Saturday, 18 March 2017

ALIRAN RASA MELATIH KEMANDIRIAN

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupa bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, 
dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. 
Sungguh Allah tidak menyukai orang 
yang berbuat kerusakan. (Q.S Al Qashas : 77)

Melatih kemandirian anak adalah salah satu poin dari mendidik anak, yang orientasinya hendaklah tidak hanya untuk kehidupan dunia saja. Akan tetapi lebih dari itu seyogyanya berorientasi akhirat sebagai kehidupan yang kekal kelak.

Tersebab...


"Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. 
Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat 
kecuali neraka, dan sia-sialah di sana apa yang telah mereka usahakan  
(di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka usahakan (di dunia) danterhapuslah apa yang telah mereka kerjakan. (QS Hud:15-16)

Ada kesuksesan yang telah diraih dalam menegakkan kemandirian. Ada lompatan yang diluar dugaan. Ada prestasi yang melampaui ekspektasi. Namun masih banyak pula kegagalan yang ditemui. Bahkan ada kesalahan yang sama terulangi lagi. 

Dapat menyelesaikan tantangan 10 hari melatih kemandirian, itu merupakan prestasi, kawan. Terutama bagi saya emak rempong si Ibu Rumah Tangga yang punya banyak urusan luar negri, disamping urusan domestiknya. Melatih kemandirian setiap hari itu mah udah biasa, alhamdulillah,  but ditambah dengan menuliskannya tiap hari berturut-turut, ho ho... itu wuuar biasa...Maka berhak beroleh badge ini, kawan
\


Tetap optimis, terus berlatih serta berusaha dengan sungguh-sungguh.



Senantiasa meminta pertolongan Allah dalam setiap langkah sehingga tidak sia-sia jerih payah yang telah diusahakan tersebut. Selalu menghadirkan Allah Ta'ala bahwa "Laa haula wala quwwata illa billahi 'aliyyil 'azhiim". Tiada daya dan upaya kecuali dengan bantuan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.


Tanah Mati,18 Maret 2017
Betty, Ibu Pembelajar

Apa saja diantara tantangan kemandirian yang sudah dilatihkan bersama anak-anak dan dicatat prosesnya direntang waktu perkuliahan Bunda Sayang #1 ini?
Ini dia kawan,.....
MELATIH KEMANDIRIAN DAY#1

Aku selalu berbinar kala berbicara tentang melatih kemandirian anak, kawan. Why? Banyak kerja, tugas dan kewajiban yang terdelegasikan dengan melatih kemandirian anak. Wuaaah.... enak bener yachHo hoho ternyata prakteknya tidak segampang itu kawan. Sungguh belajar tega adalah suatu hal yang berat. Butuh niat dan kerja yang istiqomah. Apalagi meminimalisir produksi kata-kata adalah ujian lain yang menantang.

Melatih kemandirian adalah hal yang penting karena kemandirian erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Kalau ingin rasa percaya diri anak meningkat maka melatih kemandirian adalah salah satu kuncinya. Anak yang mandiri tidak akan bergantung pada orang lain, dan juga akan membuatnya lebih cepat "selesai" dengan dirinya sehingga ia akan bisa berbuat banyak untuk orang lain.

Alhamdulillah, banyak poin tentang kemandirian yang telah diselesaikan putra putriku, Aisyah (14,9 yo), Fathimah (12 yo), Abdurrohiim (6,10 yo). Sudah teruji saat kami meninggalkan anak-anak sebentar, sehari dua hari, bahkan dalam waktu yang lama. Sebagian kutulis di DISINI dan DISINIPeningkatan dan latihan  tentu harus senantiasa dilakukan agar menjadi lebih baik dan semakin baik. Masih banyak poin kemandirian yang merupakan keterampilan dasar yang mesti dilatihkan, seperti;
  1. Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya
  2. Keterampilan literasi
  3. Mengurus diri sendiri
  4. Berkomunikasi
  5. Melayani
  6. Menghasilkan makanan
  7. Perjalanan Mandiri
  8. Memakai tekhnologi
  9. Transaksi keuangan
  10. Berkarya
Dalam meeting keluarga, anak-anak telah memilih dan memutuskan bahwa bulan ini masing-masing mereka akan melatihkan;

Si Sulung Aisyah
  1. Keterampilan Literasi
  2. Berkomunikasi
  3. Perjalanan Mandiri
  4. Berkarya
Si Tengah Fathimah
  1. Menghasilkan makanan 
  2. Menjaga kesehatan
  3. Melayani
  4. Berkarya
Si Sulung Abdurrohiim
  1. Mengurus diri sendiri
  2. Melayani
  3. Jendral sampah
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi 
amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya 
disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. 

