Sunday, 5 February 2017

10 TANTANGAN KOMUNIKASI PRODUKTIF

Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi 
atas mereka, terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan
 (QS. Annur:24)

Pada hari ini kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadapa apa yang dahulu mereka kerjakan (Q.S Yaasin:65)

Kawan,...
Alhamdulillah  setelah berjibaku dengan Materi dan  Nice Homework yang menguji komitmen dan konsistensi di perkuliahan matrikulasi Ibu Profesional, akhirnya aku lulus dan berhak lanjut ke level berikutnya di program Bunda Sayang.


Mengenai materi Komunikasi Produktif bisa dilihat DISINI ya, kawan.

Kalau di kelas Matrikulasi IIP tugas tugasnya bernama NICE HOMEWORK (NHW). Maka di kelas Bunda Sayang ini tugas tugasnya dinamakan CHALLANGE (TANTANGAN), yang dibungkus dengan GAME menarik.

Inilah Game Kelas Bunda Sayang Level 1 

Tantangan 10 hari berkomunikasi produktif


Tantangan pertama bulan ini adalah "KOMUNIKASI KELUARGAKU"

a. Buatlah family forum sebagai sarana komunikasi ala keluarga anda

b. Ceritakan dengan narasi pendek dan boleh diserta foto.

* Hal Menarik apa yang saja yang anda dapatkan dalam berkomunikasi dengan keluarga hari ini?

*Perubahana apa yang anda buat hari ini dalam berkomunikasi?


Banyak komunikasi yang terjadi dalam keseharian kita ditengah keluarga. Tentu tak bisa semuanya tercatat karena berbagai keterbatasan. Ada yang berhasil dengan komunikasi produktif dan masih banyak yang gagal.

Tantangan komunikasi produktif ini dilakukan dalam sepuluh hari. Sengaja aku rekap, agar bisa disimpan di "rumah" ini untuk bisa dibaca ulang, dan berharap juga bermanfaat buat kawan pembaca.



Hari ke-1
Komunikasi dengan Nenek


Dalam forum kecil pada rapat keluarga kami sepakat bahwa perjalanan kali ini adalah ke kampung ayah. Sekalian menemani nenek yang homesick dengan home sweet home beliau. O ya, sekarang nenek tinggal bersama kami karena kondisi kesehatan beliau. Untuk mengobati rasa rindu nenek dengan rumah maka kami pulang sama-sama.

Karena pola komunikasi nenek sekarang sama dengan pola komunikasi dengan si bungsu O im, maka sebelum pulang kita mesti membuat kesepakatan dulu dengan nenek, sebab biasanya kalau sudah sampai di rumah nenek tidak mau lagi diajak balik.

Saya berusaha bicara dengan suasana sesantai mungkin sambil tidur tiduran, agar nenek tidak tersinggung, merasa diperintah dan digurui. "Bu, kalau ibu nanti mau balik lagi kesini, maka kita akan pulang Bu." kata saya memulai pembicaraan. Beliau menjawab pendek,"iyoo." Lalu saya ungkapkan juga kekhawatiran sambil tersenyum lebar,"Nanti kalau sudah sampai di rumah ibu ngga' mau balik lagi kesini." "Ha ha ha," beliau tertawa. Karena beliau sudah merasa senang maka saya clarify lagi kesepakatannya. "Ibu mau kan balik kesini lagi nanti?".Pertanyaan saya ulang lagi untuk menguatkan, dan Beliau menjawab,"Insyaallah!". So, caaw kita berangkat! :)

Hari ke-2 Presentasi Keluarga

Belajar lagi untuk konsisten melaksanakan program presentasi dalam keluarga. Program ini sebenarnya sudah lama, tapi yaa itu tadi jatuh bangun, bangun dan jatuh lagi jatuh dan jatuhnya lamaaa hihihi. Jangan ditiru kawan.

Awal tahun 2017 ini komitmen diperbaharui, alhamdulillah sudah berjalan sekali sepekan. Setiap waktu presentasi tampil dua, tiga atau empat orang anggota keluarga, tergantung dengan kumandang azan Isya. Kalau azan Isya sudah memanggil maka kegiatan presentasi langsung di "cut", karena anggota keluarga laki-laki mesti shalat berjamaah ke masjid.

Ummi menyampaikan bahwa presentasi adalah hal yang penting untuk pembelajaran bercerita, bernarasi dan bertutur. Demikian yang dilakukan para arif bijaksana secara turun temurun dari generasi ke generasi, termasuk dalam satuan pendidikan terkecil yakni keluarga. Sehingga peran peradaban tetap terjaga. So, bercerita bernarasi dan bertutur adalah keniscayaan hingga akhir zaman. 

