Tuesday, 7 February 2017

MATERI 1 BUNSAY : KOMUNIKASI PRODUKTIF (bagian 1)

Setiap kali Bu Septi menyapa di perkuliahan IIP on line, komen apalagi share materi, saya pasti merinding, membaca postingan dengan mata berkaca bahkan seringkali dalam sesengukan. Sungguh ruh beliau kala menyampaikan tinggi sekali. Seperti kita duduk berhadap-hadapan dan berbicara secara personal.
Mau baper seperti saya? Mari simak Resume materi dan tanya jawab kuliah Bunda Sayang kelas koordinator sesi #1: Komunikasi Produktif
🌸🌸🌸🌸🌸
_Institut Ibu Profesional_
_Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_

*KOMUNIKASI PRODUKTIF*
Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif, agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan, baik kepada diri sendiri, kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.

KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.
Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir dan cara kita berpikir
Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda
Kata *masalah* gantilah dengan *tantangan*
Kata *Susah* gantilah dengan *Menarik*
Kata *Aku tidak tahu* gantilah *Ayo kita cari tahu*
Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.
Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya
Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.
Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.

*KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN*
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.
Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.
Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki *_Frame of Reference (FoR)_* dan *_Frame of Experience (FoE)_* yang berbeda dengan kita.
FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.
FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.
Komunikasi dilakukan untuk *MEMBAGIKAN* yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

*_Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu & FoE/FoR KITA_*
Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu, pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi *MEMAKSAKAN* pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.
Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; *_bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi_*

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua. Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu  agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.
Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:
1. *Kaidah 2C: Clear and Clarify*
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. *Choose the Right Time*
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. *Kaidah 7-38-55*
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.

4. *Intensity of Eye Contact*
Pepatah mengatakan _mata adalah jendela hati_
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. *Kaidah: I'm responsible for my communication results*
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.
Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.

*KOMUNIKASI DENGAN ANAK*
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.
*_Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy_*
Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya. Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.
Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.

Bagaimana Caranya ?
a. *Keep Information Short and Simple (KISS)*
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya” ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. *Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah*
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c. *Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan*
Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d. *Fokus ke depan, bukan masa lalu*
Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. *Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”*
Otak kita akan bekerja seseai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. *Fokus pada solusi bukan pada masalah*
Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.

g. *Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan*
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”
h. *Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman*
Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. *Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi*
Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya bahagia sekali di sekolah, boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. *Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati*
Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"
kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?
k. *Ganti perintah dengan pilihan*
kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
Kalimat produktif :
“Kak 30 menit lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi, baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat

Salam Ibu Profesional,
/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
_Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000_
_Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015_
_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014_
_Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari_
🌸🌸🌸🌸🌸

Sesi Tanya jawab
1⃣
Ria - IIP KalBar
Assalamualaikum Ibu Septi yang di Rahmati Allah.
1. Ibu bagaimana memaksimalkan kalimat produktif di saat kita sedang menghadapi anak yang sedang emosi/tantrum kerena sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya. Apa yang harus kita perbaiki dari diri kita karena pasti ada sesuatu yang salah dari diri kita sehingga anak menjadi mudah emosi?
2. Kedua, selama ini ketika saya berkomunikasi dengan anak akan lebih mudah bagi saya untuk berkomunikasi secara produktif, menjaga intonasi, berhati-hati memilih kata. Namun ketika saya berbicara dengan pasangan sangat mudah sekali sy terpancing emosi terlebih dalam menjaga intonasi. Apakah ada kaitannya dengan tipe seseorang yang cenderung pendiam Bu, Karena yg saya rasakan pendiamnya saya dulu membuat saya kurang pengalaman dalam berkomunikasi atau mengungkapkan sesuatu melalui kata2.
Terima kasih Ibu 🙏😊