(QS Al Kahfi : 46)


MELATIH KEMANDIRIAN #DAY2

Melatih kemandirian adalah pilihan hidup karena kita tidak akan selamanya bersama anak. Seringkali yang menjadi kendala dalam melatih kemandirian ini adalah orang tua. Tips bagi orang tua dalam melatih kemandirian anak, antara lain"

  1. Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian  dikerjakan oleh orang tuanya.
  2. Izinkan anak menentukan tujuannya sendiri.
  3. Percayakan manajemen waktu yang telah dibaut oleh anak
  4. Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko. 
Let's see, apa yang dilakukan anak-anak dalam melatih kemandirian.
First, Untuk keterampilan literasi, Aisyah menantang dirinya sendiri untuk menulis satu halaman satu hari. Ia mempunyai target ditahun 2017 ini, bisa menerbitkan buku solo. 

Hari ini adalah hari pertama Aisyah belajar menjahit dengan maestro yang dipilihnya sendiri, setelah ditawarkan beberapa orang guru. Ia melakukan perjalanan mandiri naik sepeda dan berkomunikasi dengan sang guru tanpa ditemani ummi. Bagiku ini  merupakan prestasi karena keberaniannya pergi sendiri dan berbicara dengan guru tanpa canggung. O ow rupanya hari ini belum berjodoh Aisyah belajar karena orang tua gurunya sedang sakit dan tidak bisa ditinggal. 

Second, Fathimah juga menantang dirinya setiap hari menghasilkan makanan. Hari ini ia menyediakan pancake untuk sarapan keluarga. Untuk Mengurangi gluten Fathimah menambahkan tepung beras, dan gula aren untuk menghindari gula pasir. Setelah matang pancakenya langsung habis, Fathimah lupa motoinSo, tidak ada bukti penampakannya (hehe), padahal semua bilang itu pancake yang uenak!

Third, Abdurrohim terdaulat menjadi jendral sampah dirumah. Ia bertanggungjawab  memastikan sampah berada ditempatnya yang tepat. Ia juga boleh mengingatkan dan menegur penghui rumah yang salah taruh sampah atau belum bertanggung jawab dengan sampah masing-masing. Alhamdulillah O im bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

Latihan kemandirian diatas adalah tambahan dari rutinitas yang sudah biasa dilakukan anak-anak dirumah seperti laundry, cuci piring, berbenah, bersih-bersih dan lain-lain.



Gan batte! Moga tetap semangat dan istiqomah...

MELATIH KEMANDIRIAN #DAY3
Perjalanan mandiri Aisyah hari ini adalah dengan ayah. Lho perjalanan mandiri kok ditemani ayah? Ya, hari ini Aisyah menggantikan Ummi yang seharusnya pergi dengan ayah ta'ziah kenagari Sungai Naning. Aisyah, si sulung, sempat dikira istri ayah oleh pelayat lain, karena memang mestinya Ummi yang datang.

Aisyah mewakili Ummi membawa "katidiang jombak" yang berisi beras sebagai hantaran ta'ziah.  Demi menggugurkan semua tanya dan dugaan orang Ayah dengan lantang bilang,"Ini putri saya!" 


Rohim request telur dadar favoritnya untuk makan siang. Fathimah yang membantu memasaknya. Latihan menghasilkan makanan hari ini diselesaikan Fathimah dengan baik.

Si Bungsu sebagai Jendral sampah juga beraksi. Memastikan sampah dirinya dan penghuni rumah lain berada di tempat yang tepat. Membantu Uni menyapu remah-remah ba'da makan.

MELATIH KEMANDIRIAN #DAY4
Kegiatan literasi Aisyah hari ini adalah mengikuti Audisi Duta Baca Sumbar di event Minang Book FairEvent ini diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumbar bertempat di pelataran Masjid Raya Sumbar.

