Thursday, 24 January 2019

REGENERASI PENGURUS DAN MANAJEMEN DONAT

#IbuProfesional
credit : foto di foto 

“Alam takambang jadi guru” (pepatah Minang)


Belajar pada pohon pisang, yang tak hendak "berpulang" sebelum meninggalkan generasi  sebagai penerus kehidupannya. Pisang selalu sudah meninggalkan tunas sebelum ia ditebang untuk diambil buahnya. Pisang yang sehat menyelesaikan tugasnya dengan high energy ending yang menghasilkan buah nan ranum, manis, enak dan bermanfaat.

Nah, bagaimana dengan kita pengurus Ibu Profesional, apatah rela menyudahi masa kepengurusan tanpa regenerasi?

Apa yang dimaksud dengan regenerasi pengurus di komunitas Ibu Profesional?

Regenerasi Pengurus atau sebutan yang lebih populer di Ibu Profesional (IP) adalah Wisuda Seleh yaitu meletakkan jabatan dengan suka rela tanpa paksaan, tidak dicopot apalagi dipecat dengan high energy ending.

Dengan wisuda seleh bukan berarti berhenti belajar di IP, akan tetapi tetap mengambil peran tertentu, belajar bersama dan bersama belajar sembari terus berbagi dan melayani. Itulah yang disebut dengan manajemen donat. Siap memimpin dan siap dipimpin. Boleh jadi peran itu bergeser atau justru melesat keatas atau secara struktural mengambil peran yang lebih tinggi di pusat atau sebaliknya mengabil peran lain di regional. Karena sejatinya semua peran di komunitas Ibu Profesional adalah penting, saling mendukung satu sama lainnya. So, bukan malah bersikap, kalau tak berperan sebagai leader, maka ogah berada di IP lagi.

Kenapa value berbagi dan melayani penting untuk selalu digelorakan?

Tersebab dengan berbagi dan melayanilah sesungguhnya proses belajar akan tertantang demi meningkatnya kualitas diri sebagai pribadi, istri, ibu dan bagian dari anggota masyarakat. Melaksanakan Hadist " Khairunnas anfa'uhum linnas " (Sebaik baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat ) sembari melaksanakan misi sebagai khalifah, imaroh, imamah dalam kerangka beridadah pada Allah Yang Maha Kuasa.


"Kalau ada 1000 ibu yang belajar dan berkarya akulah satu diantaranya. 
Kalau ada 100 ibu yang belajar dan berkarya akulah satu diantaranya. 
Kalau ada 10 ibu yang belajar dan berkarya akulah satu diantaranya. 
Kalau ada hanya satu ibu yang belajar dan berkarya maka itu adalah aku."

Bagaimana cara realnya regenerasi pengurus itu?

Pengurus perlu dulu memahami bahwa belajar, mendidik, bekerja dan berkarya dalam komunitas adalah sejalan. Tiada pemisahan diantaranya. Peran sebagai pengurus adalah bagian dari membangun komunitas yang kelak tentu berujung pada membangun peradaban. Nah, membangun komunitas lebih kurang berproses sama dengan membangun keluarga. Proses mendidik dalam keluarga, serta membersamai tumbuh kembang anak sama dengan membersamai tumbuh kembang komunitas. 

Demikian juga proses regenerasi pengurus lebih kurang berlangkah sama dengan melatih kemandirian pada anak. Mendelegasikan apa yang bisa didelegasikan. Memberikan ruang dan kesempatan buat teman-teman untuk maju dan berkembang. Berlatih bersama memberikan kepercayaan, mengaperesiasi dengan tulus tanpa keliru mencela. Terus berputar, tingkatkan lagi, berlatih lagi, percayakan lagi, apresiasi lagi, sampai kemandirian tertata, regenerasi tercipta.

------------------------
Diskusi 

Pertanyaan #1, Materi #3
Fanny Yulia 9:59 AM

Mantap materinya, bekal untuk saya menyiapkan penerus 😍
Uni, untuk regenerasi pengurus ini dalam materi disebutkan dengan cara mendelegasikan apa yg bisa didelegasikan, saat kita sudah klop sama 1 orang untuk menggantikan posisi kita katena dinilai kompeten untuk menduduki posisi leader tetapi yang bersangkutan menolak, malah ada oranglain yg dengan sukarela mengajukan diri menggantikan posisi kita, bagaimana seharusnya sikap kita?

