Sunday, 27 November 2016

7 TIPS MEMULAI HOMESCHOOLING

SATE SUPER (SAya TEringat SUatu PERistiwa)


Pengalaman memang selalu menarik untuk dibaca, karena pengalaman adalah guru yang baik, tidak hanya bagi yang mengalaminya sendiri tapi juga bagi orang lain, kalau yang mengalaminya dapat berbagi cerita atau menuliskannya.

Selalu ada pembelajaran dan hikmah untuk setiap jalan yang ditempuh sesorang. Hikmah akan sangat berkesan tersebab jalan yang ditempuh penuh perjuangan. Banyak orang yang terus berada dan bertahan di zona aman dan nyaman sebagai safety player tak berani menantang arus dan mengambil resiko serta mengambil keputusan yang berbeda walaupun zona aman tersebut bertentangan dengan keinginan dan hati nurani. 

Tidak begitu dengan keluarga kami, dan banyak keluarga lain yang memilih homeschooling. Risk taker, barangkali itu julukan yang tepat. Kami lebih mengambil resiko untuk suatu hal yang diyakini mempunyai kemashlahatan  yang lebih baik.


Demi menjawab berbagai pertanyaan dan rasa penasaran banyak teman tentang  homeschooling kami,  membuat saya begitu ingin merangkai tulisan ini. Disini,  saya beranikan diri, untuk berbagi tips untuk memulai homeschooling/home education.  Berharap bisa menebar manfaat dan ada hikmah yang bisa dipetik walau dengan segala keterbatasan dan kedhoifan diri. 

Based on pengalaman kami menjalankan peran sebagai praktisi homeschooling tunggal, untuk teman-teman yang akan memulai HS/HE kami menyarankan beberapa tips berikut ini;

1.  Kesepakatan kedua orang tua

Kenapa mesti sepakat? Karena menjalankan HS/HE tidak bisa hanya sepihak, harus kedua orang tua turut terlibat, agar dikemudian hari ketika ada kendala dan tantangan timbul, tidak terjadi saling menyalahkan,dan agar solusi bisa dicari bersama. Ha?? HS/HE banyak tantangan? Ya, itu kan sudah sunatullah, apapun aspeknya bukankah selalu ada tantangan?

2.  Komitmen harus kuat

Kita berada dizaman yang mana arus informasi berseliweran begitu buaanyak dan super cepat. Nah dengan banjirnya informasi tersebut kalau komitmen tidak kuat maka galau akan segera melanda. "Ah, mungkin ini bagus, itu bagus, coba ini, coba itu." Akhirnya ya galau tingkat tinggi, deh.

Belum lagi tantangan dari orang-orang terdekat, tetangga, sanak saudara, teman-teman dan seterusnya yang bertanya "kepo", sinis, cemooh, meragukan dan sebangsanya. Maka kalau komitmen tidak kuat, ya bisa galau lagi.

3. Pasang niat Ikhlash karena Allah Ta'ala.

Niat ikhlash adalah syarat diterimanya amal. Ini penting karena boleh jadi nanti diperjalanan HS/HE ada keinginan untuk membuktikan kepada orang lain, terutama kepada orang yang disebutkan di poin 2 diatas tentang eksistensi HS/HE kita. Nah, niat jadi rusak kan? Tidak ada yang perlu dibuktikan kepada orang lain, karena urusan kita bukanlah dengan orang lain akan tetapi dengan Allah dan dengan anak anak kita sendiri. Pertanggungjawaban kepada Allah tentang pendidikan apa yang telah kita berikan  kepada anak-anak kita.

4. Cari ilmunya

Syarat kedua diterimanya amal adalah ada ilmunya sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Dalam HS/HE adalah suatu keniscayaan orang tua mau belajar bersama anak, dan bersama belajar dengan anak. Yang belajar bukan hanya anak,akan tetapi orang tua juga harus ikut belajar. Orang tua harus selalu up grade ilmu sebab kita menghadapi anak yang dinamis, so orang tua juga mesti ikut dinamis.

5. Meyakinkan diri bahwa da'wah pertama yang mesti dilakukan adalah kepada diri dan keluarga.

Seperti yang dikatakan Allah Ta'ala dalam surat At Tahrim : 6 " Wahai orang -orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,..."

6. Meluaskan pemahaman pribadi tentang makna belajar

Bahwa belajar tidak hanya ketika berhubungan dengan membaca, menulis, memegang pensil/pena. Belajar tidak hanya bisa dilakukan di ruangan kelas lengkap dengan meja dan kursinya. Belajar tidak mesti sama dengan jadwal, durasi, dan mata pelajarannya dengan sekolah formal. Akan tetapi belajar dapat berlangsung dimana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja. Bahkan proses pemenuhan kebutuhan hidup/ mencari nafkahpun bisa menjadi proses belajar dalam HS/HE.

7. Memahami bahwa tugas orang tua dalam HS/HE adalah menjadikan anak pembelajar, so bukan menuntaskan target kurikulum seperti di sekolah formal. Dengan demikian orang tua juga mesti jadi pembelajar dan tetap proaktif dalam belajar.

Wallahu a'lam.


-------------------------------
Tanah Mati, 27 November 2016
Betty, Sang Peniti Barokah

6 comments:

  1. Harus meluruskan niat dulu ya. Karena memang, HS kan tampak antimainstream kalau masyarakat lihatnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mbak, mesti meluruskan niat dulu, but HS atau sekolah formal niat kudu lurus dulu kan mbak? :)

      Delete
  2. itu sih perlu niat yang besar dulu ya, kalau aku sih tetap milih sekolah di real sekolah sambil anak belajar bersosialisasi dan bsia menghadapi banyak karakter anak dan memahami banyak perbedaan di anatra teman2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mmhh,... pilihan terbaik itu kembali ke diri masing-masing, ya kan mbak Tira :)

      Delete
  3. Uni.. Assalamu'alaikm... Kl di kota padang dmn ya komunitas HS?

    ReplyDelete
    Replies
    1. waalaikum salam Eva. wuaah maaf uni ya, slowres sekali. Mungkin sekarang dah ketemu komunitasnya ya?

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...