Audisi diawali dengan penilaian karya tulis tentang "Interaksi dengan Literasi" yang dikirim ke panitia lebih kurang dua minggu  sebelum audisi berikutnya. Aisyah menulis tentang kesukaannya dengan dunia membaca dan menulis serta aksi nyatanya sebagai manager Rumah Baca KATO. Alhamdulillah ia lulus seleksi karya tulis itu dan berhak ikut audisi selanjutnya.


Aisyah berdua dengan Ummi berangkat ke Padang. Sedangkan Fathimah dan O im tinggal dirumah saling menolong dan bekerjasama untuk melayani diri mereka berdua. Ayah tetap pergi ke kantor.

Ba'da subuh nan sejuk kami berangkat menuju kota Padang dan sampai di masjid Raya Sumbar jam 09.30. tak lama setelah registrasi ulang, acarapun dimulai.

Wuah Ummi betul-betul tak menyangka ternyata pake presentasi diatas sebuah panggung, fren. Setelah presentasi tiga orang juri menguji dengan berbagai pertanyaan, hiks. Ummi kira audisinya seperti wawancara pekerjaan.  Dipanggil satu-satu keruangan terus ditanya-tanya gitu (hihi, ummi berasa bego)

Ada sekitar 40 orang peserta dari berbagai SLTA dan Universitas di Sumbar. Semuanya keren, pintar, cerdas dan hebat. Beragam kegiatan literasi yang mereka lakukan agar banyak orang menjadi suka membaca dan menulis. Aisyah si homeschooler dengan umur termuda salah satu diantaranya.

Satu persatu peserta dipanggil maju ke panggung mempresentasikan karya tulisnya. Deg-degan (ummi aja sih kayaknya) setiap nama peserta dipanggil MC menurut lot. Serasa Aisyah juga yang disebut MC ketika nama peserta berawal huruf A.

Zuhur belalu, asharpun tiba, nama Aisyah belum juga terpanggil. Aisyah menemui panitia unutk konfirmasi. O ow ternyata ada kekeliruan pihak panitia. Karya tulis Aisyah tidak tersatukan dengan biodatanya setelah diprint out . Aisyah mengirimkan karya tulis itu lewat e-mail, beda dengan sebagian peserta lain yang memberikan langsung saat registrasi.

Lucky, ternyata ada taqdir baik lain yang menunggu Aisyah, fren. Dua orang yang tampil ba'da ashar diliput live Padang TV. Yes, Aisyah dapat bonus masuk TV yang tak didapat peserta lain. Inilah rupanya hikmah dari antrian panjang dan kekurangnyamanan tadi.

Saat juri rapat merembukkan 10 finalis, mobil travel yang menjemput kami untuk pulang tiba. Sopirnya tidak bersedia menunggu walau cuma 5 menit. So, kami cus pulang sebelum pengumuman finalis.

Anyway, bagi Ummi Aisyah sudah menang, tampil di panggung as a youngest public speaker, di hadapan juri dan audience se-Sumatera Barat. Bravo Aisyah, two thumb up!



TANTANGAN KEMANDIRIAN #DAY5

Learning point yang dapat diambil dalam kegiatan literasi Aisyah di Padang kemaren antara lain;
  • Practices make perfect. Aisyah tampil tanpa persiapan sama sekali karena ngga nyangka akan ada presentasi, plus diliput TV secara live.
  • Tetap tawadhu’, jauh dari jumawa. Diatas langit masih buanyak langit.
  • Konsisten berlatih di forum presentasi keluarga
  • Selalu berlatih dan meningkatkan komunikasi produktif dalam keluarga, karena komunikasi yang beres dalam keluarga juga berefek positif pada public speaking.
  • Meningkatkan jam terbang agar mencapai peringkat profesional sehingga kebermanfaatan pribadi untuk orang banyak juga maksimal.

Fathimah belajar konsisten dengan tugasnya melayani keluarga untuk urusan makanan dan laundry.

Rohim berlatih menolong dan melayani dirinya sendiri plus aksi jendral sampahnya.