Jawab
Memilih, mempersiapkan dan melatih leader tentu berproses ya Mbak Fanny, demikian juga mendelegasikan juga mesti berproses, pakai value one bit at a time, lakukan setahap demi setahap, seperti halnya melatih kemandirian pada anak. Dilatih ---dipercayakan--diapresiasi apa yang sudah baik--ditingkatkan --dikerjakan lagi, dilatihkan lagi dst. 

Perihal klop tidak klop boleh jadi ini penilaian yang subjektif ya kan mbak? Bisa saja penilaian berbeda tiap orang. But, kalau yang klop menolak diawal, itu kayaknya biasa ya, dan manusiawi sebab bisa jadi itu pertanda "sholehah" dalam arti tidak berharap jabatan karena leader itu sesungguhnya kan amanah. Kita hanya perlu memberinya motivasi tanpa memaksa. Dan selanjutnya kita juga perlu berbagi tentang kebahagiaan menjadi leader.:)

Dari pengalaman Nibet, untuk regenerasi ini memang ada baiknya kita menjatuhkan pilihan pada yang value ke "IP" annya lebih tinggi. Kalau ada yang lain yang mengajukan diri kalau value ke "IP" annya tinggi kenapa tidak?

Pertanyaan #2 Materi #3
Susi Susindra
Jika kita merasa belum pantas jadi leader yang baik dan masih berusaha memantaskan diri, bagaimana cara mengenali dan meyakinkan calon leader pengganti kita?

Pergantian leader, sebaiknya diseleksi atau dipilih? Mengapa demikian
Terima kasih, Uni

Jawab
Mbak Susi, Justru merasa belum pantas adalah bagus, sementara terus senantiasa berusaha memantaskan diri. Ini sesuai dengan value "Do'nt Teach Me I Love to Learn". Kalau sudah merasa pantas bisa malah jatuh kepada sombong dan boleh jadi ngga mau belajar lagi.

Untuk pergantian leader mungkin berbeda tiap regional ya? Bisa jadi diseleksi atau dipilih atau dua duanya dipilih dan diseleksi, dan indikator yang paling penting adalah value IP nya tinggi. Dan untuk kelengkapan pengurus bisa juga dengan oprec ya


Pertanyaan #3 Materi 3 
Alia Nur Mutmainah
Masya Allah..cara berpikir hrs ke depan yaa..
Maaf boleh nanya knp filosofinya pk manajemen donat?donat yg bolong tengahnya atau yg sdh dimodifikasi,hihi..maaf sy cenderung visual,kalo ada bahasa yg unik suka dibayangkan

Kenapa manajemen donat? Sesuai dengan bentuknya ya Mbak Alia donat bundar dan bolong tengahnya? (donat kovensioanal kali, hehe) , menandakan bahwa semua peran di IP adalah penting dan saling mendukung . Dengan bentuk yang seperti donat ini pengurus yang naik tingkat tidaklah menjadi sombong dan arogan, pun sebaliknya yang turun tak menjadi berkurang kemuliaannya, akan tetapi tetap bersemangat belajar dengan peran yang lainnya. 

Pengalaman Nibet di IP Payakumbuh, setelah berperan menjadi koordinator selama 4 tahun lebih, selanjutnya jadi member biasa ya tidak apa apa, santai saja. Siap mengambil peran yang lainnya, terus belajar bersama dan bersama belajar.



Boleh merespon dengan pertanyaan, Uni? 

Bicara tentang bagaimana kita sebaiknya saat telah wisuda seleh, saya jadi ingat sesuatu.

Bagaimana menjembatani gap atau jarak yang tercipta antara pengurus lama yang telah wisuda seleh dan bersedia amalkan manajemen donat dengan pengurus sekarang? 
Gap di sini terjadi - mungkin - karena merasa ribet dengan CoC dan administrasi. "Dulu nggak gini-gini amat,"

Mereka jadi apatis dan jarang merespon informasi terbaru dan menjadi SR baik di grup member maupun grup dapur
Bunda RumaishaJan 29
Wooww unibet 4thn mengabdi mengampu kordinator..😍😍 mempertahankan semangatnya itu luar biasa?ada tips kah uni?
Uni Bet, masya Allah 4 tahun dan humble sekali saat turun. Pertanyaan saya, apakah Uni pernah mengalami post power syndrome? Jika pernah, bagaimana cara mengatasinya?
Nur JulitaJan 29
Woowww 4 tahun,tips dong uni bet agar tetap seterong
+suzy1209@gmail.com Mbak Susi, mungkin bisa dengan memperkuat bonding ya mbak, perbanyak silaturrahiim, berkegiatan & aktivitas bareng, ngobrol bareng. Balik lagi ke value barbagi dan melayani, deh. 

