Saturday, 10 September 2016

PROPOSAL UMRAH UNTUK NI MUN

Desna Murni,atau biasa kupanggil Ni Mun adalah seorang wanita istimewa yang berusia 49 tahun. Ia mengayuh sepeda, pemberian seorang dermawan, saban hari melintasi tiga kampung, menuju tempatnya mengajar disebuah lembaga pendidikan, yang berbasis karakter dan agama Islam. Dedikasi dan keikhlasannya patut mendapat acungan jempol. Wajahnya cerah penuh senyuman. Semangatnya juga menggebu. Rasa ingin tahu dan keinginannya untuk berbagi berbanding lurus dengan gairahnya untuk menuntut ilmu. Ia hampir tak pernah mengeluh walau beban kehidupan dan beban biaya sekolah anak-anak harus ikut ia tanggung. Empat orang putrinya bersekolah di sekolah
swasta, sekolah yang memberi penekanan pada pendidikan agama, tak lain tak bukan karena ia ingin memberikan pendidikan yang terbaik buat mereka. Kini dua orang putrinya telah kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang.
Ni Mun harus selalu bekerja keras,berusaha cerdas dan ikhlas demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk kelangsungan pendidikan anak-anaknya. Gaji bulanan dari tempatnya mengajar tidaklah seberapa, sangat jauh dibawah standar UMR ( Upah Minimum Regional). Ia harus bekerja cerdas mencari sumber pemasukan yang lain, membuat dan berjualan kue-kue, menjahit, menyulam, hatta membungkus kue di pabrik kue, semua ia lakoni.


Untuk urusan tanggung jawab di lembaga tempatnya mengajar Ni Munlah juaranya. Tanpa pernah disuruh pimpinan, pagi sekali Ni Mun sudah hadir disekolah, karena merasa berkewajiban menyapu dan merapikan kelas, menyapu halaman dan membereskan sampah-sampah, menyiapkan segala keperluan peserta didik untuk belajar, dan yang terpenting menyambut kedatangan anak-anak dengan senyum merekah, sapaan hangat, dan jabatan tangan yang erat. Dilanjutkan dengan kegiatan belajar, mengajar, mendidik, bermain dengan suasana "fun", aktif, kreatif,dan inovatif. Jauh dari celaan, hinaan apalagi hardikan.
                               
Ketika jadwal pulang sekolah Ni Mun juga tidak terburu-buru untuk pulang karena mesti beres-beres kembali, menyapu, merapikan alat-alat, mendiskusikan tentang anak-anak, dan mempersiapkan keperluan esok hari.

Ni Mun sadar betul bahwa "Keikhlashan adalah perjanjian tidak tertulis antara guru dan murid. Keikhlasan bagai kabel listrik yang menghubungkan guru dan murid. Dengan kabel ini ilmu akan lancar mengucur. Sementara aliran pahala yang deras terus melingkar para guru yang budiman dan murid yang khidmat. Niatnya hanya demi memberi kebaikan kepada alam raya seperti yang diamanatkan Tuhan. Hubungan tanpa motivasi imbal jasa, karena yakin Tuhan yang Maha Pembalas terhadap pengkhidmatan ini. Keikhlasan adalah sebuah Pakta Suci." (A Fuadi).

Ni Mun yakin Allah Ta'ala tak pernah sia-sia, tak pernah tidur, dan tak ada suatupun yang luput dari pengawasan dan penglihatan-Nya. Amalan yang berbalut keikhlasahan, tak berharap nilai, tak berharap rengking, tak berharap gaji, tak berharap SPPD, tak berharap sertifikasi. Tidak berharap apa-apa kecuali Ridha Allah semata, Insya Allah.

Disamping itu di sore hari Ni Mun juga mengajar mengaji, Tahsin dan Tahfidz, di sebuah Rumah Qur'an. Lagi-lagi sepeda kesayangannya itu ia kayuh dengan penuh semangat. O ya, Ni Mun sudah mulai mengajar mengaji semenjak tahun 1998 di berbagai tempat sesuai dengan berpindahnya domisili beliau. Pernah mengajar mengaji di kecamatan Payakumbuh Barat, pindah ke kecamatan Payakumbuh Timur Kotamadya Payakumbuh, kemudian pindah ke kecamatan Payakumbuh Lima Puluh Kota dan sekarang di kecamatan Guguak Lima Puluh Kota. Entah sudah berapa orang anak-anak yang pandai mengaji dan mengahafal Alqur'an dibawah bimbingan beliau. Yang jelas sudah tak terhitung jumlahnya. 


