Sunday, 25 October 2020

RENUNGAN QUR'ANI

المال والبنين زينة الحياة الدنيا والباقيات الصا 

لحات خير عند ربك ثوابا وخير املا. (الكهف ٤٦)

Harta dan anak anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (Q.S Alkahfi : 48)

Amal kebajikan walau kecil sekalipun, tetapi dilakukan terus menerus dan berkesinambungan adalah lebih baik dari pada amal yang dikerjakan banyak tapi hanya sesekali dan tidak berketerusan.

Bunda, kita sudah sama-sama tahu bahwa berinteraksi dengan alqur'an hendaklah berterusan setiap hari. Tiada boleh jeda. Sekolah boleh libur, bekerja boleh libur, ke sawah ke ladang boleh libur, memasak, dan menyapu boleh libur, namun tidak demikian akan interaksi kita dengan alqur'an. Ya, membacanya, menghafalnya, mentadaburinya apalagi mengamalkannya, tiada boleh libur.  Kenapa? Agar hati kita senantiasa bahagia. Agar kehadiran Allah terasa begitu dekat. Maka dengan mendekat kepada Allah pulalah kemuliaan akan kita peroleh. 

Seringkali kita beralasan sibuk, sehingga tiada sempat membaca Alqur'an. Yakinlah, bahwa sejatinya bukan karena kita sibuk kita tidak sempat membaca alqur'an, akan tetapi karena tidak membaca alqur'anlah perasaan kita menjadi sibuk, dan struktur berfikir kita menjadi kacau. 

Sebaliknya, justru setelah membaca alqur'an kita akan merasa tidak sibuk, karena hati kita merasa tenang, jiwa kita menjadi lapang, dan bahagia telah menjelang.

Kala kita sibuk dan tiada sempat membaca alqur'an, itu adalah kode bahaya, sebab bisa jadi keputusan yang kita ambil, langkah yang kita tempuh, tindakan yang kita lakukan tiada dibimbing oleh Allah Ta'ala. 

Bunda, tidaklah kita tergiur dengan dengan fadhilah dan keutamaan yang banyak bagi orang yang berinteraksi dengan alqur'an? Bagaimana agar fadhillah itu tidak hanya menjadi pengetahuan kita, akan tetapi hendaknya mampu menjadi energi penggerak agar kita tetap istiqomah berinteraksi dengan alqur'an.

Marilah sama sama merayu diri dan bertanya lagi ke lubuk hati. Begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan, baik diminta maupun tidak,  tidakkah kita ingin bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah dengan membaca Alqur'an? 

Allah Ta'ala dan Rasulullah saw menyuruh kita berinteraksi banyak dengan alqur'an. Untuk siapakah gerangan manfaatnya? Tidak lain dan tidak bukan adalah buat diri kita sendiri bukan? 

Tidakkah kita merasa khawatir dengan diri ini. Jatah usia makin hari makin sedikit. Jaminan surga tiadalah ditangan. Amalan tiada dapat diandalkan, masih juga enggan berinteraksi dengan alqur'an. Atau jangan jangan malah alqur'an yang enggan mendekat dengan kita, sebab terhalang gunungan dosa kita? 

"...demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayatNya agar kamu memikirkan tentang dunia dan akhirat,...(QS. Albaqoroh : 219-220).

Wallahua'lam bishshowaab 

🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Saturday, 24 October 2020

MANAJEMEN EMOSI DI ISTRIKU BULAN

Bismillah, 

Istriku Bulannya Nesri Baidani terus naik rating. Aku salah seorang pembaca dan penikmat setianya. 

Tidak hanya sebagai bacaan tanpa arti. But, bagiku pribadi novel ini sarat ibroh, kaya makna dan banyak hikmah yang bisa dipetik. Terutama jadi menilik kedalam diri. 

Tak hendak hanya menikmati hikmah untuk diri sendiri. Aku juga mau berbagi pandangan, dan akan kujadikan hadiah buat teman-teman..

Hadiah sederhana berupa beberapa catatan hikmah dari "Istriku Bulan" tentang pendidikan dan pengasuhan, yang saya rujuk dari QS Lukman ayat 12-17,  

Dimana kalau "pelajaran"  tsb tidak "selesai" maka akan menimbulkan emosi, marah tak berkesudahan, dendam, berbagai penyimpangan, dan segala pernak pernik sakit hati lainnya. 

Seperti para tokoh dan karakter yang ada di Istriku Bulan. ((Authornya piawai sekali mencipta karakter karakter unik, yg mengaduk aduk perasaan pembaca, membuat para telorist terus beraksi. Author juga piawai menghadirkan banyak surprise di setiap episodenya. Ga ada yg bisa nebak kisah selanjutnya.)) Awalnya saya memang tak habis fikir kenapa Kamal sang idola (ehem) bisa bertindak dan bersikap seperti itu. Sedangkan dia bersekolah di pesantren, belajar agama, bahkan hafidz 6 juz alquran, dan (sepertinya) berasal dari keluarga dan keturunan baik-baik.  Pertanyaan makin banyak saja memenuhi kepala, ketika tiap episode bertambah. Bagaimana dia sebenarnya dididik dlm keluarga. Besar tumbuh dalam keluarga spt apa dia sebenarnya? Siapa sih yang salah? 

Satu persatu pertanyaan itu terjawab seiring makin tingginya nomor episode novel. (Berkat sabar jadi telorist dan ngikutin kisahnya) :)

Kemon mulai baca catatanku….