Duku waktu awal CoC muncul, hampir semua kita mengalami culture shock, terkaget kaget dengan berbagai aturan. sekarang baru terasa manfaatnya, bahwa itu semua diperlukan seiring dengan telah berkembangnya komunitas. Bahwa ternyata CoC tidaklah seseram yang dibayangkan. Nibet, dulu pernah seakan2 merasa bersalah, dikejar kejar dosa CoC, setelah Clear and Clarify dengan ni Nesri, ternyata tak apa apa. Legaanya. ternyata hanya beda pemahaman saja. So, ada baiknya pakai value Clear n Clarify dengan teman2 yg sdh wisuda seleh
 Bunda Rumaisha, Nibet tidak berhasil bebas dari virus kebaikan demi kebaikan yang ditebar oleh Ibu Profesional. Setiap kali berniat mengurangi peran setiap itu pula dihamburi oleh hikmah hikmah kebijaksanaan, yang membuat Nibet makin cinta dengan IP. I really need it.
Suka dg kata2nya.

Setiap kali berniat mengurangi peran setiap itu pula dihamburi oleh hikmah hikmah kebijaksanaan..😘😘
Terus terang tidak Mbak Nani. Karena wisuda seleh itu sudah diimpikan dan disiapkan sedemikian lama. Belajar dari Bu Septi, bagaimana beliau mendidik dan melatih, terutama pengurus dan divisi2 pusat, (Community Building, Capacity Building, Finacial Building). Bagaimana beliau melepas dan mendelegasikan satu persatu peran beliau dengan legowo, untuk kemudian beliau melesat dan mengerjakan hal lain yang lebih besar. Demikian pula dengan teman teman yang teramanah peran juga melesat pesat, luar biasa.
Nah, I experienced so. Valuenya adalah "Never stop running the missin alive"
pakai mantra mantra "value" IP aja, yang sejatinya semua value itu adalah diderivasi dari nilai-nilai agama (alqur'an hadist)
Ratna ZaharaJan 30
Ni bet....jadi makin termotivasi... untuk mulai mencari-cari yg value ke IP annya tinggi


Pertanyaan #4 Materi#3
Bunda Rumaisha
MasyaAllah materinya uni Bet..😍 bekal buat sy banget..sy sepakat dg memilih penerus yg value ke IP anya paling tinggi..kami di palembang memberlakukan sistem kaderisasi artinya kordinator akan memilih manajernya sbg pengganti begitupun manajer akan mencari pengganti dr teamnya namun bagaimana uni bila manajer yg sdh sy sounding tdk memiliki value IP nya tinggi? Apa sy harus mencari team di bawah manajer yg mengakibatkan sistem kaderisasi ini tidak berjalan?

Sy butuh masukan uni bagaimana menghadapi team suatu manajer yg hanya berbaur di team itu saja sedangkan di team lagi ini kesanya menutup diri?

Itu saja uni..terimakasih atas saranya..πŸ™

Jawab
Mestinya indikatornya memang di value ya Bunda Rumaisha, bersabar mencari dan melatih sampai ketemu yang "klik" tidak menggegas sampai saatnya tiba. Yakinlah, insyaallah akan dipertemukan dengan teman teman yang sevisi. "Burung yang berbulu sama cendrung berkumpul bersama"

Perkuat aja bonding bun, perbanyak silaturrahiim, lakukan kegiatan bersama, dan praktekkan komprod. :) Semoga membantu ya bun.:)


Pertanyaan #5 Materi #3
deasy irawati9:06 PM
Mau tanya uni sayang.
1. Bagaimana membedakan antara memberikan ruang dan berbagi beban ya? 
2. Regenerasi Pengurus atau sebutan yang lebih populer di Ibu Profesional (IP) adalah Wisuda Seleh yaitu *meletakkan jabatan dengan suka rela tanpa paksaan, tidak dicopot apalagi dipecat dengan high energy ending.*

Bagaimana tahapan untuk resuffle tim dalam divisi?

Mbak deasy sayang, apakah maksudnya memberikan ruang berkarya dan berbagi beban kepengurusan?

Jika ya, menurut Nibet ini hanya soal diksinya saja. Walaupun sejatinya kita ingin berbagi beban, namun buatlah ia menjadi suatu yang menyenangkan sehingga berkesan jadi memberikan ruang berkarya.