TANTANGAN KEMANDIRIAN #DAY6

Aisyah Fathimah dan sepupunya Muhammad melakukan perjalanan mandiri ke Padang, tanpa didampingi ayah dan ummi. Yang deg degan itu ummi bukan mereka. But ummi harus belajar tega yach. Mereka sudah aqil baligh kok.

Ba’da subuh mereka berangkat menompang dengan travel jama’ah umroh yang berurusan ke Padang. Tujuan mereka adalah ke Minang Book Fair di masjid Raya Sumbar dan mengikuti workshop kepenulisan.  

Ba’da zuhur Aisyah menelepon Ummi, minta izin kalau pulangnya ia akan naik mobil travel karena acara workshop menulisnya diadakan jam 14.00.Ia tak mau kehilangan kelas itu. Ia sudah pesan tiket travelnya jam 17.00.

Menjelang magrib Fathimah sudah sampai dirumah, “Lho, Uni mana?” tanya Ummi heran. “Uni belum pulang, ia mau ikut workshop menulis, jawab Fathimah. O ow... Ummi pikir waktu Aisyah minta izin di telepon, mereka akan pulang bertiga.Ternyata Aisyah pulang sendiri, fren. Mungkin Ummi yang tidak bertanya dengan jelas atau Aisyah yang tidak menjelaskan kalau hanya dia sendiri yang ikut workshop. Adik-adiknya ngga jadi ikut dan pulang bareng calon jama’ah umroh.

Rupanya Aisyah menantang dirinya kalau ia berani pulang sendiri. Menghubungi sopir travel, membuat janji waktu dan tempat dijemput. Selanjutnya ikut workshop sendiri, dan menghubungi panitianya juga sendiri. Siap belajar literasi dengan maestro.
#melatihkemandirian
#level2
#kuliahBunSay
#IIP
TANTANGAN KEMANDIRIAN #DAY7

MEMAKAI TEKNOLOGI DAN BERKARYA

Di rumah kami, urusan memakai teknologi Aisyah dan Fathimah lah jagonya. Tidak sulit untuk membedakan siapa sebenarnya yang guru dan muridnya. Banyak urusan Ummi yang berhubungan dengan teknologi menjadi lancar jaya karena bantuan Aisyah Fathimah. Kelihatan sekali kalau sejatinya Ummi adalah gaptek tulen.

Hampir semua teman teman Ummi di Ibu profesional Rumbel An Nahl belajar utak atik smart phone dan komputer dengan Aisyah Fathimah. Mereka datang dan bertamu malah mencari dan menemui Aisyah. “Ni Bet, ada Aisyah?” begitu pertanyaan ibu ibu pembelajar, menafikan keberadaan Ummi, hiks. Termasuk juga manager keuangan saat mau bikin anggaran atau membuat laporan. Mereka malah butuh Aisyah Fathimah daripada Ummi.

Berbagai aplikasi--yang tidak dapat Ummi sebutkan karena memang Ummi tak paham-- bisa mereka operasikan dengan baik. Urusan ini mereka akan berdiskusi dengan ayah.  I have no ideas about it.

Si bungsu O im semakin mandiri dalam literasi. Ia semakin senang membaca buku atau majalah sendiri, walaupun masih lebih suka kalau ummi yang membacakan. Karya-karyanya berupa gambar juga sudah ia tulis sendiri objeknya setelah ia ceritakan secara verbal kepada Ummi. Bravo O im. Alhamdulillah.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~
TANTANGAN KEMANDIRIAN #DAY8

Mantra latihan kemandirian memang seyogyanya dipakai “Kerjakan-tingkatkan-kerjakan lagi-tingkatkan lagi, dst”

Setelah konsisten dipeluk, maka peningkatanpun hendaknya diraih. Aisyah Fathimah sudah saling berganti peran antara laundry manager dan cleaning manager. Tanggung jawabnya sudah beroleh jempol jempol.

Hasil rapat dan bincang-bincang kami, selanjutnya adalah latihan cooking dan serving, disamping tanggung jawab yang sudah konsisten tetap terus dilakukan, hehe Ummi keenakan nih ye? Biasanya status cooking and serving adalah dalam tahap membantu, baik itu membantu dengan suka rela saat Ummi ada atau membantu kala Ummi sakit atau Ummi bepergian.