  1. Keteladanan 

Dalam mendidik keteladanan adalah hal yang sangat penting. Keteladanan asli tanpa penuh kepura puraan. Bukan lain kelihatan  di zohir, dan lain pula yang terbetik di hati. Seperti yang telah dicontohkan Luqman. luqman telah diberikan Allah hikmah untuk mengenal Allah, mengenal dirinya sendiri, mengenal dunia dan mengenal akhirat. Hikmah pemahaman, ilmu, tuturan yang baik dan pemahaman Islam. Hikmah mengontrol pandangan, menjaga lisan, menjaga kesucian makanan, memelihara kemaluan, berkata jujur, memenuhi janji, menghormati tamu, memelihara hubungan baik dengan tamu, dan meninggalkan perkara yang tidak penting. Demikian dia memberikan keteladanan kepada anaknya, setelah terlebih dahulu mempraktekkannya.

  1. Bersyukur

Memperakui segala nikmat yg telah diberikan Allah,dan menggunakan nikmat itu dengan baik di jalan Allah. Bersyukur dengan qalbu, lisan dan anggota badan dengan penuh keta'atan. Siapa yang bersyukur niscaya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. 

Bersyukur atas nikmat yang begitu banyak. Tidak terus meratap atas musibah (mis.keguguran mama Kamal) yang menimpa, dan lantas melupakan nikmat lain yang banyak, sekecil apapun itu. 

(Meninggalnya mama Bulan, membuat ayahnya abai dengan Bulan kecuali mencukupi finansial, Riana yang terlahir perempuan disulap ayahnya menjadi laki laki tak terkalahkan)

3.  Tidak mempersyarikatkan Allah, karena itu merupakan kezaliman yang besar. Beribadah dan berbuat hanya karena Allah semata. Beribadah bukan karena dilihat ustadz pesantren, bukan karena ingin dipuji, atau ingin dianggap baik dan sholeh (oleh mama ya Kamal)

4.  Berbuat baik kepada kedua orang tua. Ibu telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah lemah, dan menyapih dalam dua tahun. Kesulitan dan keletihan ibu terjadi siang dan malam selama perawatan dan pengasuhan. Penceritaan ini dimaksudkan agar anak selalu teringat akan kebaikan ibu. 

(Kamal tau sekali dengan kesulitan dan kasih sayang mamanya. Ia tak ingin menyakitinya sedikitpun. Tapi kenapa ketika jauh dari mamanya ia berbuat hal yang melukai hati mama?) Next, mungkin kurang penanaman aqidah.

  1. Penanaman aqidah

Muroqobatullah, bahwa merasa selalu dalam pengawasan  Allah. Sesungguhnya Allah Maha Tahu seberat biji sawipun kebaikan yang dilakukan, hatta berada di dalam batu, baik di pelataran langit ataupun bumi, niscaya Allah pasti mengetahui dan akan membalasnya. Pun demikian dengan kezaliman atau kesalahan seberat biji sawi pasti Allah Maha Tahu dan Maha Membalas. 

(Ketika tak ada orang melihat, Kamal mencoba bunuh diri. Lepas dari pengawasan pesantren lantas meninggalkan shalat, meninggalkan kepercayaan pada Allah, meniadakan-Nya hatta berzina.) Apakah pembiasaan kurang? Big No. Sungguh di pesantren pembiasaan sangat keren, bukan?. 

  1. Mendirikan Shalat 

Setelah semua poin yang diatas terbina, barulah tiba perintah shalat. Belajar shalat dan menerapkan pembiasaan. Mendirikan shalat sejalan dengan kewajiban, hukum, rukun, dan waktunya.

  1. Mengerjakan perbuatan yang baik, mencegah pada kemungkaran. 

(Btw, Kamal rajin berbuat baik pada orang lain, rajin berderma dan berdonasi.)

  1. Bersabar

Bersabar terhadap apa yang menimpa, sebab orang yang menyeru kepada kebaikan,menyeru pada jalan Allah pasti  mendapat gangguan. Dan itu merupakan ketetapan.

Hampir semua konflik di novel ini berawal dari ketiadaannya poin "pelajaran" diatas. 


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Note : telorist ; sebutan buat para netizen yang selalu menuntut lanjutan part novelnya.




Friday, 23 October 2020

SELF CELEBRATION

Bismillahirrahmanirrahim

  1. Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad) 

  2. dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu 

  3. yang memberatkan punggungmu 

  4. dan kami tinggikan sebutan namamu bagimu

  5. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan 

  6. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan

  7. Maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain 

  8. dan hanya kepada tuhanmulah engkau berharap 

(Q.S Al Insyirah 1- 8)


🌸🌸Aha Moment🌸🌸

Alhamdulillah wasyukrulillah, sudah berada di kelas-kelas idaman setelah berproses sedemikian rupa-rupa warna,haha . Pencapaian kemajuan diri ditengah kesibukan berbagai aktifitas kerumahtanggan, aktifitas belajar, berbagi dan berkarya.

Awal yang baik, bismillah. Ini hadiah ulang tahun dari dan oleh diri sendiri haha ....yeeay.👏👏👏September nan punya banyak cerita,  juga bertepatan dengan awal bulan hijriah, Muharram. Masyaallah. 

Beroleh tiga ijazah di awal September tahun ini, hal yang luar biasa buat aku sendiri. Belajar di tiga kelas yang kebetulan waktunya bertepatan sama. Masing masing ada tugas harian yang menuntut konsistensi dan persistensi tinggi. Kalau dirasa dan dipikir bakalan jauh panggang dari api. Andai sekolah formal ini sudah masuk S berapa ya? 😅

Hmm....Hatiku berbunga bunga, seperti surat-surat cinta, eeaaa. 