Begitu juga presentasi adalah momen yang tepat untuk menyampaikan "uneg-uneg, ide atau pengaliran rasa terutama buat Ummi, hihi. Pengaliran rasa bagi ummi adalah salah satu cara untuk menjaga kewarasan, hahaha. 

Kalau anak-anak biasanya akan memilih temanya masing-masing. Misalnya, si Bungsu O im memilih untuk membaca buku, karena ia baru saja pandai membaca. Ia sangat antusias dan waktu presentasi adalah hal yang ia tunggu karena ia akan unjuk kebolehannya membaca. Ia sering jadi alarm dan pengingat buat anggota keluarga yang lain bahwa telah tiba saat presentasi. Bahkan belum jadwal presentasipun ia akan minta untuk presentasi. Mungkin ini efek bahasa produktif dan applause yang didapatnya ba'da presentasi yach. Uniknya untuk membaca "sendiri" O im lebih suka membaca terjemahan alqur'an dari buku Qur'anku Sahabatku.
Aisyah dan Fathimah belajar dan mencoba presentasi dengan Bahasa Asing :)Belajar bertutur dan bernarasi selain dengan bahasa ibu. Mereka sudah siap untuk belajar bahasa lain karena bahasa ibu sudah mereka kuasai dengan sangat baik bahkan bahasa ibu yang terjelekpun ia sudah mumpuni, Astaghfirullah...

Nah, mumpung sekarang lagi ada tantangan komunikasi produktif di perkuliahan Bunda Sayang Ibu Profesional, maka saya memanfaatkan momen ini untuk memperbaharui kembali komitmen dalam menerapkan komunikasi produktif terutama bersama anak dan keluarga. Saya juga meminta dukungan ayah untuk mengawalnya agar ia selalu menjadi realita. Bismillah.

Hari ke-3
Pisah Ranjang

"Perintahkanlah anak-anak kalian shalat pada usia 7 tahun dan pukullah mereka jika meninggalkannya pada usia 10 tahun dan pisahkanlah diantara mereka tempat tidurnya." (HR Ahmad dan Abu Daud dihasankan oleh Annawawi dalam riyadhussholihin dan Albani dalam shohih sunan Abu Dawud).
Setelah sosialisasi dalam hitungan bulan, akhirnya O im bilang "Ummi, ummi boleh tidur dikamar sebelah bersama ayah. O im mau tidur sendiri." "Yess!!!" Akhirnya sosialisasi dengan komunikasi produktif itu berhasil, alhamdulillah.
Ummi meng"clarify", "Benar nih O im berani?" "iya, Mi. Oim kan sudah besar," jawab O im meyakinkan Ummi.

Memang O im (6,9 yo) belum masuk usia wajib untuk dipisah ranjangkan, but perlu dilatih dan disosialisasikan bukan? Melatih dan mensosialisasi bukanlah dimaksudkan untuk menggegas.

Esoknya saat bangun tidur Ummi harus sudah stand by dekat O im. Ummi harus lebih dulu bangun dan membangunkan O im untuk mengajak shalat subuh. Kalau tidak, O Im akan teriak teriak memanggil Ummi, dan bersungut sungut dengan tampang marah."Ummi tinggaen O im, Ummi tinggaen O im."

Oim tidak ingin tertipu (baca takicuah dalam bahasa Minang). Sebenarnya semua orang tidak ingin takicuah yach?. Ini sifat O im. Ummi harus minta izin untuk apapun yang ummi kerjakan ataupun kemanapun ummi pergi walaupun hanya di dalam rumah yang masih satu atap. Hatta untuk ke BAB pun ummi harus izin. Uniknya O im akan selalu mengizinkan apapun atau kemanapun ummi pergi asal syarat minta izin itu Ummi penuhi.

Setiap pagi Ummi harus membuka pintu sekolah, sedikit beberes dan aktifitas didapur. Nah, kalau ummi lupa minta izin atau tepatnya komunikasi dengan Oim, maka tunggu akibatnya. Oim akan ngamuk dan tantrum. So, siapa sebenarnya yang memicu tantrum? Nah lho??

Hari ke-4
Keterampilan Bertanya dan Seni Menjawab

Setiap Jumat adalah jadwal English Club di KATO. Anak anak berangkat dengan sepeda. O im senang sekali naik sepeda "warisan" ini ke KATO. Ia sangat bahagia bisa menyelesaikan dua tanjakan yang panjang dan lumayan tinggi, sebelum sampai di gazebo.

