Sunday, 20 October 2019

UMROH BACKPACKER (1)

Bismillah

Setiap muslim dan muslimah pastilah merindu untuk berhaji dan berumrah, beribadah langsung di baitullah dan di tempat tempat yang disyari'atkan. Akan tetapi rindu itu justru semakin berlipat tatkala sudah melewati kali pertama. Ada keinginan kuat untuk kembali membuatnya menjadi nyata, hadir disana. Ya Rabb.


Saya beranikan diri menulis catatan perjalanan umroh ini, walau ada pro kontra tentang memposting kegiatan ibadah. Karena, banyak yang penasaran bukan? 
Semoga bisa menjawab pertanyaan teman teman, dan menjadi wasilah untuk mempermudah perjalanan para perindu haromain, memenuhi panggilan Rabbul 'Izati. 


Umroh backpacker ini cocok deh buat saya yang punya keinginan besar tapi dana kurang, hehe :D.


Apa sih beda umroh backpacker dengan umroh reguler?
Wuah saya ngga tau persis bedanya apa, soalnya saya belum pernah ikut umroh reguler. But beda yang paling sigifikan adalah biayanya. Umroh ini pun saya ragu, ini tergolong backpacker atau bukan, tapi yang jelas biayanya relatif murah dari umroh reguler lainnya. 

Umroh yang saya ikuti ini hanya berbiaya 16 juta, all in. Oh ya, ada nambah 1 jt karena ada kebijakan baru tentang pengurusan visa.

Ketika bertanya tanya dengan jamaah lain tentang biaya, jawabannya beragam, ada yang 24 jt, 25 jt ada juga yang 34 jt, untuk perjalanan dengan jumlah hari yang kurang lebh sama.

Kami berangkat dari rumah hari Sabtu, tanggal 28 September 2019, dan sampai dirumah kembali hari Senin tanggal 7 Oktober 2019. Jadi, 10 hari perjalanan.

Walaupun biaya umroh ini tergolong murah ya, tapi saya pribadi tetap mengumpulkan dan menabung jumlah sekian dalam waktu yang cukup lama. Pulang haji tahun 2014, saya langsung mulai isi celengan lagi. Celengan yang berjudul umroh, tidak digabung dengan perencanaan dana dana lain. Dikumpulkan seperak demi seperak. Sedikit demi sedikt lama lama jadi bukit, seperti pepatah tetua kita. 

Artinya, umroh murah ini juga butuh perencanaan yang lama juga buat saya. Tidak berangkat  semerta merta dengan "seonggok" uang:) hihi.

Bagaimana cara mendaftar? Mendaftar biasanya memang rebutan, karena wilayahnya seluruh Indonesia. Mendaftar secara on line. Siapa cepat dia dapat. Bisa jadi hanya hitungan jam bahkan menit, kuota sudah penuh. Jadi kita memang harus sduah sedia paspor dan Uang DP yang harus langsung ditransfer. Untuk koordinasi selanjutnya on line dengan WA.

Apakah ada Tour Leader (TL), Pembimbing dan Muthowwif?
Ya, ada Tour Leader terpilih, yang juga dari sesama jamaah umroh. Ada "imam" yang dituakan sebagai pemimpin perjalanan. TL juga membayar seperti jamaah lainnya. Ada juga pembimbing ibadah umroh,  guide dalam ziaroh dan muthowwif yang mengurus segala sesuatunya di haromain.

Namun kebebasan tetap ada, mau ikut sama pembimbing ibadahnya atau tidak diserahkan pada jamaah. 

Target dan prioritas pribadi lebih diutamkan, apakah akan prioritas ibadah tawaf, memperbanyak shalat sunat, menyelesaikan target tilawah, menambah hafalan alqur'an, meningkatkan murojaah, dst. Yang jelas ibadah yang tidak bisa dikerjakan di tempat lain kecuali di haulal ka'bah adalah ibadah tawaf.

Bagaimana dengan makan?
"Da, kita mau bawa makanan da? Bawa sambel, lauk atau snack apa?" tanya saya ke Uda. "Ngga usah" jawab uda singkat. Ya udah kita tak bawa jenis makanan apapun, bahkan bekal snack pun tidak. Memang sudah berniat untuk backpacker beneran.  

But, apa yang kami dapatkan? Sungguh saya tidak menyangka umroh  backpacker itu kayak begini. Nikmatnya tambah menambah. Kalau kata saya ini luar biasa.....Maasyaallah....