Merayakan kemajuan adalah menguatkan momentum, fokus pada keberhasilan. Fokus  merayakan kemajuan walau sekecil apapun, karena ia akan mengeluarkan hormon endorphin dalam diri 

Merayakan kemajuan sama dengan menarik energi baru. Memberikan apresiasi pada diri sendiri sebagai wujud dari syukur. Bersyukur atas kemajuan yang telah diperoleh walaupun hanya kecil dan sedikit. Tersebab mengapresiasi kesuksesan demi kesuksesan kecil lama lama akan menjadi besar, insyaallah. 

Seseorang tidak akan bisa mensyukuri dan mengapresiasi yang besar, kalau tidak bisa mengapresiasi yang kecil. 

Namun, merayakan kesuksesan dan kebahagiaan tidaklah boleh berlebihan, karena itu akan mengurangi energi. So, rayakan dengan secukupnya saja.

🌸Bunda Cekatan🌸

Kelas Bunda Cekatan (6 bulan) adalah tahapan belajar ketiga di kurikulum Institut Ibu Profesional, setelah lulus kelas Matrikulasi (3 bulan), Bunda Sayang (12 bulan). 

Sistem belajar yang dikemas apik berupa proses metamorfosis sempurna kupu-kupu. Ada sistem gugur di setiap tahapnya kalau tidak tuntas menyelesaikan tantangan. 

Saya menikmati setiap kejutan yang disajikan bundo Septi dalam play ground bunda cekatan, mulai dari tahap telur telur, ulat ulat, kepompong, dan kupu kupu. 

Prosesnya tidak hanya bermanfaat buat saya pribadi, tapi juga buat anak anak dan keluarga.

Terima kasih tak terhingga saya haturkan pada Bundo Septi  dan Mak Ika, sebagai fasilitator dan co fasilotator yang mengampu dengan sangat keren perkuliahan bunda cekatan ini. Jazakumallahu khairon katsiro. 

Terima kasih juga buat semua teman teman sekelas, keluarga pecinta Alqur'an, buddy, mentor dan mentee yang berasal dari berbagai IP regional diseluruh Nusantara, Asia dan Non Asia, Maasyaallah. 

Kadang serasa mimpi bisa lulus sampai tahap akhir ini. Banyak tantangan yang muncul di setiap prosesnya. Alhamdulillah kupu kupu cantik menjelma juga. 

Qadarullah, saat perkuliahan fase kupu-kupu, Si Tengah  jatuh sakit. Proses mentoring sebagai mentor Homeschooling, dan mentee Alqur'an saya lakukan ditempat tidur sambil merawat ananda. Kemudian bolak balik ke rumah sakit sampai dirawat inap juga😭. Wisuda meriah on line juga saya ikuti sembari  berbagi waktu dan perhatian pada si tengah yang dirawat di Rumah Sakit waktu itu. Subhanallah.


Tak disangka tak diduga ada kejutan istimewa dari Kahima, kalau saya terpilih sebagai mahasiswa yang mengumpulkan jurnal lengkap dan tepat waktu, Alhamdulillah.


🌸SOMK (Sekolah on line Muslim Konselor)🌸

Beberapa hari sebelum saya dapat informasi tentang SOMK (Sekolah On line Moslem Councelor), Aisyah putri sulung saya yang homeschooler bilang kalau dia mau ikut magang psikologi di Bandung. Saya masih kurang faham dengan ilmu psikologi itu. 

Alhamdulillah "murid siap guru datang" sementara saya siap belajar, informasi SOMK justru muncul di beranda facebook saya. Tanpa pikir panjang langsung saya daftar ikut SOMK. 

Jadi saat anak belajar  di magangnya, saya juga ikut belajar di SOMK. So, ngga bego2 amat saya kalau diskusi bersama anak.😍 Kelas-kelas awal SOMK ini saya ikuti dalam keadaan nikmat terbaring sakit selama sebulan lebih. Alhamdulillah 'ala kulli hal.

Doeloe, saya pernah mendengar bahwa ilmu yang sering terpapar paham Barat adalah ilmu parenting dan psikologi,(wallahu a'lam) namun lewat SOMK saya jadi lebih tahu tentang konseling yang Islami, alhamdulillah.

Alhamdulillah, dari pertama bergabung saya sudah yakin SOMK adalah tempat belajar yang keren, dibimbing oleh bunda Djauharah yang maasyaallah luar biasa. Beliau seorang psikolog dan konselor yang telah berpengalaman lebih dari 35 tahun. Master Tekhnologi Pendidikan, Konsultan Pendidian, Terapis, Trainer Motivator dan inspirator menciptakan model sistem pendidikan Bunyan. Beliau juga pernah belajar SEFT, belajar di Ma'had Al Hikmah Jakarta, dan LIPIA Jakarta, dimana saya juga salah satu almamaternya (berasa sejodoh deh :)). Beliau juga seorang hafidzoh alqur'an 30 juz, saat usia 70 tahun masyaallah. 

Finally, bisa lulus dengan predikat maksimal di SOMK ini, merupakan nikmat yang luar biasa. Bisa hadir di kelas setiap hari (Senin-Jumat) selama lima bulan,  tanpa absen kecuali hanya 2 hari aja, kalau ga salah. Terus bisa mengerjakan tugas berupa resume materi setiap hari, ditambah dua buah tugas resume buku sehingga lulus dan berhak ikut tergabung di majelis alumni SOMK, maasyaallah.


🌸Kelas Alqur'an🌸

Saya mempunyai keinginan yang kuat untuk selalu berinteraksi dekat dengan Alqur'an. Namun,  kesibukan harian seringkali melenakan. 