Aisyah Fathimah sudah terbiasa menyediakan sarapan atau cemilan atau bahkan menu utama secara mandiri untuk seluruh keluarga. Nah sekarang peningkatan yang ingin kami capai bersama adalah bertanggung jawab penuh mulai dari menyiapkan bahan baku, memasak semua makanan untuk satu hari. Mulai dari sarapan, kemudian menu makan siang dan makan malam mencakup nasi, lauk, sambal, dan sayuran.

Kami memakai jadwal,siapa yang bertanggung jawab apa setelah sebelumnya dibuat kesepakatan. Aisyah memilih hari Jumat, sedangkan Fathimah memilih hari Kamis.

Demikian pula denagan O im ia sudah bisa menyediakan sarapan seperti memasak toast sendiri, membantu membuat kue dan cemilan lainnya.

O ya O im juga berlatih untuk pergi shalat berjamaah ke masjid. Ia sudah bisa pergi sendiri dengan naik sepeda. Waktu shalat magrib kemaren O im berniat dan sudah minta izin dengan Ummi untuk pergi bareng dengan Agha, anak tetangga yang seumuran dengan O im. Tapi, ternyata Agha sudah duluan berangkat dengan sepedanya. Ya, O im pun berangkat sendiri ke masjid, karena Ayah juga belum pulang kerja.


-----------------
TANTANGAN KEMANDIRAN #DAY9

Hari ini Aisyah mulai mengeksekusi tanggung jawab yang sudah dipilihnya kemaren. Menyiapkan menu untuk sehari penuh bukan atas nama membantu Ummi karena memang ummi bukan sedang berhalangan seperti sakit atau bepergian. Ia mulai dari memilih menu, belanja dan memasaknya. O ya bulan ini Aisyah juga menjabat sebagai manager keuangan keluarga. Ia tak perlu minta ke Ummi uang untuk belanja dapur karena ia yang pegang uangnya.

Beruntung Aisyah dibantu Fathimah menyiapkan sarapan, karena fathimah juga sudah memilih serving n cooking. Ia memasak godok pisang, menu favorit O im, dari pisang yang diantar nenek kemaren sore.

Sekitar jam 11 O im tanpa diingatkan bersiap mandi untuk pergi shalat Jumat. Ia minta Ummi bilang ke Agha untuk menunggunya agar bisa pergi bareng ke masjid. Setelah rapi O Im dan Agha berangkat ke masjid naik sepeda. Laa haula wa laa quwwata illa billah.


TANTANGAN KEMANDIRIAN #DAY10

Latihan kemandirian untuk poin perjalanan mandiri, Aisyah sudah semakin meningkat. Dan sebenarnya ia juga sudah menuntut untuk bisa pergi secara mandiri naik sepeda motor, terutama untuk pergi latihan bela diri, atau untuk keperluan lainnya. Untuk “bepergian” masuk kampung keluar kampung naik motor sendiri memang kita sudah mengizinkannya, semenjak beberapa saat sebelum ummi sakit. Waktu ummi sakit, bahkan sampai sekarang, keterampilan ini sangat membantu sekali.

Sebagian perjalanannya adalah bersama Fathimah, karena mereka adalah pasangan sepaket. Mereka pasangan kompak yang hampir tidak pernah berpisah. Walau sering juga bertengkar dan beda pendapat, hihi. Kalau kata pepatah namanya “cabik-cabik bulu ayam.”

Akan tetapi untuk bepergian jauh melintasi jalan raya besar dengan motor sendiri, kami memang belum mengizinkannya. Menurut kami Aisyah belum cukup umur, apalagi belum punya SIM.

O im sudah semakin terbiasa tidur sendiri, dengan syarat yang diajukannya sebelum tidur dibacakan dulu buku buku yang dipilihnya sendiri. Esoknya saat dia bangun Ummi harus berada didekatnya. Untuk bangun subuh, kalau o im tidak mau bangun dia menyuruh ummi untuk dipercikin air ke wajahnya. Namun terkadang ummi masih ngga tegaan,hiks. Ingat wahai diri! Sejatinya fitrah kesholehan itu sudah dipaketin dalam diri anak. Ummi nih yang merusaknya. Astaghfirullahal ‘azhiim.


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...