Dalam bayangan saya, umroh backpacker itu, tidak dapat makan, snack, ziarah, bimbingan dll. Ternyata dugaan saya salah. Dengan biaya yg sangat terjangkau bisa beroleh fasilitas yang sudah "wuah" menurut ukuran saya. 

Makan disediakan di hotel 3x sehari, lengkap dengan karbohidrat, sayur yang dimasak, lalapan, lauk, buah, jus, teh, susu, kopi, roti dll. Menu ala Indonesia dan menu ala negara lain. Untuk urusan yang satu ini memang jauh jauh hari saya sudah siapkan mental dan tirakat doa agar menu-menu yang tersedia terasa enak dan cocok di lidah. Ini penting karena sekali aja mencela makanan di tanah harom, bisa berakibat buruk, alias kualat.:)Bisa jadi ngga makan-makan dan semua serba ga enak. Astaghfirullahal'aziim.

Atau mau memilih makan diluar? juga boleh kok, terserah pilihan kita nyamannya seperti apa. Ada kok teman sesama jamaah yang makannya cari sendiri diluar hotel, direstoran atau foodcourt disekitar masjid atau lainnya.

Bagaimana dengan hotel? Apakah cari sendiri? Jauhkan dari mesjid? murihah au la? 
Alhamdulillah hotel juga sudah disediakan, kita tidak mencari sendiri. Dan bersyukur sekali karena lokasi hotel baik di Medinah maupun di Mekah tidak jauh dari masjid. Oh ya, mungkin ukuran jauh dekat itu berbeda bagi masing masing orang ya? Semakin banyak langkah yang diayunkan menuju masjid semakin banyak pahala yang diperoleh, bukan?


Di medinah kami tinggal di hotel Daar AnNa'im, berjarak lebih kurang 200 m darii masjid Nabawi. Sedangkan di Mekah di Hotel Anwar Adeafah lebih kurang 400 m dari masjidil haram. Menurut saya ini terbilang sangat dekat sekali dibandingkan dengan musim haji tahun 2014 dulu, which is, harus naik bis dua kali baru sampai ke masjidil harom. Harus lari, berdesakan dan rebutan dengan jamaah dari berbagai negara di tiap terminalnya.


Hotelnya juga murihah, menyenangkan,  alhamdulillah, jauh lebih bagus dari hotel waktu haji, dan dari kamar saya dirumah tentunya, haha :D 


Menurut saya hotel, tempat tinggal waktu umroh ini, tidak perlu terlampau mewah. Hanya diperlukan untuk istirahat sejenak, dan MCK. Karena waktu kita lebih banyak dihabiskan untuk i'tikaf di masjid daripada tinggal di hotel. 


Finally, saya jadi ragu nih apa ini termasuk kategori backpacker, flashpacker, reguler atau apa ya? Yang jelas ini umroh murah alias  umroh kelas ekonomi.:) Bagaimana menurut teman teman?


Bersambung,.....

                                                                                                                Tanah Mati, 20 Oktober 2019
                                                                                                                            Betty Arianti



11 comments:

  1. Amazing....masyaallooooh...miss u baitulloh🤗

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga segera bisa terobati rindunya dengan baitullah, aamiin

      Delete
  2. Dari dulu penasaran dengan backpacker umroh... Dan uni Ibet sudah menjalaninya, seperti lebih merasakan aura lokal sana ya un
    Penasaran sama sambungannya. . 🤗

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah un, menetes airmata rindu kesana. Tapi kenapa belum juga ada "usaha nyata" Semisal menabung. Wahai diri adakah jaminan ajalmu kan lama?

    ReplyDelete
  4. MasyaAllah UN menetas airmata rindu untuk kesana. Tapi kenapa belum juga ada ikhtiar nyata semisal tabungan. Wahai diri Adakah jaminan ajalmu kan lama?

    ReplyDelete
  5. Masyallah , baru ngomongin ini kemaren dengan keluarga, ternyata uni sudah melakukan dan menulis nya .... Seneng banget bacanya,,

    Iya boleh dibocorkan, daftakan nya kemana? Apakah aman juga untuk usia orang tua sekitar 60th?

    ReplyDelete
  6. Maasyaallah...alhamdulillah klu tulisannya bermanfaat ya chan,ada websitenya, boleh japri ya,

    Insyaallah aman utk orang tua umur 60, rombongan uni kemaren itu ada yg umur 80 klu ga salah, beliau sehat alhamdulillah dan berangkat bersama anaknya.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...