Berkali kali membuat komitmen dengan diri sendiri, berkali kali pula lengah dan dilanggar. 

Berusaha mencari teman, berkumpul dan berniat untuk merealisasikan mimpi yang sama, but kadang hanya semangat di awal saja. 

Sampai suatu hari di bulan September 2018, saya bulatkan tekad untuk bergabung dengan sebuah sekolah khusus Alqur'an. Alot juga diskusi dan proses perizinan dengan Uda. Beliau beralasan, 

"Kamu sudah belajar di berbagai Dauroh Alqur'an, sudah belajar di Ma'had Almadaniy, Ma'had Alhikmah, sudah pula kuliah di LIPIA. Sekarang saatnya kamu praktekkan semua ilmu itu."

"Da, sudah puluhan tahun diusahakan belum juga bisa tuntas alqur'annya. Mohon izin Da, please."

Akhirnya dengan tersenyum beliau memberi lampu hijau. Bahkan beliau pula yang seringkali berjasa untuk antar jemput ke tempat belajar. Menjadi partner diskusi, berdebat dan bertengkar 😅. Thank you my lovely hubby.❤️

Bulan berikutnya, November, kelas dimulai. Kelas Tahfidz itulah yang saya incar. Namun ternyata tak bisa ujug-ujug langsung masuk kelas tahfidz. Harus mulai dari kelas Tahsin level 1, 2,3 dan 4. 

That's OK, bismillah. Saya mulai belajar dan juga mengamati, dong, hehe. Ketika menerima buku panduan, langsung saya tamatkan membaca dan berlatih dengan suara nyaring sampai tamat. Dua kali pertemuan di level satu, saya mohon untuk bisa ikut ujian naik tingkat level 1. 

Alhamdulillah lulus, dan pekan berikutnya boleh langsung ikut ujian naik tingkat level 2. Alhamdulillah lulus lagi dan saya harus ikut belajar di level 3. Ini level untuk belajar teori dan matan tajwid Imam Aljazary. Tiga bulan lamanya belajar di level 3. 

Setelah lulus ujian tingkat, maka masuk ke kelas tallaqi 30 juz alqur'an. Hmm luar biasa. Maka nikmat Tuhan yang mana yang kamu dustakan? 

Kurang lebih setahun lamanya tasmi' alqur'an tiba saatnya wisuda. Ujian munaqosah layaknya sidang skripsi….oh..deg degan. Bacaan Alquran,  semua teori tajwid dan matan Aljazary diuji. 

Namun, ujian lain  yang ada dihadapan mata. Merawat ananda yang masih terbaring di Rumah Sakit. Tambahan lagi ini semua terjadi dimasa pandemi yang tantangannya makin berlipat. 

Notifikasi latihan ujian dari ustadzah selalu masuk ke ponsel. Tiada satupun bisa aku hadiri. 

Sudah kuputuskan untuk mengundurkan diri saja, toh sejatinya aku sudah tamat kok. Ujian dan wisuda hanya formalitas saja, begitu aku menghibur diri. 

Lagi lagi diluar dugaan, ustadzahku memotivasi dan menguatkan bahwa aku bisa ikut ujian dan wisuda. Kemudahan demi kemudahan juga ditawarkan. Maasyaallah.

Aku diperbolehkan hadir saat sudah bisa datang saja. Setelah beroleh izin ananda dan kira kira sudah bisa ia ditinggal. Jadi tidak harus seperti peserta wisuda yang lain harus hadir jam 07.00 pagi dan pulang sore sekitar asar. 

Alhamdulillah saat saya datang, langsung dipersilahkan naik ke panggung dan mesti siap tampil membaca alqur'an menjawab soal soal ujian. Setelah selesai saya langsung pamit pulang. Dan tidak sempat menyimak hasil wisuda. 

Fa inna ma'al 'usri yusro. Inna ma'al 'usri yusro . Maka sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. 

Dapat kejutan ketika menerima ijazah, predikat mumtaz tertera di sana. Alhamdulillah.

Biiznillah, dapat menyelesaikan kelas-kelas dengan high energy ending. Maasyaallah. 

Berani berkisah bukan untuk berbangga, namun hanya berharap semoga ada yang terinspirasi. Sebab, segala sesuatu yang kita miliki bila tidak menjadikan kita lebih dekat kepada Allah, dan menjadi bekal kita untuk menghadap Allah, maka semua itu bukanlah menjadi bukti kecintaan Allah kepada kita. Wallahu a'lam bishshowab.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

Tanah Mati, Jumat 23 Oktober 2020.


Monday, 19 October 2020

DETIK-DETIK

DETIK
Oleh : Betty Arianti

Semburat jingga telah menimpa langit biru. Tak lama lagi mentari akan tenggelam sempurna. Aku bersiap-siap untuk pulang, sejenak setelah mama datang untuk bergantian menemani papa di shif malam. 

Remuk redam rasanya badan. Letih tiada terkira. Tiga malam sebelum papa dirawat di Rumah Sakit ini, kami bertiga, mama, papa dan aku nyaris tiada dapat terpejam walau sebentarpun. 

Sakit papa kian parah, rasanya aku tak tega untuk sekedar memicingkan mata. Rintihan sakit yang memilukan. Tiap beberapa menit ke toilet. Kalau dalam keadaan susah berjalan ini, kamar mandi rasanya jauh sekali.
Berdua dengan mama, aku bolak balik membantu papa naik kursi roda, menuntun untuk ke belakang. 

Duduk beliau tak nyaman, tiduran pun tak bisa. Tumpukan bantal yang disusun di tempat tidur juga tak membantu papa untuk istirahat. Sebentar bersandar ke bantal, sebentar duduk meringkuk. Nafas beliau makin sesak. Makan tak mau, minumpun beliau enggan.
 
