Tuesday, 25 June 2019

BERBAGI CINTA DENGAN IP AMBON

MANAJEMEN KOMUNITAS


Teman teman, membahas tentang manajemen komunitas, khususnya
manajemen Komunitas Ibu Profesional, kita akan diidentikkan dengan
manajemen donat namanya. Lucu ya kedengarannya? :D Ini donatnya
donat konvensional ya. Donat bundar, yang ada lobang di tengahnya.

Kenapa diilustrasikan dengan donat? Karena di Komunitas Ibu Profesional,
tidak ada peran yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah.
Masing Masing menjadi pemimpin untuk projek atau jabatan ataupun
peran yang sesuai dengan konpetensinya. Great leader creates more
leaders, not follower. Pemimpin hebat melahirkan pemimpin pemimpin
pula, bukan hanya pengikut saja.

“Alam takambang jadi guru” (pepatah Minang)


Belajar pada pohon pisang, yang tak hendak "berpulang" sebelum meninggalkan generasi  sebagai penerus kehidupannya. Pisang selalu sudah meninggalkan tunas sebelum ia ditebang untuk diambil buahnya. Pisang yang sehat menyelesaikan tugasnya dengan high energy ending yang menghasilkan buah nan ranum, manis, enak dan bermanfaat.

Nah, bagaimana dengan kita pengurus Ibu Profesional, apatah rela menyudahi masa kepengurusan tanpa regenerasi? Tentu tidak bukan?

Apa yang dimaksud dengan regenerasi pengurus di komunitas Ibu Profesional?

Regenerasi Pengurus atau sebutan yang lebih populer di Ibu Profesional (IP) adalah Wisuda Seleh yaitu meletakkan jabatan dengan suka rela tanpa paksaan, tidak dicopot apalagi dipecat dengan high energy ending.

Dengan wisuda seleh bukan berarti berhenti belajar di IP, akan tetapi tetap mengambil peran tertentu, belajar bersama dan bersama belajar sembari terus berbagi dan melayani. Itulah yang disebut dengan manajemen donat. Siap memimpin dan siap dipimpin. Boleh jadi peran itu bergeser atau justru melesat keatas atau secara struktural mengambil peran yang lebih tinggi di pusat atau sebaliknya mengabil peran lain di regional. Karena sejatinya semua peran di komunitas Ibu Profesional adalah penting, saling mendukung satu sama lainnya. So, bukan malah bersikap, kalau tak berperan sebagai leader, maka ogah berada di IP lagi.

Kenapa value berbagi dan melayani penting untuk selalu digelorakan?

Tersebab dengan berbagi dan melayanilah sesungguhnya proses belajar akan tertantang demi meningkatnya kualitas diri sebagai pribadi, istri, ibu dan bagian dari anggota masyarakat. Melaksanakan Hadist " Khairunnas anfa'uhum linnas " (Sebaik baik manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat ) sembari melaksanakan misi sebagai khalifah, imaroh, imamah dalam kerangka beridadah pada Allah Yang Maha Kuasa.


"Kalau ada 1000 ibu yang belajar dan berkarya akulah satu diantaranya. 
Kalau ada 100 ibu yang belajar dan berkarya akulah satu diantaranya. 
Kalau ada 10 ibu yang belajar dan berkarya akulah satu diantaranya. 
Kalau ada hanya satu ibu yang belajar dan berkarya maka itu adalah aku."

Bagaimana cara realnya regenerasi pengurus itu?

Pengurus perlu dulu memahami bahwa belajar, mendidik, bekerja dan berkarya dalam komunitas adalah sejalan. Tiada pemisahan diantaranya. Peran sebagai pengurus adalah bagian dari membangun komunitas yang kelak tentu berujung pada membangun peradaban. Nah, membangun komunitas lebih kurang berproses sama dengan membangun keluarga. Proses mendidik dalam keluarga, serta membersamai tumbuh kembang anak sama dengan membersamai tumbuh kembang komunitas. 

Demikian juga proses regenerasi pengurus lebih kurang berlangkah sama dengan melatih kemandirian pada anak. Mendelegasikan apa yang bisa didelegasikan. Memberikan ruang dan kesempatan buat teman-teman untuk maju dan berkembang. Berlatih bersama memberikan kepercayaan, mengaperesiasi dengan tulus tanpa keliru mencela. Terus berputar, tingkatkan lagi, berlatih lagi, percayakan lagi, apresiasi lagi, sampai kemandirian tertata, regenerasi tercipta.

--------------------------

Tanah Mati, 24 Juni 2019

Eayila Seru



No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...