Ummi belum pernah lulus dengan tantangan tanjakan ini. Jempol jempol itu mungkin sangat berpengaruh untuk ia esok hari naik sepeda lagi. Diawal awal bersepeda ke KATO, Oim menuntun sepedanya di tanjakan persis seperti Ummi. Selanjutnya ia berusaha naik sedikit, esoknya setengah, esoknya lagi tiga perempat, sampai akhirnya ia berhasil. Dengan penuh semangat ia menceritakan ke Uni, Kakak dan Ayah.

Sampai di KATO ide English Game keren diutarakan Fathimah. Fathimah dibantu Aisyah menjelaskan cara permainan dengan "clear". Selanjutnya ia "clarify" dengan bertanya ke peserta dan memberikan contoh.


Ya, inilah game asyik untuk "latihan" seni bertanya, keterampilan menjawab sembari menambah kosakata. Cocok dimainkan dan dipakai untuk semua bahasa dan semua tingkat umur berbeda dalam satu kelas.


Seni bertanya dan keterampilan menjawab adalah hal yang urgen untuk bisa menerapkan komunikasi produktif dalam keseharian kita. Dan itu tidak ujuk ujuk sukses muncul tanpa latihan, 5W(what, when, where,why,who) + H (how)






Hari ke-5Couple Talking

Forum "couple talking" kami hari ini berlangsung di dapur, sambil membuat cemilan "banana cake gluten free with palm sugar". Diskusi kami bertema "kemuliaan"

Sepertinya kemaren ada komunikasi yang gagal dibangun dengan nenek. Saya sedang dikelas bersama guru-guru, ketika nenek minta izin untuk pulang. Saya kaget, kenapa tiba tiba nenek izin pulang. Lalu saya temui suami dan anak anak yang sedang bersama dikamar, juga dalam keadaan bengong alias tidak mengerti.

Ternyata nenek baru saja menelepon orang yang mengerjakan sawah beliau di kampung. Nenek mengajak ayah pulang, ayah menolak karena baru saja pulang kerja, dan cuaca gerimis. Lagian tidak mungkin membonceng nenek pulang dengan kondisi tubuh dan kesehatan beliau. Perjalanan pulang kan lumayan jauh.

Gawatnya, nenek tetap pergi, beliau bilang mau naik ojek. OMG! Langsung cus berjalan menuju pertigaan dan menghilang dibalik kendaraan yang berlalu lalang.

Nenek alfa bawa kunci rumah, demikian juga dengan bekal obat beliau. Mau tak mau ayah mesti susul nenek segera. Tindakan pertama adalah bertanya pada tukang ojek di pertigaan. Ternyata tak satupun ojek disana. Ayah lanjut menerobos hujan menuju pasar Limbanang. Alhamdulillah wa syukrulillah nenek sampai di Limbanang dengan selamat. Harus naik satu trayek angkutan perdesaan lagi untuk sampai di rumah nenek. Ketika ayah bertanya, "Ibu pulang naik apa?" Dengan suara meninggi beliau menjawab, " Jo Nono!". Nono adalah nama supir mobil umum satu satunya yang lewat rumah nenek.

Balik ke tema "kemuliaan", menurut hemat saya menjaga kemuliaan anak bagi kita orang tua adalah sampai kita *tua* bahkan sampai  kita tutup usia.

Haaa? Begitukah? Bagaimana dengan kalimat anak durhaka? Atau yang benar orang tua durhaka? Hushh!!! Hati hati ngomong!! Nanti jadi kalimat tidak produktif lho!

Hari ke-6

Menahan marah

"La taghdhob wa lakal jannah" (hadist)
 Jangan marah dan bagimu surga

Menahan marah, ganjarannya adalah surga, subhanallah...
Galibnya, emosi adalah berbanding lurus dengan intonasi suara. Itu sudah umum dan biasa. Keluar dari hal galib, adalah suatu yang berat. Marah tapi intonasi suara tetap dalam keadaan ramah, itu sulit. Apalagi emak itu punya P4 (Pambongih Parabo, Paibo jo Panangih). Bahkan disebut2 emak masih keturunan "pak bawang," hihihi

Pengaliaran emosi emak ke anak pasti terjadi secara otomatis karena anak tak pernah salah meng copy.


But emak perlu berlatih untuk ini kalau ingin praktek komunikasi produktif demi beroleh surga. Ini namanya tantangan menarik. Berpikir positif, dan gunakan diksi yang tepat, "Emak insyaallah bisa!" Selalu ingat rumus "kendalikan intonasi suara, dan gunakan suara ramah."


Hari ke-7 

Couple Talking

Salah satu kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektifitas dan produktifitas komunikasi (dengan pasangan) adalah choose the right time, memilih waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan.