Jawaban 1⃣
a.mbak Ria di kalbar, anak emosi/tantrum krn sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya akan menjadi "modus operandi" apabila kita loloskan keinginannya. Maka yg harus kita lakukan adalah jadi raja tega.
"Tidak ada yg berhasil di rumah ini dengan menangis dan teriak-teriak"
Anda tunggu saja sampai nangisnya usai, ambil air wudhu, baru ditanya baik-baik.
Karena menangis/tantrum ketika minta sesuatu adalah tingkat ketrampilan anak yg paling rendah, kalau dg cara ini saja sukses, maka ketrampilan komunikasinya tidak akan naik.
Saat aqil baligh kalau mau minta sesuatu, pakai ngambek.
Saat jadi orangtua kelak, pakai komunikasi tingkat paling rendah yaitu mengancam ke anaknya/pasangan hidupnya.
"Awas ya kalau tidak mau belajar, uang sakunya mama kurangi" 😬ngancam tapi nggak pakai logika, makin parah ini. Jika X ( tidak mau belajar), maka Y ( menjadi tidak paham), bukannya uang sakunya berkurang.
"Pokoknya aku mau mas ngerti ttg aku, kalau begini terus, aku nggak akan ngurusi orangtuamu" 😳
b. Ketika komunikasi dg pasangan, belajarlah untuk memahami Frame of Reference dan Frame of Experience pasangan kita. Setelah itu selesaikan segala macam dendam yg ada, segala tantangan di keluarga yg belum selesai. Mulai gunakan kaidah 2 C, choose the right time, 7-38-55 dll
Insya Allah pola komunikasi kita makin terasah
























2⃣Assalamu'alaikum
Siti-IIP Jatsel
Bu bagaimana ya komunikasi yang tepat untuk menyampaikan tugas kepada rekan kerja agar tidak terkesan memerintah?
Trm ksh..

Jawaban
Wa'alaykumsalam mbak siti di jatim selatan. Apabila rekan kerja anda satu level, maka ajaklah diskusi, duduk bareng, paparkan job listnya, kmd tawarkan mau pilih yg mana.
Kalau rekan kerja 1 level di bawah kita dan scr komando memang harus anda perintah, maka sampaikan tugas dg jelas (clear) kasih kesempatan unt tanya ( clarify) 

Saya Esme dr IIP Bogor...ini pertanyaan saya:
Bagaimana menghadapi anak yg sering frustasi saat tidak bs melakukan sesuatu? Misal sulit memakai celananya, sulit membuka pintu, atau membuka botol minum...Kadang saya membiarkannya untuk berusaha dulu sblm membantunya. memintanya untuk berusaha tenang dan melakukannya perlahan...Namun makin lama saya dtg membantu, makin frustasilah dia dan berhenti berusaha (ujungnya menangis marah)..
bagaimana komunikasi yg efektif agar anak saya mw berusaha terlebih dulu sebelum meminta bantuan...karena saya selalu berusaha mengapresiasi usahanya betapapun hasilnya jauh dr kata memuaskan...Usia anak saya (2th 9bln) .
Terima kasih bu septi
Jawaban 
 Mbak esme yg ada di Bogor. Apa yg mbak lakukan sudah benar, menunggunya sampai dia bisa, sampai si anak sendiri yg minta bantuan. Selama tidak minta bantuan jangan dibantu. Dia akan belajar menghadapi kefrustasian.
Komunikasi yg efektif adalah sampaikan progress.
"Kak, kemarin kakak hebat, berhasil memakai celana sendiri dalam waktu 15 menit
Sekarang ibu beritahu cara yang lebih cepat ya, biar kakak bisa pakai celana kurang dari 15 menit"

Assalamualaikum wr. Wb.
Saya Prima Iip malang.
Bu Septi, setelah baca materi saya bold bagian ini. Karena merasa dekat sekali dengan kehidupan sehari² saya yg tinggal dengan Ibu Mertua. Neneknya si kecil.
*Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu*
*Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua*
Nah, saya merasa sudah mengedepankan nalar bukan emosi. Dengan menjelaskan kenapa ini "tidak bisa dilakukan, tidak boleh dilakukan" dengan mengharap pengertiannya. Setelah penjelasan ini biasanya tetua sulit menerima, Bu. Langsung marah, hingga akhirnya memaksa kami untuk acc maunya Ibu biar ndak marah, sedangkan yg lain mengalah. Kira² kalau untuk yang komunikasi produktif dengan orang yang sudah tua agar FoE/FoR ku dan FoR/FoEmu ==> FoR/FoE kita?

Jawaban 
Wa'alaykumsalam mb prima yg ada di malang. Komunikasi dg ortu/mertua itu sama dg komunikasi ke anak-anak.
Maka jangan pakai konsep komunikasi ke pasangan ( org dewasa)
Orangtua itu tidak suka digurui, diceramahi,
Orangtua itu senang merdeka
Orangtua itu semua keinginannya ingin terpenuhi
Maka kita yg harus paham
Komunikasi tidak produktif :
"Ibu, cucu-cucu ibu itu sudah harus dididik dengan cara yg berbeda, bukan dg pola ibu dulu"
Komunikasi produktif:
"Ibu, keren ya, bisa mendidik 4 anak di jaman susah ekonomi waktu itu, teknologi juga tidak secanggih sekarang. Kalau untuk cucu, yg hidup di jaman serba canggih ini, ibu ingin pola pendidikan yg seperti apa?"
Kemudian berikan 1 porsi yg ibu sebutkan.
Yg lain akan mbak lakukan.

