Monday, 19 October 2020

DETIK-DETIK

DETIK
Oleh : Betty Arianti

Semburat jingga telah menimpa langit biru. Tak lama lagi mentari akan tenggelam sempurna. Aku bersiap-siap untuk pulang, sejenak setelah mama datang untuk bergantian menemani papa di shif malam. 

Remuk redam rasanya badan. Letih tiada terkira. Tiga malam sebelum papa dirawat di Rumah Sakit ini, kami bertiga, mama, papa dan aku nyaris tiada dapat terpejam walau sebentarpun. 

Sakit papa kian parah, rasanya aku tak tega untuk sekedar memicingkan mata. Rintihan sakit yang memilukan. Tiap beberapa menit ke toilet. Kalau dalam keadaan susah berjalan ini, kamar mandi rasanya jauh sekali.
Berdua dengan mama, aku bolak balik membantu papa naik kursi roda, menuntun untuk ke belakang. 

Duduk beliau tak nyaman, tiduran pun tak bisa. Tumpukan bantal yang disusun di tempat tidur juga tak membantu papa untuk istirahat. Sebentar bersandar ke bantal, sebentar duduk meringkuk. Nafas beliau makin sesak. Makan tak mau, minumpun beliau enggan.
 
                     *******
Malam itu aku sudah berniat untuk tidak menginap di rumah sakit. Aku sudah minta izin sama mama untuk pulang. Lagipula papa juga sudah dibantu para dokter dan perawat. Kuperkuat rasa tega untuk pulang, satu malam saja. 

Sampai dirumah, aku harus memasak untuk makan malam. Lengkap sudah rasanya kelelahan itu. Setelah semua beres, aku gelar tikar dilantai, terus rebahan melepas penat yang berlipat.
 
Tak lama adikku, Rahmad datang. Suamiku membukakan pintu. 
"Uda saja yang antar kasur ke rumah sakit ya, Da. Saya tak bisa pergi, anak anak tak mungkin ditinggal,"kata Rahmad menjelaskan.

"Baiklah,"jawab Uda pendek. 

Aku lega, karena Uda yang akan ke Rumah Sakit malam itu. Jadi aku bisa istirahat, mengumpulkan tenaga untuk esok pagi menggantikan mama menemani papa lagi. 

Sembari rebahan kurapal zikir Fathimah. Biasanya zikir putri Rasulullah itu sangat membantu mengurangi rasa penat yang mendera.

Belum selesai aku mengucap zikir semuanya, tiba tiba suara suami mengagetkanku, "Ayo kita berangkat ke Rumah Sakit."

"Ya Rabb, aku lelah sekali, beri aku kekuatan"batinku. 

Tak tahan, sambil merajuk, kuutarakan juga pada suami, "Da, bagaimana kalau Uda saja yang berangkat? Aku capek sekali Da."
 
"Masak Uda sendiri, sih? Ayo berangkat sama sama, sekalian sama anak anak juga,"kata suamiku tegas. 

Aku tak kuasa lagi menolak. "Bismillah,"Kami berangkat sekeluarga. 

Namun, tiba di Rumah Sakit rupanya jam bezuk sudah habis. Pintu yang dijaga dua orang satpam itu sudah ditutup. 

"Pak, mohon izin kami buat masuk. Kami mau mengantar kasur ini kedalam,"kataku pada Pak Satpam. Alhamdulillah para satpam baik hati itu mengizinkan kami masuk, padahal biasanya peraturannya ketat sekali. 

Setelah meletakkan kasur, menanyakan keadaan papa. Aku dan suami pamit untuk pulang.

 Satu lagi yang aku tak kuat di ruang rawat papa itu adalah, bau busuk khas yang membuat ludahku tak bisa ditelan. Seperti bebauan dari septiteng. Adik-adikku paham sekali tentang kelebihan penciumanku ini. Kalau buat orang lain, biasa saja. Pasti bagi hidungku luar biasa. 