                     *******
Malam itu aku sudah berniat untuk tidak menginap di rumah sakit. Aku sudah minta izin sama mama untuk pulang. Lagipula papa juga sudah dibantu para dokter dan perawat. Kuperkuat rasa tega untuk pulang, satu malam saja. 

Sampai dirumah, aku harus memasak untuk makan malam. Lengkap sudah rasanya kelelahan itu. Setelah semua beres, aku gelar tikar dilantai, terus rebahan melepas penat yang berlipat.
 
Tak lama adikku, Rahmad datang. Suamiku membukakan pintu. 
"Uda saja yang antar kasur ke rumah sakit ya, Da. Saya tak bisa pergi, anak anak tak mungkin ditinggal,"kata Rahmad menjelaskan.

"Baiklah,"jawab Uda pendek. 

Aku lega, karena Uda yang akan ke Rumah Sakit malam itu. Jadi aku bisa istirahat, mengumpulkan tenaga untuk esok pagi menggantikan mama menemani papa lagi. 

Sembari rebahan kurapal zikir Fathimah. Biasanya zikir putri Rasulullah itu sangat membantu mengurangi rasa penat yang mendera.

Belum selesai aku mengucap zikir semuanya, tiba tiba suara suami mengagetkanku, "Ayo kita berangkat ke Rumah Sakit."

"Ya Rabb, aku lelah sekali, beri aku kekuatan"batinku. 

Tak tahan, sambil merajuk, kuutarakan juga pada suami, "Da, bagaimana kalau Uda saja yang berangkat? Aku capek sekali Da."
 
"Masak Uda sendiri, sih? Ayo berangkat sama sama, sekalian sama anak anak juga,"kata suamiku tegas. 

Aku tak kuasa lagi menolak. "Bismillah,"Kami berangkat sekeluarga. 

Namun, tiba di Rumah Sakit rupanya jam bezuk sudah habis. Pintu yang dijaga dua orang satpam itu sudah ditutup. 

"Pak, mohon izin kami buat masuk. Kami mau mengantar kasur ini kedalam,"kataku pada Pak Satpam. Alhamdulillah para satpam baik hati itu mengizinkan kami masuk, padahal biasanya peraturannya ketat sekali. 

Setelah meletakkan kasur, menanyakan keadaan papa. Aku dan suami pamit untuk pulang.

 Satu lagi yang aku tak kuat di ruang rawat papa itu adalah, bau busuk khas yang membuat ludahku tak bisa ditelan. Seperti bebauan dari septiteng. Adik-adikku paham sekali tentang kelebihan penciumanku ini. Kalau buat orang lain, biasa saja. Pasti bagi hidungku luar biasa. 

Sampai dipintu, papa melihatku seperti memelas, "Bet, kamu tidur disini saja. Kamu tidur disini saja,"kata beliau mengulang sampai dua kali. 
Aku tertegun dipintu. Galau antara menolak dan mengiyakan. Tak tega menolak karena memang biasanya selama hampir setahun belakangan papa bolak-balik dirawat di Rumah Sakit, aku selalu ikut menemani beliau. Akan tetapi kalau aku jawab, "iya"aku dalam keadaan lelah sekali.

 "Aku izin Uda dulu ya, Pa."kataku menunda memberi jawaban, lalu keluar menemui suami dan anak anak. 

"Papa minta, aku nginap disini,Da". Suamiku diam sejenak, lalu mengangguk tanda memberi izin. 

Anak anak yang protes, "Ngga usah Mi, Ngga usah Mi, Ummi kan capek,nanti Ummi sakit, Ummi tidur dirumah saja"kata mereka bertiga bergantian, dengan nada khawatir.
 
Tapi, suami sudah memberi izin. Aku lebih baik taat saja. 
              ********
Aku masuk ruang inap papa lagi, lalu mencek selang infus dan selang oksigen yang membantu pernapasan papa, sebelum menemui perawat jaga malam itu.

 Aku harus menyelamatkan hidungku dulu, agar bebas dari penciuman tak sedap di ruangan itu. Agar aku bisa menelan ludah dan bisa rebahan walau sejenak. 

"Suster, maaf apakah ruangan ini dekat dengan septikteng? Atau septiktengnya sudah penuh? Kenapa bau sekali?"tanya saya pada perawat jaga. 

"Mungkin dari kamar mandi, Buk. Coba semprotkan aja parfum ini,"Jawab perawat itu sambil memberikan tabung pewangi ruangan.

Aku terima tabung pewangi itu, walau kurang yakin, karena rasanya sumber bau bukan dari kamar mandi.

Setelah menyemprot kamar mandi, aku mulai menggelar kasur berniat hendak rebahan. Kami mengatur posisi. Selain papa, ada pasien lain diruangan ini. Dia ditemani ibunya. Jadi kami mesti berbagi tempat agar muat tidur bertiga di lantai. 

"Ya, Rabb, setelah punggung diluruskan di kasur, bau busuk itu makin menyengat tajam. Sungguh aku tak kuat dengan bebauan ini. 

Alhamdulillah papa lumayan tenang, beliau bisa tidur telentang, tidak meringkuk seperti di rumah. 
Kulihat semua sudah tidur. Mama juga sudah terlelap, pasien sebelah dan ibunya juga sudah pulas. Aku mulai bergerilya mencari sumber bau. Mana tahu dari barang-barang pasien sebelah. Kuintip satu persatu, termasuk beberapa tas kresek mereka di bawah tempat tidur. Hasilnya nihil. Sumber bau bukan dari barang-barang mereka. 

