Saturday, 18 February 2017

ALIRAN RASA KOMUNIKASI PRODUKTIF


Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi 
atas mereka, terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan
 (QS. Annur:24)

Pada hari ini kami tutup mulut mereka, tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadapa apa yang dahulu mereka kerjakan (Q.S Yaasin:65)


Banyak komunikasi yang terjadi dalam keseharian kita ditengah keluarga. Tentu tak bisa semuanya tercatat karena berbagai keterbatasan. Ada yang berhasil dengan komunikasi produktif dan masih buaanyak yang gagal.

Pastinya catatan terbaik ada disisi-Nya. Yang every single word takkan pernah luput. Semuanya akan dipertanggungjwabkan. Rabbana Ighfirlana zunuubana wa kaffir 'anna sayyiaatina wa tawaffana ma'al abraar. Amiin Ya Arrohamarrohimiin.



Walaupun aku pernah belajar di jurusan bahasa, belajar berbagai teori tentang komunikasi, tak serta merta membuatku bisa berkomunikasi dengan baik. Karena untuk bisa berkomunikasi produktif yang dibutuhkan adalah latihan latihan dan latihan.

Puluhan tahun biasa berkomunikasi "bebas", dalam lingkungan keluarga,  adat dan kebiasaan yang cendrung "keras." Badongek dongek en bahasa daerahnya. (Maaf kawan aku ngga tau padanan Bahasa Indonesianya, hiks). Sudah hitung tahunan juga aku berusaha dan berdoa agar aku bisa berbicara lemah lembut dan santun. But,......


Menyelesaikan tantangan 10 hari berkomunikasi produktif adalah sebuah prestasi,dan itu adalah limit terendah untuk mempermudah tercapainya tujuan. Breaking the limit adalah prestasi selanjutnya. Berlatih terus menerus tanpa disuruh, tanpa tuntutan tugas, dan tanpa berharap nilai, karena limit latihan terbaik adalah unlimited. Bukankah Allah Ta'ala lebih suka amal yang dilakukan dawwam?



"Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, 
tetapi amal kebajikan yang terus menerus lebih baik pahalanya 
disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan 
(QS Al Kahfi:46)     




Autonomi, sebagai tahap dan kategori tertinggi dalam komunikasi dengan diri sendiri mesti tercapai; yaitu terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, sehingga menjadi budaya dalam kehidupan.


The greater danger of most of us is not that our aim is too high

and we miss it, but it is too low and we reach it.

Bahaya besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita berhasil mencapainya

(Michael angelo)
For thing to change I have to change first, adalah mantra mujarab dalam perjalanan komunikasi produktifku, termasuk dengan pasangan. Berusaha berubah secara sikap, dalam hati serta mindset terhadap pasangan bagiku adalah kunci keberhasilan berkomunikasi dengan beliau. Ditambah dengan Rumus Cinta Segitiga yang juga work well. Melesatkan doa ke langit pada Sang Maha Pembolak Balik hati. Apa yang kudapatkan kawan? Aku beroleh ketulusan more and more, alhamdulillah.
Berusaha menghilangkan ego sebagai orang tua dan ego sebagai anak dan senatiasa menjaga ego tetap berada pada posisi dewasa dan dewasa sebagai tahap yang ideal. Yaitu bagian dari kepribadian yang objektif, stabil, tidak emosional, rasional, logis, dan tidak menghakimi. Berkerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan. Selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah. Berkomunikasi dengan produktif, objektif, tegas, dan efektif dan bertanggung jawab dalam menghadapi kehidupan.
Selanjutnya berusaha mengambil kesimpulan dan keputusan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Suka bertanya, mencari atau menunjukkan fakta-fakta, bersifat rasional dan tidak emosional, bersifat objektif dan seterusnya. Tentu ini akan terlihat dari cara berkomunikasi, kalimat yang dipilih dan bahasa tubuh yang digunakan.
Sama seperti anak-anak lain pada umumnya anak-anaku suka diekspresikan bahasa cinta dengan sentuhan fisik, kata-kata mendukung, waktu bersama, pemberian hadiah dan pelayanan.
Untuk si Bungsu kelihatan semuanya masih dominan. Sentuhan fisik membuat hatinya melunak,bahasanya jadi santun dan sopan. Waktu bersama membuatnya menjadi senang dan akan merasa kehilangan kalau aku pergi pergi. Kata kata mendukung dan pemberian hadiah membuatnya bersemangat untuk belajar berkreasi dan melakukan banyak hal. Begitu juga dengan pelayanan, si bungsu sangat senang kalau dilayani.
Si Tengah kayaknya lebih senang bahasa cinta dengan pemberian hadiah dan kata kata mendukung. Sedangkan si Sulung senang dengan sentuhan fisik.
Ssssttt!!! Yang sangat berpotensi merusak komunikasi produktif dengan anak-anak ya sepertinya aku, huhuhu. Astaghfirulahal 'azhiim. Anak emosi, marah dan tantrum berasal dari aku yang tak sabar dan strategi komunikasiku yang salah, atau aku sendiri yang tantrum, hiks. Terlalu lelah, kurang istirahat biasa jadi pemicunya. Aku harus menghindari ter...la...lu agar kewarasanku tetap terjaga, yes!!! semangat!!!
Tanah Mati, 18 Februari 2017
Betty Sang Pembelajar


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...