Saya irma dari lampung
Tentang komunikasi dengan anak.. Bagaimana caranya komunikasi yang lebih produktif ke anak yang lebih kritis atau bukan tipe penurut.. Anak saya yang pertama.. Usia 4y selalu punya argumentasi sendiri dalam hal apapun.. Terkadang saya jd terjebak dalam situasi sulit mengendalikan emosi untk menghadapi nya..😓
Bolehkah kita mengkomunikasikan ekspresi sedih kita karena tingkah atau kelakuan anak2 ke anaknya langsung.. Misal umi sedih kalau kamu.....
Trimaksh bu septi atas pencerahannya

Jawaban 
mbak Irma di lampung, langkah pertama lakukan tahap memahami , bahwa suka kritis dan berargumentasi itu bagian dari kekuatan anak, yg tidak semua anak punya.
Setelah itu lakukan Reframing ( membangun kembali dari sudut pandang yg berbeda):
Puji : kak, kamu itu jago banget deh memberikan argumentasi dan memberi kritikan tajam.
Berikan peran yg tepat :
Sepertinya bakalan cocok banget nanti kalau dipakai dalam forum debat, jadi pengacara, membela kebenaran, politisi handal dll.
Tempat yg tepat : Gunakan kemampuan itu di pengadilan, lomba debat, dan saat kita berdiskusi keluarga.
Posisi sekarang :
Nah kalau sedang bicara sama ibu, tidak perlu berdebat ya sayang, nanti ibu buatkan forum debat di rumah ini setiap hari sabti, bagaimana?

Assalamu'alaikum wrwb, bunda.... saya Ratna dari IIP SUMUT... saya mau nanya... komunikasi seperti apa yg hrs Kita lakukan terhadap teman yg sering kali memonopoli pembicaraan. Bgmn agar komunikasi yg berlangsung dapat produktif dan memuaskan semua pihak... tks

Jawaban 
wa'alaykumsalam mbak ratna, teman yg memonopoli pembicaraan, harus segera di cut atau dibatasi ruang lingkup bicaranya. Sehingga akan lebih fokus.
Kasih peran secukupnya saja, berikan tim kecil, carikan partner yang cocok. Biasanya orang tipe ini sangat cocok bekerjasama dg tipe server.

Tien IIP Makasar
Assalamu'alaikum,
Terima kasih tuk ilmunya yg sangat bermanfaat bu. Pertanyaan saya:
1. Khusus bagi pasutri yg LDR, bgmn sebaikx menyelesaikan mslh RT smntra komunikasi scra langsung bgtu terbatas(aplg porsi non verbal mgkin sulit
diamati). Apakah baik mendiamkan mslhnya dulu smpai ketemu langsung pasangan atau ttp menyelesaikan via tlp or chat wa, meski terasa kurang efektif.
2. Bgmn cara mengkomunikasikan ke suami bahwa istri/perempuan itu adalah makhluk verbal. Sesederhana apapun itu, suami hendaknya ttp bs m'verbalkan pikiran2nya 😁.
Terima kasih,

Jawaban 
wa'alaykumsalam kak tien di Makassar. LDR harus memperkuat komunikasi jarak jauhnya dengan berbagai media yg ada. Maka pelajari bahasa tulisan, dan investasi pulsa untuk bisa berbicara setiap saat, minimal 1 hari 1 x bicara.
Tidak semua perempuan itu makhluk verbal. Andaikara anda lebih menyukai komunikasi verbal dan suami non verbal, berarti harus saling belajar. Yg verbal belajar non verbal, yg non verbal belajar verbal 

Fitri Purbasari IIP Depok
Bagaimana mensiasati orang tua bersumbu pendek bu? Terutama saat PMS. Terima kasih.
Jawaban 
Hilangkan keyakinan bahwa setiap PMS setiap perempuan pasti emosi, dan hal ini kita jadikan permakluman ketika kita sedang bersumbu pendek.# kayak kompor ya
Pengalaman saya, ketika menjelang PMS, saya sudah siap, sebentar lagi ada perubahan hormon. Maka saya ajak hormon-hormon itu berbicara, berubahlah secara baik, sehingga tidak mengganggu fisik dan emosi saya"
Maka mulai dari lulus kuliah sampai sekarang saya tidak pernah emosi menjelang PMS
Bahkan rasa sakitpun bisa saya ajak kompromi. Misal saya sdg sakit kepala, padahal mau jadwal seminar. Maka saya berkomunikasi dg rasa sakit itu.
"Sakit, tolong berkurabg dulu selama 3 jam ya, saya perlu kondisi fit"
Rasa sakitpun patuh, dan setelah 3 jam balik lagi, krn memang fitrahnya harus sakit, maka saya minta tunda saja.
Berlatihlah ini ilmu konunikasi yang lain
Ketika kita sdh bisa berkomunikasi produktif dg diri kita sendiri, pasangan, dan anak-anak, maka kita akan terlatih berkomunikasi dengan makhluk hidup yg lain, termasuk sel, hormon, bakteri, dll.