Sampai dipintu, papa melihatku seperti memelas, "Bet, kamu tidur disini saja. Kamu tidur disini saja,"kata beliau mengulang sampai dua kali. 
Aku tertegun dipintu. Galau antara menolak dan mengiyakan. Tak tega menolak karena memang biasanya selama hampir setahun belakangan papa bolak-balik dirawat di Rumah Sakit, aku selalu ikut menemani beliau. Akan tetapi kalau aku jawab, "iya"aku dalam keadaan lelah sekali.

 "Aku izin Uda dulu ya, Pa."kataku menunda memberi jawaban, lalu keluar menemui suami dan anak anak. 

"Papa minta, aku nginap disini,Da". Suamiku diam sejenak, lalu mengangguk tanda memberi izin. 

Anak anak yang protes, "Ngga usah Mi, Ngga usah Mi, Ummi kan capek,nanti Ummi sakit, Ummi tidur dirumah saja"kata mereka bertiga bergantian, dengan nada khawatir.
 
Tapi, suami sudah memberi izin. Aku lebih baik taat saja. 
              ********
Aku masuk ruang inap papa lagi, lalu mencek selang infus dan selang oksigen yang membantu pernapasan papa, sebelum menemui perawat jaga malam itu.

 Aku harus menyelamatkan hidungku dulu, agar bebas dari penciuman tak sedap di ruangan itu. Agar aku bisa menelan ludah dan bisa rebahan walau sejenak. 

"Suster, maaf apakah ruangan ini dekat dengan septikteng? Atau septiktengnya sudah penuh? Kenapa bau sekali?"tanya saya pada perawat jaga. 

"Mungkin dari kamar mandi, Buk. Coba semprotkan aja parfum ini,"Jawab perawat itu sambil memberikan tabung pewangi ruangan.

Aku terima tabung pewangi itu, walau kurang yakin, karena rasanya sumber bau bukan dari kamar mandi.

Setelah menyemprot kamar mandi, aku mulai menggelar kasur berniat hendak rebahan. Kami mengatur posisi. Selain papa, ada pasien lain diruangan ini. Dia ditemani ibunya. Jadi kami mesti berbagi tempat agar muat tidur bertiga di lantai. 

"Ya, Rabb, setelah punggung diluruskan di kasur, bau busuk itu makin menyengat tajam. Sungguh aku tak kuat dengan bebauan ini. 

Alhamdulillah papa lumayan tenang, beliau bisa tidur telentang, tidak meringkuk seperti di rumah. 
Kulihat semua sudah tidur. Mama juga sudah terlelap, pasien sebelah dan ibunya juga sudah pulas. Aku mulai bergerilya mencari sumber bau. Mana tahu dari barang-barang pasien sebelah. Kuintip satu persatu, termasuk beberapa tas kresek mereka di bawah tempat tidur. Hasilnya nihil. Sumber bau bukan dari barang-barang mereka. 

"Atau jangan jangan benar ya obrolan dengan pasien sebelah tadi, kalau ruangan ini bekas merawat pasien muntaber? Ah,entahlah…."Aku membatin.

Aku melapor lagi ke loket perawat jaga. Barangkali bisa pindah keruangan lain karena ruangan lain banyak yang kosong. Mereka menjawab tidak bisa. Ya Rabb.

Jam menunjukkan hampir pukul 12 malam. Papa makin gelisah. Beliau tak bisa tidur. 
"Apa yang sakit,Pa?"tanyaku berusaha tenang. 
"Ngga ada yang sakit," beliau menjawab sambil menggeleng.
 
Cairan infus papa rupanya hampir habis. Aku lapor lagi ke perawat. Lalu, dua orang perawat masuk. Kulihat mereka juga mencium bau tak sedap setiap kali masuk ruang rawat papa ini. Selesai memasang tabung infus baru, mereka buru-buru keluar, dan memanggilku untuk ikut mereka ke ruang piket perawat. 

"Beneran Ibuk mau pindah ruangan?". 