Resuffle tim dalam divisi untuk posisi tertentu sajakah? Sesuai pengalaman yang kami praktekkan di regional Pyk, bisa dengan open recruitment mbak.


Pertanyaan #6 Materi #3
karina nastiyaJan 29
semoga masih bisa di jawab pertanyaan nya saya ya nibet, rasanya pas disini harus saya ungkapkan keresahan dan kegelisahan hati saya saat ini...


setelah dua tahun masa saya menjadi leader, sedang mempersiapkan next leader dan perangkat pengurus yang masih kosong. 
sementara itu sudah ada lampu kuning dari suami. untuk fokus di kegiatan offline di luar IIP. apa yang harus saya lakukan? 
dengan ketentuan manajemen donat ini? 
sejujurnya agak riskan jika harus melalui tahap lobi kembali ke suami.. 
karena memang saya dan suami beraktivitas juga di kepesantrenan. 
di satu sisi saya merasa bertanggung jawab untuk menyampaikan tongkat estafet kepengurusan, tapi di sisi lain ada ekspetasi keluarga yang juga harus diperhatikan, sementara member belum sepenuhnya bisa berkontribusi.. 

yaa hayyu yaa qayyum birahmatika astagits ... aslihlii sya'nii kullah walaa taqilnii ilaa nafsi thorfata 'aini... 

mohon doanya ya nibet semoga para member tergerak untuk berbagi dan melayani..

Jawab

I feel you mbak Karina....Peluuuk..
Nibet pernah berada dalam posisi yang sama. Antara tanggung jawab pada keluarga, pekerjaan dan komunitas. Pernah juga diwarning suami begitu, disentil, dicibir, dan disindir, sampai anak anakpun terpengaruh. 

But, Nibet percaya kata kata bu Septi bahwa tak ada yang perlu dikorbankan. Belajar, mengajar, mendidik, bekerja, berkarya dan berkomunitas adalah sejalan. Kalau ada komplen di salah satunya berarti ada yang tidak singkron. Kita mesti berbenah lagi. Mungkin saja kita teledor di manajemen waktu, atau komunikasi produktif atau yang lainnya. Patuh pada suami itu harus, but meninggalkan tanggung jawab yang lain juga tidak mungkin. "Berpandai pandailah" itu petuah Rang Minang.

Taroklah misalnya kita melepaskan salah satu amanah yang ada. Yakinlah akan ada amanah lain yang menggantikan, yang juga tak kalah juga besar tantangannya, karena itu sunatullah. fa inna ma'al 'usri yusro, inna ma'al usri yusro, faiza faroghta fanshob, wa ila robbika farghob. So, mari tentuakn saja pilihan ya Mbak. Insyaallah lulus deh ! Akan ketemu juga teman seperjuangan yang sehati, biiznillah.

"Tidaklah seorang muslim tertimpa penyakit, keletihan, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan kesusahan bahkan duru yang melukainya, melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahnnya." (H.R Bukhari:5210)

oh ya, Nibet lulus dengan ujian tersebut, putri sulung nibet lulus kuliah matrikulasi, sekarang giliran putri kedua kuliah matrikulasi. dan sampai sekarang nyaris berjalan 7 tahun Nibet tetap stay di komunitas Ibu Profesional tercinta ini dengan bahagia .Namun ujian lain tentu ada lagi, dan ujian yang kita peroleh pasti tidak terlepas dari apa yang kita tekuni.

Udah panjang aja nih, semoga membantu ya mbak karina sayang.


Ratna ZaharaJan 29
Materinya keren, ni bet....
Saya baru beberapa hari mendapat amanah sebagai leader. Saat menerima amanah kemaren serasa sendiri dalam kepengurusan karena sebelumnya pengurus yg formasinya sejak awal sudah sangat ramping, kian ramping lg karena SR. Prioritas saya adalah Oprec pengurus dan Alhamdulillah sudah selesai. Meski pun ada bbrp posisi kosong. Qodarullah, saat diumumkan struktur kepengurusan ke member, bbrp org spontan bersedia mengambil amanah posisi yg kosong. Luar biasa semangat teman2.. Saat ini kami sedang menggodok proker 2019. Ketika saya melihat lebih jeli kedalam,jujur, saya beda generasi kayaknya dgn mrk. Tp sejauh ini baik2 saja... Saya berencana memakai semboyan tut wuri Handayani dalam membersamai teman2 dikomunitas. Apakah ada saran lain dari nibet?