Ibu, ada 3 hal yg ingin saya tanyakan. Mohon penjelasannya. 🙏🏼
1. Bagaimana cara agar tetap bisa menggunakan komunikasi produktif kepada anak saat kita sedang ingin marah atau merasa kesal?
2. Apakah FoE bepengaruh terhadap gaya komunikasi terutama dalam hal intonasi dan bahasa tubuh?
3. Jika dalam sebuah rumah tangga komunikasi antar pasangan sudah tidak efektif sehingga sering menimbulkan prasangka bahkan perdebatan, apa langkah pertama yg harus diambil untuk memperbaikinya?
Terima kasih atas jawabannya, Ibu 
Savira_IIP Tangerang

Jawaban 
mbak savira fi Tangerang, kalau ingin marah jangan di dekat anak-anak ya, menyendirilah.
Bila saat ingin marah kita dalam posisi berdiri, duduklah, kalau duduk, berbaringlah, setelah itu segera ambil air wudhu.
Dan saran saya marahlah di back stage anda, tentukan mana ruang back stage, ketika ketemu anak-anak anda sudah masuk on stage lagi.
FoE akan sangat mempengaruhi komunikasi seseorang, baik dari sisi suara, intonasi maupun bahasa tubuh.
Kalau terjadi perselisihan buatlah golden rules, misal tetaplah berkomunikasi seberapapun emosi dll

Assalamualaikum bunda
Perkenalkan ,saya Irma dari IIP Sumut Medan. Ingin bertanya nih bunda septi. Saya ibu dr Annisa 2y,8m . Anak saya termasuk anak yang aktif sekali , saat ini berbicara sudah lancar , menanggapi perkataan ortu nya pun sudah bisa. Skrg ini saya hampir kewalahan bun ,setiap kalimat perintah yg saya ucapkan akan selalu ada jawaban dr nisa . Misal " kk sekarang waktunya tidur y ,bsk kita bermain lg" . Nah nisa akan jwb "ndak mau kk main dulu, sy kasih jeda dan sy ulangi lg .dia tidak mau malah marah dan menangis.
1. Apakah komunikasi sy ini kurang tepat bunda?
2. Pertanyaan kedua bun .komunikasi dan pendekatan apa yg hrs sy lakukan kpd annisa kl dia selalu ingin ikut ayah nya bun. Hingga kdg pekerjaan ayahnya tidak siap2 krn hrs diikuti terus.
Terima kasih bunda.😊

Jawaban 
Wa'alaykumsalam mbak Irma di Sumut, gunakanlah bahasa yg dipahami anak-anak.
"Annisa, 5 menit lagi kita tidur ya, bunda tunggu di kamar"
Kondisikan lampu, tv, dan semua pekerjaan selesai.
Karena sejatinya secara fitrah anak-anak pasti akan tidur setelah isya, dan bangun saat shubuh. Itu bioritme alamiah anak-anak. Kitalah orang dewasa yg kadang mengubah bioritme tsb.
Maka kembalikan ke fitrah
apabila annisa lebih suka ke ayahnya, maka kondisikan jam berapa saja ayah bisa bersama dengan annisa. Maka spare waktu khusus misal 1 jam bersama annisa sebelum bekerja, shg rutin terpenuhi kebutihan annisa





Arisa-sidoarjo.
trkait *ganti perintah dengan pilihan*. jika ternyata pemberian waktu yang diberikan tidak dilaksanakan/lewat dari waktu yang ditentukan bagaimana bu supaya anak mau menyegerakan diri? apa perlu ada semacam konsekuensi yang akan diterima anak? misal tidak boleh bermain d luar hari itu.

