januari 2007. Walaupun pada hakekatnya semenjak si sulung masih dalam kandungan, bahkan kala proses perjodohanpun secara tidak sadar proses Home Education sudah diterapkan juga. Sebab sebagai orang tua tidak ada sebenarnya yang istimewa yang kami lakukan dengan proses Homeschooling/Home Education. Kami hanya melaksanakan apa yang semestinya orang tua lakukan terhadap anak-anaknya.

Kami sempat juga tergoda untuk memasukkan si sulung ke TK IT formal, namun hanya bertahan  selama lima bulan. Godaan itu sebenarnya dipicu oleh saya sendiri, emaknya. Saya beralasan kepada ayahnya, bahwa  barangkali ada hal-hal yang tidak bisa “kita” ajarkan kepada anak yang akan diperolehnya dari sekolah formal. Setelah berhari-hari beragumentasi, akhirnya ayahnya mundur satu langkah dan menyetujuinya, mungkin untuk memberi pembelajaran kepada saya dan memberi pengalaman kepada si sulung.
Dan benar saja, hampir setiap pagi terjadi “morning disaster”, teriakan agar segala sesuatunya dikerjakan dengan cepat dan buru-buru, agar tidak terlambat dan ayahnya juga tidak telat ke kantor. Si sulung yang matanya belum betul-betul melek mengerjakan segala sesuatunya dengan begitu lambat dan ogah-ogahan, sehingga seringkali mengundang emosi.
Disekolah ternyata memang dia datang agak belakangan sehingga menimbulkan “something wrong” dengan mentalnya. Belum lagi pulangnya, karena saya tidak bisa menjemputnya, terpaksa dia harus naik mobil sekolah yang baru sampai dirumah jam tiga sore, karena harus mengantar yang lain dulu, padahal dia pulang jam sebelas siang. Pasti dia sangat lelah sekali sementara waktu makan siangnya juga sudah terlewat. Sekolahnya lumayan jauh karena saya memilih sekolah yang terbaik dan berkualitas–menurut saya. Padahal, menulis, membaca,  belajar alqur’an dan lain-lain kamilah yang mengajarnya dirumah, dan terbukti dia lebih unggul daripada teman-temannya disekolah di bidang ini. Begitulah yang dilaporkan oleh walikelasnya.
Akhirnya setelah lima bulan saya menemui kepala sekolahnya untuk mengundurkan diri dan saya kemukakan bahwa si sulung akan melanjutkan belajar dengan homeschooling. Saya lihat ada aura keraguan dan penuh pertanyaan dari kepala sekolah tersebut. Beliau sempat melontarkan pertanyaan,”Lai ka bisa tu?Alah bapikiakan?” (“Apakah ibu sanggup?” Sudahkah dipikirkan baik-baik?”). Wajar saja sang kepala sekolah itu merasa khawatir karena homeschooling saat itu masih aneh dan belum ada satu keluargapun yang menerapkannya di daerah kami Payakumbuh Sumatera Barat.  Akan tetapi saya menjawab pertanyaan dan keraguan kepala sekolah itu dengan mantap, “InsyaAllah!
Jadilah semenjak itu si sulung melanjutkan belajar dengan homeschooling ala Emak. Sementara pengetahuan tentang homeschooling terus diperkaya dengan berburu buku-buku tentang homeschooling serta browsing di internet. Dan yang sangat membantu sekali adalah ikut milis sekolah rumah .Kami juga sudah menjadi member sejak awal tahun berdirinya tahun 2007. Walaupun barangkali kami  termasuk member pasif, akan tetapi kami selalu memetik manfaat dari setiap topik yang dibahas, dan setiap tema yang diperbincangkan.
Ternyata praktisi-praktisi HS/HE bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang pintar (dan berpintar-pintar he he), berilmu pengetahuan, open minded, berkarakter dan care dengan masalah pendidikan dan kemajuan masa depan bangsa . Mereka adalah orang-orang yang sungguh luar biasa istimewa,  termasuk kami tentu saja, (ehem!) Betapa tidak, kami termasuk orang yang “ekstrim” –menantang arus, yaitu membiasakan apa yang belum biasa dilakukan orang biasa, terutama didaerah kami, belum ada teman sama sekali.
However, alhamdulillah sejauh ini kita sangat menikmatinya, dan anak-anak juga having fun saja. Hari demi hari rasa percaya diri saya semakin meningkat untuk melaksanakan HS/HE setelah membaca berbagai buku dan sumber lain tentang HS/HE. Anak-anak juga semakin percaya diri, siapapun yang bertanya tentang sekolah mereka, mereka selalu menjawab tanpa ragu-ragu bahwa mereka homeschooler. Mereka adalah Aisyah 12 tahun, Fathimah 10 tahun,dan Abdurrohiim 4 tahun.
We love them. Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak yang dicintainya. Kami menilai bahwa pilihan homeschooling  adalah yang terbaik untuk anak-anak kami, maka kami menjadi praktisinya.
Kami “terjerumus” dan memutuskan untuk memilih homeschooling bukan karena putra-putri kami “Anak yang berkebutuhan khusus” seperti keterbelakangan mental, cacat fisik atau cacat moral. Alhamdulillah kami dikaruniai anak yang normal baik fisik maupun mental. Namun demikian bukankah pada hakekatnya setiap anak mempunyai kebutuhan yang khusus?
Delapan tahun belakangan saya sudah berkecimpung aktif sebagai Penyelenggara dan Pendidik Anak Usia Dini. I fall in love and totally face it. Setelah saya mendalami berbagai teori yang berkaitan dengan PAUD dan mempraktekkannya langsung di lapangan saya menilai bahwa praktek homeschooling sangat singkron dengan program PAUD, seperti memperhatikan  dan menghargai hak-hak anak, tidak ada pemaksaan terhadap anak, termasuk dalam hal kurikulum sangat fleksibel, memperhatikan minat dan keinginan anak, menjadikan anak sebagai pembelajar sejati - long life learner, memperhatikan gaya belajar anak. Dan yang tak kalah penting dalam hal spiritual yang kami yakini kami juga bisa mengalirkan nilai-nilai, akhlak dan karakter dan menerapkannya langsung dalam keluarga. Wallahua'lam.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...