"Atau jangan jangan benar ya obrolan dengan pasien sebelah tadi, kalau ruangan ini bekas merawat pasien muntaber? Ah,entahlah…."Aku membatin.

Aku melapor lagi ke loket perawat jaga. Barangkali bisa pindah keruangan lain karena ruangan lain banyak yang kosong. Mereka menjawab tidak bisa. Ya Rabb.

Jam menunjukkan hampir pukul 12 malam. Papa makin gelisah. Beliau tak bisa tidur. 
"Apa yang sakit,Pa?"tanyaku berusaha tenang. 
"Ngga ada yang sakit," beliau menjawab sambil menggeleng.
 
Cairan infus papa rupanya hampir habis. Aku lapor lagi ke perawat. Lalu, dua orang perawat masuk. Kulihat mereka juga mencium bau tak sedap setiap kali masuk ruang rawat papa ini. Selesai memasang tabung infus baru, mereka buru-buru keluar, dan memanggilku untuk ikut mereka ke ruang piket perawat. 

"Beneran Ibuk mau pindah ruangan?". 

"Ya Suster!"Aku menjawab penuh semangat.

 "Tapi kedua pasien ruangan itu harus pindah juga Buk,"lanjutnya.

 "Baik, saya akan mengajak mereka pindah juga, Sus."

Aku yakin, pasien sebelah itu mau untuk pindah juga, karena mereka berdua sebenarnya juga merasa kurang nyaman.

Tepat jam 12 malam, akhirnya kami pindah keruangan baru. Papa didorong naik kursi roda, karena beliau tak kuat lagi berjalan. Alhamdulillah, leganya hidungku. Semua juga senang karena merasakan kelegaan yang sama. 

Karena penasaran dengan sumber bau tak sedap itu, diam-diam, aku balik kembali ke ruang rawat tadi. Kulihat perawat membuka semua sprei sarung bantal, dan selimut. Memindahkan lemari-lemari dan dispenser. Kurasa mereka juga penasaran dengan sumber bau itu. 

Tak tahan, kutanya juga akhirnya, "Apa sebenarnya yang bau itu, sus?"
Perawat itu tidak menjawab dengan kata-kata, tapi arah telunjuknya sudah cukup membuatku mengerti. 
Dibawah kolong lemari, yang posisinya tadi persis diatas kepalaku ketika rebahan, ada seonggok noda kuning kecoklatan yang sudah mulai mengering.
***********
Tantangan bau menusuk hidung sudah selesai. 
Tikar dan kasur digelar kembali dilantai ruang inap yang baru. Aku berharap bisa istirahat. Aku coba meluruskan punggung di kasur tipis itu. Oh, ternyata tidak semudah yang diharapkan. Aku tak tega untuk tidur, sedangkan papa kelihatan sangat kepayahan, seperti kesakitan, tapi setiap ditanya beliau selalu menjawab tidak. Beliau baru menjadi lebih tenang ketika mengucap, "astaghfirullahal'aziim"dengan suara cukup keras.

Jam menunjukkan pukul setengah tiga dinihari. Entah sudah berapa kali papa minta ditemani ke kamar mandi, mau buang air besar kata beliau, namun tidak pernah berhasil. Tidaklah gampang perjuangan ke kamar mandi. Naik kursi roda dan membawa membawa peralatan infus. 

Setelah papa berbaring, aku berwudhuk hendak shalat tahajjud. Baru selesai dua rakaat, mama mengajakku duduk berdua ditepi pembaringan papa. Papa sudah bisa tidur dengan kaki lurus dan satu bantal saja dikepala. Alhamdulillah, ini kemajuan menurutku.

Lalu mama menyuruhku membaca surat Yasin. Aku enggan, sangat enggan, dan entah mengapa aku malah memilih membaca surat Alkahfi. Aku sangat berharap papa sembuh. Bisa segera pulang dari Rumah Sakit ini. Tapi papa makin kepayahan.

 Tak selesai kubaca surat alkahfi, kuikuti saran mama. Aku baca surat Yasin. Papa lebih tenang dan makin tenang. Disitu aku baru yakin kenapa surat Yasin dianjurkan dibaca.

Jantungnya Alqur'an adalah Yasin. Seorang yang membacanya karena mengharap ridha Allah dan hari akhirat maka Allah akan mengampuni dosanya. Bacakanlah bagi orang yang mendekati maut. (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i dan yang lainnya)

Tak sanggup kuselesaikan membaca surat Yasin, aku menghambur naik ke tempat tidur papa. Kuusap kepala beliau. Talqin, "Laa ilaha illallah."Kalimat yang sungguh tak ingin kuucap sama sekali saat ini. 
Tak ingin, tapi kutalqin juga di telinga papa. Kulihat beliau mengikuti. Kuulang beberapa kali, lidah beliau naik turun bergerak. Berangsur, napas beliau mulai keluar satu persatu. Kutunggu sampai beliau pergi begitu tenang, dengan seulas senyum mengembang. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.  

Tanah Mati, 17 Juni 2020

Sunday, 18 October 2020

KEBUN BAHAGIA

KEBUN BAHAGIA


Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya,”  

Q.S Ar-Rahman Ayat 6

Salah satu kegiatan menyenangkan, yang membuat mata berbinar dan membahagiakan bagi kami (eh, terutama saya) adalah berkebun. 🥦

Kayaknya ini termasuk ranah passion juga deh. Sebab saya  akan melakukannya tanpa diminta dan disuruh. Segala kendala dapat diubah menjadi tantangan yang dapat diselesaikan. Tidak juga tergantung pada kesenangan musiman, seperti sekarang yang lagi ngetrend, hehe. 