Jawaban 
mbak Arisa di Sidoarjo, betul mbak berikan konsekuensi, tapi harus yang masuk logika.
Misal sdh diberi waktu 15 menit buat mengancingkan baju, belum selesai juga, maka konsekuensinya berangkat dengan kancing yg belum sempurna. Bukan tidak boleh main.
Saya dulu pernah memberikan konsekuensi tsb ke anak-anak ketika kecil, sudah dikasih waktu untuk pakai sepatu, tapi muteer saja, resikonyq adalah jalan dengan sepatu satu.
Tapi bahasa tubuh kita mengatakan ini konsekuensi yg asyik meski susah.
Saya ajak mereka bercanda selama jalan, dan saat di angkot baru dibetulkan lagi.
Yang penting jangan buru-buru dihukum.

Henny wilda IIP Sumut
Aslkm bunda
Anak pertama saya prempuan 5y, dia mengalami gangguan pendengaran berat. Jika berkomunikasi dengan nya harus menggunakan bahasa isyarat, namun sering sekali saya mengalami kendala dalam berkomunikasi secara produktif, dan mengenai rasa sepertinya anak saya kurang peka bun, bagaimana mengatasi situasi seperti ini bun, selama ini saya sudah mencoba mencari informasi agar bisa berkomunikasi lebih baik, namun sepertinya sampai saat ini komunikasi antara anak saya dan saya masih sering mis. Bagaimana ya bu komunikasi yg produktif dengannya
Yg ke 2
Jika waktu berkomunikasi dengan suami hanya 5 jam dalam sehari dan dengan kondisi menemani anak2 juga. apa sebaiknya yang saya lakukan agar komunikasi menjadi lebih produktif bun.

Jawaban 
mbak henny wilda di sumut, belajarlah bahasa isyarat dengan baik, ini pelajaran yg diberikan Allah dengan jelas untuk mbak henny lewat ananda.
Jadilah ahli di dalamnya
2. Waktu 5 jam sehari dengan suami, itu luar biasa. Maka ajak berkegiatan bersama anak istri 1 jam saja sehari, sdh terjalin komunikasi yg efektif. Main..main dan main.
Tapi kalau 12 jam bahkan 24 jam bersama tidak ada aktivitas komunikasi, maka apalah arti sebuah waktu?

Assalamualaikum bu Septi...
Kalau anak agak susah mengungkapkan perasaan dan menceritakan tentang suatu kejadian yang baru dia alami apa juga karena komunikasi yang tidak produktif bu?
Risa ferina - malang

Jawaban 
wa'alaykumsalam mbak risa di malang. Harus dilihat dulu mbak, apakah hal tsb karena takut, karena malas ngomong, atau karena lebih senang dg cara lain, misal visual.
Kalau karena takut dan malas ngomong, bisa jadi kita harus mereleksi cara komunikasi kita.
kalau ternyata ingin mengungkapkan dg cara lain, segera kasih kesempatan

🙋sasha - Lampung
1⃣Bagaimana pola komunikasi ke anak batita dengan penguasaan verbal yang belum terlalu lancar, apakah rumus 7,38,55 tetap berlaku
2⃣bagaimana sebaiknya kita bersikap dan berkomunikasi kepada anak yang mendapat kata-kata "ajaib" menjurus negatif dari pergaulannya di luar rumah
3⃣bagaimana kami sebagai wanita yang butuh penyaluran kata-kata 20rb setiap harinya, sedangkan pasangan cenderung pasif saat di ajak berkomunikasi

Jawaban 
mbak sasha di lampung
a. Anak batita itu sedang belajar mengcopy, maka gunakan pola 7-38-55 dengan benar. Kita ortunya harus benar vokal suaranya, intonasi jelas dan bahasa tubuh kita ikut berbicara. Nanti lama-lama kita takjub, mengapa anak-anak ini baru datang saja sdh memberikan rasa bahagia. Nanti kalau sdh besar, baru masuk ruangan org di dalamnya sudah setuju dg apa yg akan diucapkannya. Ini karena pengaruh pola komunikasi yg tepat saat batita.
b. Kalau ada kata ajaib, segera berirahukan artinya, dan tegur unt tidak diucapkan
c. Kalau tidak mendapat saluran bicara, maka anda rekam suara anda, kalau tidak bisa lagi, menulislah, biar huruf demi huruf itu yg berbicara.
Yang pasti jangan paksa suami / anak-anak unt mengubah polanya, kita yg haris bisa berubah dulu



🌸🌸🌸🌸🌸
Alhamdulillah, demikian resume materi dan tanya jawab, yuk kita baca perlahan2 sambil dresapi pemahamannya


----------------
Tanah Mati, 2 Februari 2017
Betty Ibu Pembelajar

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...