"Ya Suster!"Aku menjawab penuh semangat.

 "Tapi kedua pasien ruangan itu harus pindah juga Buk,"lanjutnya.

 "Baik, saya akan mengajak mereka pindah juga, Sus."

Aku yakin, pasien sebelah itu mau untuk pindah juga, karena mereka berdua sebenarnya juga merasa kurang nyaman.

Tepat jam 12 malam, akhirnya kami pindah keruangan baru. Papa didorong naik kursi roda, karena beliau tak kuat lagi berjalan. Alhamdulillah, leganya hidungku. Semua juga senang karena merasakan kelegaan yang sama. 

Karena penasaran dengan sumber bau tak sedap itu, diam-diam, aku balik kembali ke ruang rawat tadi. Kulihat perawat membuka semua sprei sarung bantal, dan selimut. Memindahkan lemari-lemari dan dispenser. Kurasa mereka juga penasaran dengan sumber bau itu. 

Tak tahan, kutanya juga akhirnya, "Apa sebenarnya yang bau itu, sus?"
Perawat itu tidak menjawab dengan kata-kata, tapi arah telunjuknya sudah cukup membuatku mengerti. 
Dibawah kolong lemari, yang posisinya tadi persis diatas kepalaku ketika rebahan, ada seonggok noda kuning kecoklatan yang sudah mulai mengering.
***********
Tantangan bau menusuk hidung sudah selesai. 
Tikar dan kasur digelar kembali dilantai ruang inap yang baru. Aku berharap bisa istirahat. Aku coba meluruskan punggung di kasur tipis itu. Oh, ternyata tidak semudah yang diharapkan. Aku tak tega untuk tidur, sedangkan papa kelihatan sangat kepayahan, seperti kesakitan, tapi setiap ditanya beliau selalu menjawab tidak. Beliau baru menjadi lebih tenang ketika mengucap, "astaghfirullahal'aziim"dengan suara cukup keras.

Jam menunjukkan pukul setengah tiga dinihari. Entah sudah berapa kali papa minta ditemani ke kamar mandi, mau buang air besar kata beliau, namun tidak pernah berhasil. Tidaklah gampang perjuangan ke kamar mandi. Naik kursi roda dan membawa membawa peralatan infus. 

Setelah papa berbaring, aku berwudhuk hendak shalat tahajjud. Baru selesai dua rakaat, mama mengajakku duduk berdua ditepi pembaringan papa. Papa sudah bisa tidur dengan kaki lurus dan satu bantal saja dikepala. Alhamdulillah, ini kemajuan menurutku.

Lalu mama menyuruhku membaca surat Yasin. Aku enggan, sangat enggan, dan entah mengapa aku malah memilih membaca surat Alkahfi. Aku sangat berharap papa sembuh. Bisa segera pulang dari Rumah Sakit ini. Tapi papa makin kepayahan.

 Tak selesai kubaca surat alkahfi, kuikuti saran mama. Aku baca surat Yasin. Papa lebih tenang dan makin tenang. Disitu aku baru yakin kenapa surat Yasin dianjurkan dibaca.

Jantungnya Alqur'an adalah Yasin. Seorang yang membacanya karena mengharap ridha Allah dan hari akhirat maka Allah akan mengampuni dosanya. Bacakanlah bagi orang yang mendekati maut. (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i dan yang lainnya)

Tak sanggup kuselesaikan membaca surat Yasin, aku menghambur naik ke tempat tidur papa. Kuusap kepala beliau. Talqin, "Laa ilaha illallah."Kalimat yang sungguh tak ingin kuucap sama sekali saat ini. 
Tak ingin, tapi kutalqin juga di telinga papa. Kulihat beliau mengikuti. Kuulang beberapa kali, lidah beliau naik turun bergerak. Berangsur, napas beliau mulai keluar satu persatu. Kutunggu sampai beliau pergi begitu tenang, dengan seulas senyum mengembang. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.  

Tanah Mati, 17 Juni 2020

No comments:

Post a comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...