Dulu perbedaan FoR (Frame of Reference) dan FoE (Frame of Experiance) kami, tinggi.......tinggi sekali.....seperti naik naik ke puncak gunung, hihi. Seiring dengan perjalanan waktu dan komunikasi yang dibangun FoR dan FoE semakin bisa diturunkan, alhamdulillah.

Bagi kami, the right time yang ampuh untuk membangun komunikasi, salah satunya, adalah dengan memijat. Melalui sentuhan fisik, bonding juga semakin meningkat. Cerita, curhat dan turunannya akan mengalir lancar tanpa beban saat dipijat dan memijat.

Saya memanfaatkan momen ini dengan istimewa. Saya belajar berbagai tekhnik memijat dengan serius, mengikuti beberapa pelatihan memijat berbayar maupun gratis, seperti pelatihan accupressure, SEFT, dan pijat limfatik. Dari kecil saya pribadi juga suka dipijat, jadi saya tau bagaimana dipijat yang enak. Selanjutnya saya praktekkan kepada suami dan anak-anak. Alhamdulillah dengan cara ini, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Badan jadi enak, segar dan enteng, sekaligus komunikasi produktif dapat terbangun.


Hari ke-8

Anak tantrum vs Emak Tantrum

Pagi ini O im mau ikut mc Omi k SDIT.
Ummi : “Oim mau mandi sekarang atau tunggu mak Omi dulu?”
Oim  :  “Sekarang  aja Mi.”
Setelah masuk kamar mandi, ummi mengingatkan (eh, bukan mengingatkan sih seperti memerintah tepatnya,hihi)
Ummi : gosok gigi ya! keramas ya!
Oim  : “Iya mi, tau tau!” kata Oim lembut, tanpa teriak.(Dia senang kalau ke SDIT, bisa main sama Adib, abang sepupu idolanya)
Setelah mandi, pakai baju dan celana,
Ummi : ikat pinggangnya mau pake sendiri atau ummi bantu?
O im :  pake sendiri mi.
Setelah berusaha ternyata tidak bisa.
Oim : “dibantu aja Mi”
Ummi : "Ok." "Im, kalau mc Omi belum datang, bisa O im tunggu sementara ummi berangkat duluan belanja?
O im : "ya Mi, ga pa pa, ummi hati hati ya!"

Nah, kalau suasana demikian tiap waktu dan tiap hari kan enak yach..
Yang sering tidak lulus ujian itu ya ummi, pemirsah.

Kita sering menuduh adanya anak tantrum, padahal emak tantrum juga ada kan? Terlalu lelah, terlalu lapar, banyak beban, banyak fikiran, bisa jadi pemicu emak tantrum. Marah tak karuan, ngomong dan teriak gak jelas…

Nah, tau penyebabnya kan? So, hindari ter...la...lu…

Hari ke-9

Anak Sholeh

O im suka sekali membuat gambar stick figure. Gambar itu kaya cerita dan kaya ide. Dulu ceritanya didominasi aneka mobil, berbagai senjata, orang baik, orang jahat, dan lain lain.

Kini tema gambarnya mulai berubah. Cerita pergi tahfidz, mengaji, dll menjadi favoritnya.

Ketika Ummi tanya, “Wah, tema gambar O im sekarang sudah berobah ya?” “Iya, Mi...Sekarang O im mau jadi anak sholeh Mi.”jawab O im. Subhanallah… Sejuknya hati Ummi mendengarnya Nak! Semoga cita cita O im menjadi anak sholeh terwujud ya sayang.

Hari ke-10

Bahasa Inggris

O im juga suka dengan motor GP dan motor trabas. Ia mengoleksi banyak  motor tersebut. Ia juga suka menonton balap motor GP, dan aneka tantangan motor trabas.

Nah, narator tontonan motor-motor tersebut selalu berbahasa Inggris. hingga suatu hari O im bilang, “Ummi, ajarkan O im Bahasa Inggris”. “Buat apa?”tanya Ummi. “Biar O im mengerti apa yang dikatakan ‘orang’ (baca narator) di tayangan motor GP dan motor trabas.”

Hmm Pe Er Ummi dengan bahasa ibu, komunikasi produktif, harus segera selesai nih. O im sudah menuntut untuk diajarkan bahasa asing. Ummi harus siap!


Pastinya catatan terbaik ada disisi-Nya. Yang every single word takkan pernah luput. Semuanya akan dipertanggungjwabkan. Rabbana Ighfirlana zunuubana wa kaffir 'anna sayyiaatina wa tawaffana ma'al abraar. Amiin Ya Arrohamarrohimiin.


#bunsay #challange #komprod #iip

Tanah Mati, 5 Februari 2017
Betty Ibu Pembelajar

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...