Saya tidak punya tanah di pekarangan yang dapat ditanami. Area halaman juga sangat kecil. But, it's ok. Saya bisa menanam di pot, polibag, karung bekas, plastik bekas minyak goreng atau bekas deterjen, kaleng bekas cat,  ember bocor ataupun panci bolong. Pokoknya semua wadah yang bisa diisi tanah, dimanfaatkan 😅

Tanah bisa diangkut sedikit demi sedikit dari KATO. Ga papa jauh, itu bukan halangan. Sekam bisa diambil di heller, rice milling, terus berangsur saya buat arang sekamnya . Sekarung itu bahkan bisa sampai empat atau lima kali proses pembakaran. Saya bakar dalam wajan bekas, hehe. Kompos saya bikin sendiri juga dari sampah organik rumah tangga.  Lalu pupuk kandang bisa dipesan dengan peternak. Asyiik bukan? 🤩

Lega luar biasa kalau media tanam tersedia banyak. Dapat langsung diambil saat keinginan menanam dan sela waktu tersedia. Seringkali menanam hanya satu atau dua pot saja dalam satu kesempatan, karena berbagai keterbatasan. 

Jadi berkebun ini saya lakukan dengan mencicil, one bit at a time, berangsur-angsur dikala senggang, atau bisa bersama keluarga kala GfoS (Gadget free on Sunday)  

Senang sekali kalau mau masak itu tinggal petik-petik. Segar, sehat, hemat dan dekat. Segar karena ditaruh di kulkas alami. Sehat karena bebas dari racun kimia. Kalau ada hama disiasati dengan pestisida alami dan ramah lingkungan. Hemat karena tidak mesti mengeluarkan uang untuk membeli. Dekat karena tidak harus ke warung kalau butuh. 

Saya biasa menanam sayuran yang disukai keluarga saja, seperti bayam, kangkung, selada, pokcoy, daun singkong, terung, tomat, seledri, daun katuk, kol, lobak, sawi, brokoli, wortel cabe dll. Bumbu dapur seperti kunyit, jahe, serai, kencur, jeruk nipis, jeruk kesturi, pandan dll. Sebenarnya jumlahnya tidaklah banyak, but Alhamdulillah sejak lama saya sudah bisa swasembada sayuran. 

Senang aja melihat hijau-hijau memanjakan mata. Terasa sejuk dan damai di hati. Apalagi dilengkapi indahnya warna-warni bunga. "Maka nikmat Tuhan yang mana yang kmu dustakan?" (Q.S. Arrahman) 

Kebahagiaan juga bertambah kala bisa berbagi tanaman dan sedikit hasil panen dengan teman dan saudara di hari Jumat nan barokah. Maasyaallah.🥦🥦

🌸🌸🌸🌸🌸

Tanah Mati, 18 Oktober 2020

Saturday, 17 October 2020

BEDAH BUKU TARBIYATUL AULAD

🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳

*Bedah Buku*
*Tarbiyatul Aulad Fil Islam*

Karya Abdullah Nashih Ulwan 

Bab 3 Pasal 2

Kaidah Dasar Dalam Pendidikan Anak 
(Bagian 1)

🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳

"Ibu harus tegas,harus tega, anak ini harus mengenalaturan, perlu konsekuensi, agar perilakunnya terkendali."
"Aku tahu, aku harus tegas...tapi aku nggak
bisa...nggak mampu...aku takut anakku membenciku, takut
nanti kalau besar dia akan dendam sama aku, dan tidak
menyayangiku."

Jika niat merawat anak dari kecil sampai besar
supaya anak sayang pada orangtua, apa boleh? Inilah yang
disebut“pamrih”, dan hal yang seperti ini kurang tepat untuk
dimiliki orangtua yang mendidik anak.

"Ibu, apakah benar sedemikian banyak masalah anak ibu?"
Nampak dikertas tertulis anak malas, susah
dibangunin, sering marah, pemalu, gak paham pelajaran, dan
seterusnya. Ini anaknya yang bermasalah, atau ibunya yang
mudah mengeluh?

"Ibu, coba diingat-ingat satu atau dua kelebihan anak,
agar nanti kami bisa mulai konselingnya dari situ, agar anak
merasa punya harga diri."
"Hmmmmm....apa ya...???" Lha, ibu ini, mengeluh iya
mengenal anak tidak sama sekali.

Karakter ini juga kurang sesuai untuk tersemat pada
orangtua yang mendidik anak : suka mengeluh.

🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳
Syaikh Ulwan menyatakan bahwa ada ada sifat-sifat
dasar yang harus dimiliki orangtua dalam mendidik anak:

1. IKHLAS
Orangtua dan guru sebagai pendidik anak harus
memiliki niat yang tulus dalam mendidik anak
untuk mendapatkan keridhaan Allah. Jika niat
mendidik anak belum lurus dan tulus, maka Allah
tidak akan menerima segala usaha mendidik
anak, sebab ikhlas dalam melakukan perbuatan
apapun adalah keharusan. Jika orangtua berniat
dengan ikhlas mendidik anak hanya untuk
mendapat keridhaan Allah, pendidikan orangtua
akan mudah “membekas” dalam diri dan benak
anak, dan juga mudah membuat anak-anak cinta
dan patuh pada orangtua. Jika orangtua terlalu
fokus pada “hasil” agar anak begini dan begitu,
tidak fokus pada “niat untuk Allah”, harapan yang
ini itu malah tidak mungkin dicapai.