Subhanallah, ditengah seabrek kesibukannya ia masih sempat menghafal Alqur'an, (hafalan Qur'annya sudah banyak juga lho), menolong orang lain tanpa pamrih, tanpa diminta, dan penuh kejutan tak terduga .Ia juga rajin menyisihkan sedikit yang ia punya untuk bersedekah, berinfak, dan berderma.


Itulah sosok salah seorang sahabatku yang telah berusaha menjadi seorang wanita sholehah seperti yang telah digambarkan Alqur'an dan hadist dan kisah-kisah wanita teladan. Ia tampil bukan bak putri Cinderella, seorang gadis miskin yang tinggal bersama ibu tiri dan kedua saudara tiri. Hidupnya teraniaya dan penuh penderitaan. Namun segala sesuatu segera berubah manakala seorang peri yang baik hati kemudian menolongnya untuk pergi ke pesta. Di pesta tersebut ia bertemu dengan seorang pangeran tampan, kaya dan berhati mulia yang berniat memperistrinya. Singkat cerita berobahlah nasib Cinderella yang penuh dengan air mata menjadi kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan dan kemewahan. Sahabatku itu tidak seperti wanita kebanyakan, berusaha untuk tidak terjerumus kepada sindrom "Cinderella Compleks" bermimpi mempunyai nasib layaknya Cinderella.

Sosok yang berusaha ia tiru, dan memang begitulah seharusnya muslimah adalah, Fathimah Az Zahra, wanita tegar putri Rasulullah. Wanita yang tangannya telah menjelma menjadi keras dan kasar karena setiap hari harus menggenggam penggilingan gandum. Bekerja dengan penuh keikhlashan bermandi peluh dibawah teriknya sinar matahari . Setiap hari harus berdamai dengan kelelahan dan rasa nyeri di tangan dan punggung, hanya karena kemiskinan sang suami. Permintaannya untuk menghadirkan seorang pembantu (hanya) dijawab Rasulullah saw ,sang ayah tercinta, dengan zikir dan doa yang harus dia amalkan setiap habis shalat fardhu. 

Di tengah arus tekhnologi yang sudah canggih ini, karena keterbatasan ekonomi dan demi menghemat rupiah Ni Mun saban hari masih memasak dengan tungku kayu. Pantesan pakaian ni Mun kadang-kadang berbau khas, karena disapu asap dapur. Tapi hasil masakannya enak loh, karena alami dan asli masakan dari tungku.

Untuk kebutuhan air Ni Mun punya sumur perigi. Setiap hari ni Mun menimba air dari sumur tersebut untuk mencuci secara manual, mandi, memasak, dan seterusnya. Ramadhan kemaren ni Mun masih bisa menerima jasa laundry untuk pakaian anak-anak pesantren Tahfiz Qur'an walaupun, airnya masih tetap ditimba secara manual. Sumur perigi Ni Mun itu dalam sekali perlu bermeter meter pipa untuk menaikkan air dengan sanio, dan tentu akan menyedot banyak pulsa listrik.


Ni Mun sering bilang kalau beliau punya keinginan yang kuat untuk bisa berhaji atau setidaknya umrah ke tanah suci. Dalam munajatnya beliau merintih hanya keajaiban dari Allah yang bisa memperjalankannya. Ketika kukabari tentang UBEPE kak Butet yang menyediakan umrah gratis bagi orang-orang ikhlash yang berbuat banyak untuk kemaslahatan ummat, dan akan kucoba untuk propose ke kak Butet, tangis beliau pecah dan segera memelukku. Keharuan yang mendalam menyelimuti kami. Aku bilang, 'Ini baru awal proposal Ni Mun, dan belum jelas kepastiannya, almuhim kita berusaha dan terus berdoa semoga jalannya dimudahkan Allah dan Ni Mun termasuk salah satu yang menjadi tamu Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang di Tanah Suci, Amiin Ya Rabbal 'alamiin".


------------------------
Tanah Mati, 8 Zulhijjah 1437H
"Betty sang peniti barokah" 

3 comments:

  1. besar sekali energinya Ni Mun...
    jadi keder saya Ummi...
    bismillah, saya juga ingin sekali berbagi ilmu dengan sekitar. semoga dimudahkan dan tidak menimbulkan riak konflik apapun di tetangga dll, karena itu yang saya khawatirkan dan takutkan.

    terima kasih sharingnya ya Ummi, sungguh menginspirasi dan memberikan semangat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyya mbak Heni terima kasih kembali, ni Mun memang selalu full energy dalam mengerjakan apapun, beliau menginpirasi banyak orang untuk berkebajikan. Yuk bismillah, menebar manfaat ntuk sekitar mbak, moga niat yang baik bisa menepis ketakutan dan kekhawatiran kita.

      Delete
  2. Subhanallah...Aamiin ya robbal alamin

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...