Jawab
Wuah.. sudah keren banget nih mbak Ratna :). Selamat menikmati proses belajar, beraktivitas, dan berkarya dengan keberagaman umur dengan bahagia ya. Kami di regional Payakumbuh juga lengkap, angkatan 70 an, 80 an, 90, sampai 2000 an :D. Komunikasi Produktif akan mencairkan suasana insyaallah. Tetua tugasnya mengapresiasi, maka nantikan lesatan yang bahkan diluar dugaan ekspektasi :D



Sumber

- Betty Arianti,dkk. Bunda Tiga Ranah. Aryoko Publisher Indonesia : 2018
- Ibu Profesional. Bunda Sayang 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak : Gazza Media :    2013
- Diskusi forum Leadership Development Training. Institut Ibu Profesional. Januari 2019.

NHW

Setelah kita berdiskusi tentang regenerasi pengurus dan manejemen donat, silahkan teman teman jawab dan beri tanggapan tentang hal hal berikut
1. Ada fenomena di regional bahwa banyak peminat yang mau belajar di IIP, tapi hanya sedikit yang mau mengurus komunitas. Bagaimana teman teman menanggapinya?

2. Apa saja nilai-nilai/values ke “IIP”an yang dibutuhkan pengurus komunitas Ibu Profesional? Terangkanlah sesuai dengan peran/porsi yang diambil di komunitas.

3. Apakah teman teman, para leader, sudah membuat proyeksi calon pengurus terbaik yang akan menjadi calon leader dan pengurus untuk kepengurusan mendatang? Jika sudah jelaskanlah prosesnya! Jika belum effort apa yang akan teman teman lakukan untuk regenerasi pengurus periode mendatang.

----------------------------
Alhamdulillah, bahagia sekali teman teman telah memaparkan dengan baik tantangan di NHW, berikut lengkap dengan strategi dan langkah langkah kedepan dalam regenerasi dan membangun komunitas.

Sejatinya tantangan lebih besar yang kita hadapi bukanlah tantangan dari komunitas atau bukan dari luar rumah, akan tetapi dari intern keluarga. Kalau tantangan di komunitas bisa diselesaikan dan dicari solusinya secara bersama dengan teman teman lainnya. Tapi kalau tantangan intern keluarga harus kita yang bersangkutan dengan keluarga inti yang menyelesaikannya, artinya, kita sebagai leader memang dituntut untuk “selesai” dengan diri kita. Seperti kata Bu septi, kita harus keras dengan diri kita agar lingkungan menjadi lunak kepada kita.

Mari senantiasa memurojaah kembali pelajaran pelajaran dan nilai nilai IP yang sudah diajarkan dan ditularkan di IIP dan komunitas.

Ada juga diantara kita yang punya tantangan dengan kesulitan menemukan leader pengganti untuk periode mendatang. Sebenarnya ini wajar saja, mari kita hadapi dengan santai, tidak usah menggegas, tidak usah terlalu ngotot mencari pengganti, apalagi ada suksesi yang dipaksakan.

Kita memang punya aturan pergantian leader setiap dua tahunan, kita akan pasang target ini di regional kita, akan tetapi terkadang ada hal hal yang diluar nalar  dan prediksi  kita. Yakinlah, kita akan dipertemukan dengan leader pengganti yang tepat disaat yang tepat pula. Allah Ta’ala akan mampukan siapa yang mau.

Tak kalah pentingnya dalam hal ini adalah kekuatan do’a. Senantiasa kita berdoa dan terhubung dengan Allah Ta’ala agar  selalu dikumpulkan dengan orang orang yang mencintai-Nya dan mencintai kita .

“Good leader leads followers whereas great leader makes more leaders”.

Saat leader memimpin dan memberikan banyak kepercayaan kepada teman teman lain, maka teman teman itu akan berkembang dan melesat bahkan diluar prediksi dan target. Teman teman itu akan menjadi leader- leader baru pula.

Ketika leader hanya leads follower, saat itu pula regenerasi sulit diestafetkan. Bahkan calon leader yang ada di komunitas bisa jadi akan lari dan mencari tempat aktualisasi diri di tempat lain.

Jadi, membangun komunitas, tidak cukup hanya dengan menjadi leader yang baik, tapi kita harus membangun budaya kepemimpinan di seluruh komunitas.Leader harus pintar membaca potensi teman teman lain dan memantiknya juga, agar potensi itu teraktualisasi optimal, sehingga leaders baru tercipta. Wallahu a’lam


-----------------------------

Tanah Mati, 24 Januari 2019
NiBet Eayila Seru.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...