2. SABAR
Sifat sabar akan membuat anak suka pada
orangtua. Dengan sabar, orangtua akan
terjauhkan dari sikap negatif dalam mendidik
anak. Dengan sabar, orangtua tidak akan mudah
marah pada anak. Dengan sabar, orangtua akan memahami kesalahan anak. Kekuatan terbesar
orangtua adalah pada kuatnya dalam bersabar.
Ketika orangtua bersabar, maka kita akan bisa
bersikap lebih ramah dan tetap lemah lembut
dalam segala masalah. Tentu saja, sabar bukan
berarti menjadi lemah di depan anak, ketegasan
harus dilakukan, tidak boleh ragu mengingatkan,
menegur, atau menghukum anak jika diperlukan.
Sabar mendidik yang dimaksud, adalah menahan
diri agar tidak emosional menghadapi anak
sehingga orangtua dapat terus berpikir jernih,
berkata baik, dan juga berlaku baik pada anak.

3. TANGGUNG JAWAB
Orangtus harus memiliki sifat tanggung jawab,
dimana sifat ini akan mendorong upaya mendidik
anak yang menyeluruh, juga memperhatikan
anak secara penuh. Tanggung jawab dalam diri orangtua akan membuatnya yakin jika suatu saat
melalaikan atau mengabaikan tugas mendidik
anak, berakibat akan terjerumusnya anak dalam
kerusakan. Jika tidak ada tanggung jawab penuh,
anak-ank akan semakin nakal dan susah
diarahkan, dan orangtua akan menyesal. Bahkan
Allah memberikan tanggung jawab besar ini, danakan menuntut pertanggung jawaban di akhirat kelak.

🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳

Kita dapat belajar apapun, dimana pun, sebanyak apapun tentang macem-macem teori mendidik anak tapi
kalau tidak ikhlas, kalau tidak sabar, dan kalau tidak dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab maka semua
usaha dan upaya akan jadi percuma saja.

🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳
[7/10 19.45] +62 852-7182-5011: 🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳

*Bedah Buku*
*Tarbiyatul Aulad Fil Islam*

Karya Abdullah Nashih Ulwan 

Bab 3 Pasal 2

*Kaidah Dasar dalam Pendidikan Anak (Bagian 2)*

🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳

"Bu, maaf anaknya ibu kadang suka menggesekkan tangan di bagian kemaluan. Kami takut ditiru sama teman-temannya.” lapor bu guru TK dari salah seorang walimurid. 
"Sudah saya sering bilangi, nggak boleh, saya cuma bolehkan kalo mau tidur. Soalnya dia susah tidur yang gak digosok-gosok, jadi susah tidur."
"Maaf bu, tapi itu kan tidak boleh. Walaupun untuk pengantar tidur, akan tetap jadi kebiasaan. Bisa ada gangguan seksual nanti"
"Oo...gitu ya?"

🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳


Ketidaktahuan kita tentang suatu hal seringkali membuat anak kita berada dalam lingkaran masalah yang tidak kita sadari. Maka sungguh, para orangtua wajib mencari ilmu cara mendidik anak agar tidak terjebak dalam ketidaktahuan. Seperti bahasan Syaikh Ulwan pada bagian berikut ini.
Syaikh Ulwan menyatakan ada sifat-sifat dasar yang harus dimiliki orangtua untuk mendidik anak, setelah sabar, ikhlas, dan tanggungjawab, 2 yang lain yaitu:


1. KEINGINAN MENCARI ILMU
Orangtua yang memiliki ilmu mendidik anak akan dapat bersikap dengan tepat: 
• Bijaksana dalam melihat masalah.
• Meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
• Mendidik anak dengan perencanan sesuai pokok-pokok penting yang seharusnya.
• Mendidik anak dengan pijakan atau dasar yang kuat.
Sebaliknya, jika orangtua tidak memiliki ilmu mendidik anak maka akan ada beberapa bahaya terjadi:
• Anak akan dilanda berbagai persoalan.
• Anak akan menjadi pribadi yang tidak punya eksistensi dalam berbagai aspek kehidupan.
• Anak mendapatkan “aniaya”, ketidakadilan, dan kesengsaraan karena orangtua tidak punya pengetahuan.


Pada intinya, orangtua yang tidak berilmu tidak akan bisa memberi “sesuatu” pada anaknya. Oleh karena itu, para orangtua hendaklah membekali diri dengan pengetahuan dan segala ilmu yang bermanfaat tentang metode mendidik anak yang tepat. 
Ilmu utama yang harus dipelajri orangtua tentunya adalah ajaran kitab suci Al Quran sebagai pedoman manusia, wasiat Rasulullah dalam mendidik anak, syariat tentang hukum halal-haram, kaidah dan etika berperilaku, dan baru teknis mendidik anak.



2. TAQWA
Para orangtua adalah panutan utama bagi anak, maka bagaimana anak akan menjadi baik jika orangtua tidak menjaga diri dalam ketaqwaan. Taqwa, artinya orangtua menjaga dirinya agar tidak sampai melanggar aturan Allah dan senantiasa mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah. Jika orangtua tidak bertaqwa, maka perilakunya akan menyimpang dari nilai-nilai yang seharusnya, dan anak akan menirunya sehingga menjadi pribadi yang menyimpang pula.  Sungguh mendidik dengan keteladanan adalah hal yang utama.


🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳

Mari kita terus belajar, menimba ilmu untuk mendidik anak kita. Karena setiap ketidaktahuan kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat, mengapa kita tidak belajar saat di dunia? Dan tentunya setiap pengetahuan kita juga akan diminta pertanggungjawaban pula, sudahkah kita menerapkan apa yang kita tahu? Sudahkah kita mengamalkannya?


🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳🏠🌳
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...